Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
S2 bab 19


__ADS_3

Huh. Akhirnya dia pergi juga.


Aku lega meski setelah mengucapkan ucapannya itu ia pergi, akhirnya kesesakan ingin berjumpa dengan istri tercintaku akhirnya tunai juga.


Segera menuju telpon kantor. Menekan nomor pribadi istri tersayangku itu, meski tau bisa saja menggunakan ponsel pribadi, hanya saja rasanya kurang tepat karena Kei menghubungiku lewat telpon kantor bukan ponsel pribadi.


Cukup lama menunggu sehingga pada akhirnya diangkat. Rasanya jantungku akan cobot jika saja kurang semenit bertambah kalau Kei tidak menjawab panggilanku.


"Hallo…" suara dari gagang telpon kantor.


Tidak seperti Kei.


"I-iya, hallo. Ini siapa, ya? Sepertinya bukan Kei, istriku," aku terus terang.


Menunggu jawaban dalam kebingungan. Apa yang terjadi sebenarnya pada Kei jika saja benar seperti ucapan Sevia sebelumnya? Kei tergesa-gesa berbicara…


"Hey! Aku Kei lah. Istri tersayangmu."


Benar benar terkejut dengan suaranya. "Kamu benar Kei, Keina–"


"Iya. Ini Kei. Istri Jeremy, suamiku tersayang."


"Kenapa suaramu berubah?" kebingungan. Apa benar ini Kei? Jangan jangan bukan. Yang ada habis aku kena hajar oleh Kei kalau saja istriku itu tau aku berbicara dengan perempuan lain dan mengatakan kata cinta padanya.


"Apa benar ini Kei," tanyaku kurang percaya.

__ADS_1


"Apa kau tak percaya dengan istrimu sendiri, hm?" tanyanya, suara perempuan itu terdengar sebal.


"Apa buktinya?" aku menantang. Aku benar benar tak percaya, gimana tidak percaya dengannya? Suaranya saja berbeda.. Lebih berat seolah yang sedang berbicara denganku itu lelaki. Apa benar orang ini banci? Mencoba coba seperti Kei tapi kurang matang?


Ish, membayangkannya saja aku bergidik ngeri.


"Aku mual setelah kita sampai ke kampung Ibu."


"Lalu?"


"Kamu menggendongku tapi aku menolak, hampir saja jatuh," lanjutnya.


Cukup menyakinkan, batinku berbicara. Tapi ini kurang menyakinkan untuk dijadikan bukti. Bisa saja kan, orang itu melihat kami dan menirukan kata kata Kei?


"Berapa bayi yang kamu kandung sekarang?"


"Kamu harus jawab," tantangku tersenyum lebar.


"Apa kau tak percaya lagi dengan istrimu sendiri?! Atau memang kau lupa berapa anak yang tengah ku kandung sekarang!" dia terdengar kesal setengah mati.


***


Tidak. Kebodohanku membuat semuanya kacau. Aku menyesal karena itu.


Setelah berbicara dengan Kei yang pada akhirnya kecurigaannku membuat istri tersayangku itu justru kesal, yang ternyata dia hanya mengalami batik dan flu setelah kebanyakan tidur tanpa bergerak sama sekali.

__ADS_1


Apalagi ibunya yang tak ingin dia banyak bergerak mengingat medan di kampung ini cukup penuh jalan yang kurang baik takut Kei mengalami jatuh yang pada akhirnya membuat siapapun ikut cemas dengan keadaannya.


"Apa kau tak percaya lagi dengan istrimu sendiri?! Atau memang kau lupa berapa anak yang tengah ku kandung sekarang!" dia terdengar kesal setengah mati.


Ini seperti bukan Kei. Dan hey, Kei bukan perempuan pemarah selain menjukkan kekesalannya kan?


Tapi Kei sekarang sedang marah dan bisa saja orang lain mengatakan itu.


"Bicara padaku atau aku tidak akan kembali lagi kepadamu meski kau harus menangis darah! dan berlutut di kakiku!" ancamnya.


Seketika pikiranku lepas dari segala kesenangan yang ntah mengapa begitu gencar menggodaku untuk bahagia.


Apa benar ini Kei? Amarahnya seperti menusukku dalam. Orang lain tak mungkin kan melakukan ini jika dia hanya bercanda..


"Maafkan aku. Kamu memang benar, Kei. Aku hanya bercanda," alasanku. Akhirnya aku mengalah begitu saja.


Ah, bodoh. Aturannya aku tau kalau dia adalah Kei. Dia istriku dan seharusnya aku tau dia benar benar Kei.


Dari mana aku akhirnya percaya?


Selain kemarahannya, salah satu anakku berbicara kalau Kei adalah Bundanya. Tiada seorang pun anak yang memanggil orang lain bunda jika tau orang itu memang bukan Bundanya.


Aih, kemana otakku? Ada apa dengannya akhir akhir ini. Menyebalkan.


"Apa tampaku di sampingmu membuatmu menjadi lelaki menyebalkan seperti ini, Jeremy!!"

__ADS_1


Terdiam. Hanya itu yang bisa kulakukan. Sampai sekarang aku tak mengerti mengapa perempuan jika marah semuaaaaa dibahasnya sampai ke akar akar meski itu telah lalu dan segala peninggian suaranya sungguh membuat kepalaku pusing tujuh keliling.


"Atau kau punya perempuan lain sampai kau bahkan lupa anak di dalam kandunganku itu ada berapa?! Bukankah sudah kita cek bersama sama masa itu, hah!"


__ADS_2