Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Tertegun


__ADS_3

Hari sudah sore.


Sebuah rumah besar berlantai dua dengan segala kemewahannya dihias indah ala anak TK yang tengah berulang tahun.


Banyak orang datang memasuki rumah itu. Semua seolah berbondong-bondong untuk menghadiri acara seorang anak yang berasal dari keluarga kaya raya itu.


Di parkiran.


Vivi bersama baby Bia yang digendong Celica keluar dari dalam mobil.


Diikuti Jerry, Karla, Harry, Nia, Naara dan Neta anak-anak Celica serta Vivi secara beruntun tiga orang tiga orang… Mereka turun dari mobil.


Vivi segera menghadap ketiga anak-anaknya. "Then, you guys don't do anything to embarrass us, okay?" [Nanti, kalian jangan berbuat apapun yang membuat kita malu, oke?]

__ADS_1


"Yes, Mom," jawab ketiga anak-anak Vivi dengan seretak sembari tersenyum manis.


Vivi tau anak-anaknya sama sekali tidak nakal. Tetapi mengingatkan mereka mungkin bukanlah hal yang salah.


Anak-anak Vivi masih kecil dan Vivi sadar jika anak-anaknya selalu menghabiskan waktu di rumah dan di dalam rumah seolah tanpa lelah dan bosan sama sekali.


Tiada yang tau hal yang akan terjadi pada beberapa detik kemudian.


Mereka bersembilan masuk ke dalam rumah yang begitu megah seperti istana mini versi rumah modern masa sekarang.


Vivi benar-benar kagum, tetapi tidak memperlihatkannya secara terang-terangan.


Celica di samping Vivi segera menggoda wanita itu dengan suara nada berbisiknya. "You must be amazed, aren't you by the majesty of this house? Introduce, this is my friend's house, the Tian. If I introduce a potential mate, it's not at all original. I am picky and precise. He's a person."

__ADS_1


[Kamu pasti kagum bukan dengan megahnya rumah ini? Perkenalkan, ini rumah temanku si Tian itu. Aku kalau mengenalkan calon jodoh sama sekali tidak asal. Aku pilih-pilih yang tepat dan akurat. Dia orang kaya, loh. Kamu bakal hidup super enak tinggal ongkang-ongkang kaki sementara jatah gaji bulanan selalu datang menghampiri. Uh, lama-lama aku iri!]


Vivi menatap Celica aneh. "Yes, if you are jealous, just marry your friend Tian. Aren't there quite a number of friends who are partners?" [Yah sudah, kalau kamu iri, menikah saja dengan Tian temanmu itu. Bukannya ada cukup banyak teman yang menjadi pasangan?]


Celica segera menyenggol tangan Vivi, "Ah, you're just weird." [Ah, kamu aneh-aneh saja] ucapnya tak terima.


"You're wrong yourself. I just wanted to take my three kids out. I don't promise to be interested in–" [Kamu salah sendiri. Aku hanya ingin membawa ketiga anak-anakku keluar. Aku tidak janji akan tertarik pada–] ucapan Kei sontak terhenti. Celica menatapnya dalam bingung.


"Ha! Kamu… Kamu tertarik kan! Hahah, aku sudah mampu menebak!" Celica langsung heboh sendiri. Beruntung keadaan riuh menenggelamkan setiap ucapan Celica.


Celica tahu apa yang dipandang Vivi. Tian.. Pria yang berdiri di depan semua orang, bersama anaknya yang digandeng. Senyuman pria itu mencolok, matanya sama seperti bibirnya yang berbentuk pelangi terbalik sama-sama menunjukkan kebahagiaan.


"L-Leo?" gumam wanita itu terkejut, bukan main.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2