
Sedang Kei.
Wanita itu sudah merasa baikan dengan keadaannya yang sekarang.
Suara riuh keributan warga tidak ada lagi disekelilingnya. Kei bahagia dan puas dengan pilihannya pindah dari kota penuh kegelapan dan kekelaman menyelimutinya.
Benar kata Celica.
Warga sekitar tidaklah segila dan se-sensitif warga sekitar di kotanya.
Tidak peduli latar belakang, yang penting akur. Kei sungguh mendambakan suasana seperti ini. Sangat tenang, aman dan damai.
Pagi hari.
Kei dan seluruh keluarganya, triple, bibi dan keluarga Celica makan bersama.
Keheningan akan suara manusia sungguh menyelimuti keadaan. Hanya suara sendok dan mulut yang mengunyah terdengar.
Keluarga Celica sangatlah ramah kepada Kei. Anak-anak Kei berteman langsung akrab dengan anak-anak Celica.
Sehingga tidak jarang mereka saling bertukar hobi dan menimbulkan canda tawa satu sama lain.
Sedang Celica dan Kei lebih keseringan curhat sembari mengurus Bia–anak bungsu Celica yang masih berusia tiga bulan.
Suami Celica juga ramah dengan Kei, dan tentunya semua perkataan sedikit melencengkan itu sama sekali tidak benar tentang Rafel–suami Kei tersebut.
Suami Celica suka bercanda dengan semua orang, berhasil membuat keadaan begitu hangat karena uap yang keluar dari mulut setiap orang yang merasa bahagia dengan candaan Rafel –suami Celica tersebut.
"Sesuatu-sesuatu apa yang paling sensitif oleh Bunda-bunda +62!" ucap Rafel kala suatu kali dia melakukan kuis untuk hiburan setelah beberapa waktu Kei dan ketiga anak-anaknya baru sampai ke tempat itu.
"Pekerjaan?"
__ADS_1
"Anak?"
"Suami selingkuh?"
Dan ucapan yang diberikan Farel. "Semuanya salah!"
Kei pada saat itu menatap Celica dengan bingung. Seolah wanita itu berkata, apa yang dimaksud oleh suamimu itu, Celica.
"Nilai raport merah anak!" Farel tertawa namun semua terdiam sama sekali tidak mengerti.
"Bukannya tadi aku bilang Anak, ya Suamiku…" tanya Celica dengan mata tajam yang dimilikinya.
"Kan belum sempurna," jawab Farel dengan entengnya.
"Bukannya sama saja?"
"Belum sempurna sudah dibilang!"
"Uh, kamu benar-benar mirip seperti bunda-bunda rakyat di sana!" teriak Farel ketika Celica melesatkan toyoran kepada bahu Farel.
"Gimana tidak! Aku akan keturunannya! Uh, memang kamu laki-laki paling menyebalkan! Ketahuan sekali kalau tau istrinya yang dapat menang malah diganti jawabannya!" ucap kesal Celica segera pergi dari hadapan sang Suami.
Di sisi yang terus menatap pertengkaran dimana pada penglihatannya itu adalah suatu hal paling romantis, tersenyum sangat lebar dengan pikiran enak ya kalau punya pasangan menyenangkan yang bisa diajak bertengkar heboh seperti ini.
Tapi sayang.
Kei hanya mampu berharap akan kenyataan baik yang kemungkinan tidak akan pernah menghampirinya itu.
"Kamu kamu kenapa Vi?" tanya Celica ketika selesai menoyor habis-habisan sang suami.
"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa." Kei yang sudah diberi nama Vivian itu segera menjawab dengan memggeleng tersenyum pahit.
__ADS_1
"Oh, oke. Gimana kalau setelah aku mandi kita jalan-jalan?" Celica mengusulkan. Sementara sedaritadi ia sudah sadar kalau Vivian alias Kei itu memperhatikannya dan ia teramat bersalah dengan Vivian yang lagi-lagi merasakan sedih mendalam terlihat dari raut wajahmya.
"Oke."
**
Sudah sejam lewat Vivian menunggu Celica. Sembari itu, ia juga ikut berkemas dengan dirinya sendiri. Karena anak-anak Kei tidak dibawa begitu juga dengan anak-anak Celica yang sudah lebih besar.
"Sudah siap Cel?" tanya Vivi menatap kedatangan Celica dari dalam kamarnya. Celica membawa Bia-bayi Celica yang masih bayi itu.
"Oh, sudah," tampak, Celica kesusahan membawa semua perlengkapan Bia dan juga menggendong bayi itu.
"Sini aku bawa saja," saran Vivi mengambil perlengkapan milik Bia itu.
"Makasih," ucap Celica menyodorkan tas berisi sedikit pakaian ganti Bia yang kemungkinan akan kencing atau BAB.
"Sama-sama. Oh, ya kita akan pergi naik apa?"
"Ya… Naik mobil lah. Suamiku yang menyebalkan itu ada tugas sepertinya. Biasa, kalau urusan istri selalu saja ada tugas," Celica merotasikan bola matanya kesal.
Dijawab senyuman kecil oleh Vivi. "Ipar Farel juga perlu bekerja untuk kasih kita makan."
"Iya, tapi buat kesal tau! Giliran waktu kosong, aku tidak kemana-mana dianya punya waktu super senggangnya minta ampun! Tapi setelah aku mau kemana, dianya langsung cari kesibukan. Kerjalah, apalah… Nampak tak ikhlas gitu.."
Vivi hanya mempertahankan senyuman paksanya. Ia tidak tahu mau jawab apa untuk ucapan Celica. Karena Vivi alias Kei tidak pernah merasakan bagaimana memiliki suami.. Bahkan semua sifat-sifat kebanyakan lelaki tidak pernah dilihatnya. Maka ia hanya mampu menyelidik saja setiap melihat sifat kakak iparnya si Farel itu.
"Sudahlah, lelah aku pikirkan dia. Yang penting tidak cari wanita lain, sah-sah saja mau keluar tanpa menemaniku," ucap Celica pasrah.
Langsung ditanyakan Kei dalam hati, “Apa begitu rasanya punya suami?” ia sedikit bingung dengan semua keluhan Celica.
Bersambung…
__ADS_1