
Plak!
Jeremy memukul pipinya dan merasakan sakit. Sempat Jeremy tidak percaya dengan kelakuan Kei yang sekarang. Walau sebenarnya hati tidak berhenti merasa bahagia untuk kelakuan Kei yang mendadak sungguh mengejutkan seperti ini.
Jeremy menggenggam tangan Kei. "Aku hanya memastikan saja. Aku takut kalau kamu hanya bercanda dan aku serius, kamu justru marah," diakhiri kekehan. Meskipun begitu, Jeremy masih ingat perkataan Kei pada masa itu, jangan buat aku hamil.
"Kamu memastikan, aku yang kesal," Kei luluh sendiri.
Jeremy tersenyum penuh arti. "Apa boleh meminta hakku sekarang?" pintanya.
"Bukankah sedaritadi aku katakan, kamu boleh!"
Mendapat lampu hijau seperti itu, Jeremy mulai mencium mesra Kei sambil melucuti pakaiannya.
"Kamu sangat ahli," ucap Kei dengan suara parau tetap menunjukkan senyum setelah Jeremy melepas ciumannya.
"Memang aku ahlinya," jawab Jeremy sambil membawa istrinya dan membaringkan wanita itu perlahan dan sangat lembut.
Jeremy mulai menunjukkan siapa dia yang sesungguhnya. Lelaki liar yang begitu menggoda, hanya saja Kei tidak pernah melihat sisi ini. Ia tertutup dendam besar akan Jeremy, namun kini mencoba membuka diri pada lelaki yang menjadi suaminya itu.
__ADS_1
"Boleh?"
Masih saja bertanya … ungkap kesal Kei dalam hati. Naffsu sudah diubun-ubun, Jeremy yang sedaritadi mencumbunya itu mendadak bertanya sambil menunjuk bukit kembar milik Kei.
"Hari ini aku milikmu, suamiku…"
Jeremy tersenyum kemudian melanjutkan aksinya. Menyentuh setiap senti tubuh Kei dengan liar dan berhasil membuat bulu kuduk Kei merinding.
Area sensitif yang hanya disentuh seorang pria dewasa sekali seumur hidupnya itu kembali disentuh oleh pria yang sama.
******* begitu tak terelakkan lagi, Kei benar-benar menerima sentuhan lembut Jeremy yang memabukkan.
Kei menggenggam seprai dengan kesal. "Aku milikmu! Harus aku katakan apa lagi, Jeremy! Puaskan aku!"
"Sesuai permintaanmu, tuan putri."
Satu malam dihabiskan sepasang suami istri ini dengan penuh nafsu.
Diakhiri Kei dan Jeremy yang berbaring dengan napas terengah-engah.
__ADS_1
"Kamu begitu hebat," ucap Kei terang-terangan sembari memposisikan tubuhnya memandang Jeremy.
"Terima kasih," jawab Jeremy.
"Apa … Aku yang pertama?"
"Maksudnya?" tanya Jeremy bingung.
"Iya, bagiku, kamu adalah yang pertama, sedang bagimu? Apa begitu juga?"
Jeremy tidak mungkin menjawab kenyataan sesungguhnya. Karena orang pertama yang menjadi teman tidur pria itu adalah orang istimewa dalam ingatan Jeremy seumur hidupnya. Kei juga orang istimewa, namun wanita itu berada dalam angka jauh lebih dari istrinya.
"Kamu yang pertama bagiku. Iya kamu yang pertama," Jeremy mencoba menyakinkan wanitanya itu.
"Benarkah?"
"Iya. Kamu yang pertama. Aku mencintaimu, sayangku. Aku harap kamu tidak pergi dariku seperti dahulu," harap Jeremy sambil menggapai wajah Kei dan mendekatkannya dekat sekali degan kepala Jeremy.
"Untuk apa aku meninggalkanmu, Suamiku? Aku istrimu, akan berusaha menjadi istri setia untuk suaminya. Aku sudah memberikan segalanya untukmu, aku lega bahwa sama sepertiku, kamu juga melakukannya pertama kali denganku. Harusnya aku yang berkata begitu, jangan tinggalkan aku, suamiku. Aku akan mencoba mencintaimu dengan hati dan jiwaku. Jangan kamu sakiti aku lagi ya, karena kesempatan kedua sudah kuberikan padamu," ucap Kei.
__ADS_1
"Iya. Aku tidak akan meninggalkanmu. Ada tiga anak kita yang menjadi tanggungjawab, aku akan menjadi pria terbodoh seAntero dunia ini jika meninggalkan empat orang yang mencintaiku melebihi segala yang mereka miliki. Aku mencintai kalian." Jeremy mengecup kening Kei dan memeluk wanitanya itu dengan erat.