Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Persiapan Kei


__ADS_3

"Anak-anak Bunda. Kalian rapikanlah semua


barang-barang kalian."


"Untuk apa bunda?" tanya salah semua


anak-anak Kei secara bersamaan.


Tampaknya hingga kini Anna, Alice dan Andre


tidak juga mengerti semua maksud dari Kei


untuk segera membuat mereka pindah atas


bujukan Celica yang akhirnya mengatakan ya untuk


semua ucapan berbentuk realita yang benar-benar memukul hati Kei untuk segera pindah saja dari tempat


itu.


"Kita akan pergi dari sini."


Ketiganya diam sejenak. "Baiklah bunda," ucap mereka akhirnya tersenyum kecil.


Kei dan ketiga anak-anaknya segera merapikan


semua barang-barangnya yang bisa dibawa. Karena Kei juga tentu tidak akan bisa bergerak apalagi


jika membawa semua barang-barang seperti


kasur atau makanan sekulkas.


Sejam kemudian, sedikit pakaian sudah


dipindahkan dari lemari pakaian.


"Semua pakaian ini sudah merupakan pakaian


kesukaan kalian?"


"Apapun yang bunda berikan, Anna dan saudara


Anna terus terima kok bunda. Kami sayang bunda. Tidak akan pernah tinggalkan bunda sendirian


bahkan dalam keadaan apapun." Anna seorang

__ADS_1


yang menjawab.


Berhasil membuat Kei tersenyum kecil dan memeluk


tubuh Anna, Alice dan Andre secara bersamaan


dengan sebuah pelukan cukup hangat untuk


keadaan mereka berempat yang terbilang miris


sekali.


"Terima kasih putra dan putri bunda." ucap lirih Kei


terharu.


"Iya bunda. Kami sayang bunda. Bunda tidak boleh menangis, ya? Bunda, bundanya kami. Tidak boleh menangis karena menangis itu membuat bunda jadi


jelek." Alice mengusap air mata Kei setelah melepas pelukan mereka.


"Bunda juga sayang sama kalian. Kalian harta bunda


yang paling berharga, anak-putri bunda…"


Di sisi lain.


Hari sudah malam.


Ketika Jeremy kembali tidur di atas ranjang dengan


kondisi ntah mengapa ada sedikit rasa aneh seolah


kehilangan sesuatu.


Ia kebingungan.


Pasalnya setelah meneliti semuanya Jeremy tidak


melihat satu kejanggalan apapun seperti


kehilangan sesuatu sesuai


perasaan anehnya itu.


Sedaritadi, pria itu terus berusaha berganti posisi

__ADS_1


tidur. Terkadang ke samping, terkadang posisi menatap


langit, juga terkadang tengkurap.


Tetapi bayangan mengenai sesuatu berbentuk siluet


beberapa orang yang semakin lama semakin menjauh


dari jarak pandang matanya. Yang


tanpa mengatakan apapun ntah mengapa membuat hatinya semakin gusar kala terus memikirkan itu.


"Argh! Ini bayangan apa sih!" Jeremy terbangun dari posisi tidurnya dan mengacak rambutnya asal.


Sungguh. Bayangan tadi sama sekali tidak masuk diakalnya.


Kreeet.


Pintu kamar rumah Mamanya yang sudah mengurungnya selama kurang dari dua hari ini terbuka, memperlihatkan


seorang wanita tersenyum manis saat dilihatnya tengah membawa nampan berisi teh jahe berdiri di atasnya.


"Minum dulu ini nak. Mama rasa kamu tengah memikirkan sesuatu," ucap Merly seperti cenayang yang


memprediksi perasaan orang.


Jeremy menatap Mamanya dengan pandangan


curiga. Tetapi laki-laki itu sama sekali tidak berkata


apapun pada sang Mama.


"Mama masih waras nak. Mama tidak mungkin memberikan teh jahe yang isinya racun pada anak


mama yang paling Mama sayangi di dunia ini."


Jeremy tidak merespon. Namun segera menyambar teh jahe yang begitu membuatnya segera merasa baikan..


"Terima kasih Ma," ucap Jeremy sembari meletakkan cangkir di atas mampan.


Mamanya lagi-lagi tersenyum manis kepada sang putra dan mendekatkan bibirnya ke kening Jeremy yang masih duduk di pinggir ranjangnya itu.


Muach.


"Tidur yang nyenyak sayang," ucap Mamanya kepada Jeremy sembari menepuk bahu sang anak.

__ADS_1


__ADS_2