
'Aku harap Kei tidak membiarkan nya tinggal di sini. Ku mohon Kei …' Jeremy memang tidak punya kuasa jika di depan Istrinya.
Karena Jeremy sadar, para wanita bisa lebih kejam dari hewan seganas kalau sudah emosi.
"Lalu kamu tinggal di mana selama ini?" tanya Kei pada Milya seolah menginterogasi.
Seketika Milya terdiam sejenak, dan berbicara, "Selama ini aku tinggal di rumah teman ku. Tapi semalam dia tidak tinggal di rumah nya lagi. Ayah nya menginginkan nya pulang dari tanah rantau dan menjual rumah tempat ku dan teman ku tinggal."
Yang banyakan alasan perempuan yang satu ini! tapi aku hanya hanya bisa berharap, Kei tidak semudah itu percaya. Jeremy terus saja menggerutu karena lama kelamaan Milya berbicara sesuka hati nya.
Mendadak Kei menyenggol lengan Jeremy. "Apa Mas mau dia tinggal di rumah kita atau dibuat di tempat lain saja?" tanya Kei berunding dengan berbisik.
"Di tempat lain saja." Jeremy senang karena Kei menanyakan keputusan nya.
Kei mengangguk atas jawaban itu dan mulai berkata, "Kamu dan suami ku, meski kalian punya anak yang mempersatukan kalian, aku rasa kamu juga harus tinggal di rumah lain. Karena gosipan orang akan beredar semakin tidak baik tentang kalian. Kami akan menyiapkan rumah untuk mu di tempat lain. Tapi letak nya tidak jauh dari rumah kami. Kalau ada apa-apa, bisa hubungi kami."
__ADS_1
Jeremy kira, Milya sudah hilang akal untuk bicara. Namun ia salah.
"Kalau rumah nya dekat dengan rumah kalian, apa kalian tidak tega membiarkan ku yang hamil ini sendirian tinggal di rumah itu? Setidak nya ada orang di rumah itu untuk membantu ku," kata Milya dengan memelas.
Kei menghela nafas. Dia menoleh pada suami nya, dia tidak berbicara namun bahasa tolehan kepala nya seolah berkata, "Apa yang harus kita lakukan untuk perempuan ini? Kamu yang sudah bersalah membawa nya masuk ke kehidupan kita. Jadi kamu selesaikan lah."
"Nanti ada satu pembantu di rumah itu yang menemani mu. Ya sudah, kamu akan pergi ke Mall untuk berbelanja. Kamu tinggal lah di sini dulu," jelas Jeremy pusing.
"Apa aku boleh ikut?" tanya perempuan gatal ini lagi.
"Aku juga perlu membeli baju untuk calon anak kita, Jemy," ucap Milya dengan suara manja yang seketika membuat Kei jijik.
"Sudahlah Mas, bawa saja dia ikut. Tapi masalah dia kamu aja yang urus ya, kepala ku sudah pusing ini. Ayo Ndre, kita ke mobil," ajak Kei.
"Iya, Bunda." Untuk kali ini Andre memperlihatkan kekesalan nya pada sang ayah yang benar-benar tidak puas pada satu wanita yaitu Bunda nya.
__ADS_1
Sesampainya di mobil, tampak Kei yang terus menarik hembuskan nafas. Ia berusaha menetral kan emosi nya yang sedari tadi tidak terlihat.
Kei memang sedang tertekan. Kedatangan wanita tak tahu diri bernama Milya itu, sungguh menguras tenaga nya.
Namun Kei tetap bisa berbicara sangat sopan pada wanita ulat bulu yang sangat mengganggu itu.
Ia berusaha tidak emosi atau pun menangis karena Milya. Ini semua dilakukannya demi janji nya pada Andre, anak lelaki nya itu tidak semakin membenci ayah nya, pria yang sudah menyumbangkan nya bibit supaya dia menjadi hidup seperti sekarang.
"Bund."
"Apa Ndre?" Kei menoleh pada Andre.
"Apa Bunda tidak kesal melihat ulat bulu itu? Kalau memang benar ayah tidak cukup dengan satu istri bahkan ingin menambah koleksi anak-anaknya, Bunda harus buat apa dengan pernikahan Ayah dan Bunda?"
Skakmat! Kei kehabisan kata-kata nya.
__ADS_1