
"Baiklah. Bunda setuju."
Ucapan itu seolah menjadi hadiah terbesar dalam hidup Jeremy dan ketiga anak-anaknya yang lain. Setelah banyak bercengkrama dengan bundanya, Anna, Alice dan Andre yang akhirnya mendapatkan finalnya itu bersorak sambil mengangkat tangan ke atas. Wajah bahagia seolah tak lepas dari wajah mereka berempat.
Namun Kei, tampak sedih, dan pasrah. Kei kira semua akan begini saja akhirnya. Ia yang telah disakiti banyak sekali, namun harus dengan lapang dada menerima pria itu mendapatkannya dengan mudah teramat sangat!
Tapi mau apa lagi, daripada semua menjauhinya dengan kediaman dan keanehan mereka, Kei tidak mau perlahan tidak dipedulikan semua orang terdekat yang pernah membantunya tersebut.
***
Hampir sejam ternyata dia dan ketiga anak-anaknya berada di rumah sewaan sementara Jeremy dan Sam. Kei datang sendiri, pulang membawa ketiga anaknya dimana salah satu digendong bagai anak balita sementara kini mereka sudah tujuh tahun usianya.
Di depan rumah Celica sudah tampak Gina dan Celica yang menatap mereka dengan bingung. Seolah berkata, kenapa kalian mendekati Bunda kalian?
"Kei? Anna, Alice Andre… Kalian darimana saja?" Gina basa-basi.
__ADS_1
"Nenek!" Andre lari dari jajaran gandeng tangan yang diberikan Kei padanya. Andre mendekati Gina dan memeluk lutut wanita tua itu.
"Ada apa ini? Apa ada berita baik?"
Kepala anak yang semula menempel di lutut Gina tersebut mengangguk sembari tersenyum. "Iya nek!" ucapnya girang.
"Apa itu?"
"Bunda… Mau menikah dengan ayah!" bisik anak itu dengan senyum yang tak henti-hentinya merekah dari sudut bibirnya.
"Kei," panggil Gina menatap Kei.
Kei segera berjalannya kepada ibunya itu lepas menurunkan Anna dan menitipkan salah satu piring kepada gadis kecil pertamanya itu.
Gina menggenggam tangan Kei yang berdiri setengah badan, kaki menekuk ke belakang.
__ADS_1
"Kamu sudah menerima Jeremy putriku sayang. Meski ibu tau hanya persetujuan semata. Tapi ingat ya Kei, ucapan tidak pernah main-main. Kamu tidak boleh menolaknya lagi meski itu untuk menolaknya kembali."
Kei mengangguk. Akhirnya, meski harus begini caranya, ia mendapatkan perhatian ibunya kembali. Celica di belakang tampak tersenyum kecil saat Kei melihat ke arahnya. Meski tak dipungkiri, wanita itu masih dilanda cinta tak pernah bersambung karena kondisi yang melepas Celica dengan Sam.
***
Hari bahagia tampak segera dimulai.
Sudah seminggu sejak masa itu, Kei dan Jeremy serta semua orang kecuali Celica dan keluarga kecilnya, mereka berangkat ke kota itu kembali. Kota yang menjadi alasan Kei pergi menjauh, tapi apa daya, tampaknya takdir membawanya kembali.
Kini mereka sudah sampai di rumah besar milik Merly--wanita egois yang benar saja, iasudah gila di rumah sakit jiwa karena Jeremy yang sudah mati dalam ingatannya.
Awalnya Kei takut. Tapi Jeremy segera menggenggam tangan bunda dari anak-anaknya itu dan berkata. "Mamaku sudah gila. Kalau kamu tidak percaya, kapan waktu kamu siap, aku akan membawamu ke sana." ucap Jeremy pada Kei untuk memenangkan wanita itu.
Kei mengangguk. "Kapan-kapan saja." walau jujur ia penasaran, tapi ia pikir hanya menertawakan wanita itu dan takutnya malah menyakiti Jeremy meski Merly sudah termat jahat padanya dan semua orang di sekitar.
__ADS_1