
Kei berpikir sejenak. Mengapa kejadian kemarin sama dengan yang dijelaskan tadi? Ia bingung sendiri. Tidak habis pikir, kenapa kejadian semalam bisa terekam dan siapa orang jahat yang melakukannya sehingga sekarang booming bahkan kini disiarkan di media massa.
"Sudah sampai nyonya," seru supir.
Kei yang masih duduk termenung itu tidak menyangka telah sampai di taman kota.
Bibi Gin, Anna dan Alice sudah turun dan menatapnya. Sedang Andre masih betah duduk di pangkuannya dan tidak berani menyadarkan sang bunda karena takut Bundanya malah memarahinya karena Andre pikir kondisi Bundanya kini masih rentan akan amarah. Bayangan mengenai sikap Kei sangat menggangu pikiran Andre hingga Andre yang tetap menunjukkan wajah seolah tidak terjadi apapun itu sebenarnya merasakan takut yang begitu besar.
Kei mengangkat tubuh Andre dan tetap menggendongnya hingga turun taxi. Lepas membayar ongkos untuk lima orang itu, Kei menggandeng tangan Andre dan Alice di sebelah kiri dan kanan sedang BIbi menggandeng Anna.
Taman kota sangat dipenuhi warga yang berlibur setidaknya melepas penat setelah berminggu-minggu terfokus pada pekerjaan.
Kei memilih duduk di salah satu bangku yang di depannya ada air mancur. Bersama Andre dan Alice yang tetap tenang sedang Anna seolah mendapatkan banyak inspirasi sebab jujur ketiga anak-anak itu tidak pernah keluar rumah terlepas dari status anak haram yang mereka sandang dan hal itu sangat memberatkan.
"Rasanya gue kenal sama mereka," seru salah satu orang yang tidak disangka melihat Kei dan Andre dengan berbisik kepada teman di sampingnya.
"Hmh, iya kayaknya. Mukanya mirip…"
__ADS_1
"Ya, gue tau! Dia kan perempuan licik yang katanya udah mau dipecat itu!"
"Yang tetap dipertahankan sama CEO di sana ya!?"
"Iya!"
"Wih, enak banget dia ya! Udah licik, jadi orang ketiga dalam hubungan orangtua dan anak pula lagi itu! Kayaknya kita perlu kasih dia pelajaran deh!"
"Ya!"
Bermula satu orang. Dua orang… Sampai seisi taman yang sudah diracuni pikirannya itu mendatangi Kei dengan geram.
Satu tamparan terkena ke pipi Kei. Kei mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti kenapa ada banyak sekali orang tiba-tiba mendatanginya.
Menyentuh pipi yang terasa sangat panas dan sakit itu. Kei berdiri ditatap Andre dan Alice yang juga ingin tau kenapa bunda mereka diperlakukan seperti itu.
"Kenapa menampar saya! Apa salah saya!?" tanya Kei ingin tahu.
__ADS_1
"Perempuan penghianat!"
"Licik!"
"Penghancur hubungan orang!"
"Tau ngak semua, dia juga punya anak haram lho!"
-#(#:#-$!$;!*)#)@)@!
Dan banyak lagi.
Semua tuduhan tak masuk akal membuat Kei ingin berteriak seperti orang kesurupan saja. Tetapi dia sudah berkali-kali lebih kuat dari pada yang lalu. Kei berdiri kembali dari posisi yang semula terjatuh karena didorong beberapa orang di baris depan.
Kei ingin berkata. Namun Andre selaku putranya itu merentangkan tangan di depan bundanya menghentikan semua perkataan yang seperti makian jika dipikir-pikir.
"Jangan ganggu bundanya Andre! Semua bukan salah Bunda! Bunda itu orang baik! Andre yang jahat! Kalau mau marah jangan sama Bunda tapi sama Andre! Andre yang buat Bunda selalu dalam masalah dan marahilah Andre. Cepat!"
__ADS_1
Sejenak, keadaan begitu sunyi namun kemudian satu orang maju dan berkata, "Apa kekuatanmu anak kecil dibanding kami orang dewasa! Jangan sok-sokan, anak kecil!”
Bersambung…