
"Anak-anak Bunda. Kalian rapikanlah semua
barang-barang kalian."
"Untuk apa bunda?" tanya salah semua
anak-anak Kei secara bersamaan.
Tampaknya hingga kini Anna, Alice dan Andre
tidak juga mengerti semua maksud dari Kei
untuk segera membuat mereka pindah atas
bujukan Celica yang akhirnya mengatakan ya untuk
semua ucapan berbentuk realita yang benar-benar memukul hati Kei untuk segera pindah saja dari tempat
itu.
"Kita akan pergi dari sini."
Ketiganya diam sejenak. "Baiklah bunda," ucap mereka akhirnya tersenyum kecil.
Kei dan ketiga anak-anaknya segera merapikan
semua barang-barangnya yang bisa dibawa. Karena Kei juga tentu tidak akan bisa bergerak apalagi
jika membawa semua barang-barang seperti
kasur atau makanan sekulkas.
Sejam kemudian, sedikit pakaian sudah
dipindahkan dari lemari pakaian.
"Semua pakaian ini sudah merupakan pakaian
kesukaan kalian?"
"Apapun yang bunda berikan, Anna dan saudara
Anna terus terima kok bunda. Kami sayang bunda. Tidak akan pernah tinggalkan bunda sendirian
bahkan dalam keadaan apapun." Anna seorang
__ADS_1
yang menjawab.
Berhasil membuat Kei tersenyum kecil dan memeluk
tubuh Anna, Alice dan Andre secara bersamaan
dengan sebuah pelukan cukup hangat untuk
keadaan mereka berempat yang terbilang miris
sekali.
"Terima kasih putra dan putri bunda." ucap lirih Kei
terharu.
"Iya bunda. Kami sayang bunda. Bunda tidak boleh menangis, ya? Bunda, bundanya kami. Tidak boleh menangis karena menangis itu membuat bunda jadi
jelek." Alice mengusap air mata Kei setelah melepas pelukan mereka.
"Bunda juga sayang sama kalian. Kalian harta bunda
yang paling berharga, anak-putri bunda…"
Di sisi lain.
Hari sudah malam.
Ketika Jeremy kembali tidur di atas ranjang dengan
kondisi ntah mengapa ada sedikit rasa aneh seolah
kehilangan sesuatu.
Ia kebingungan.
Pasalnya setelah meneliti semuanya Jeremy tidak
melihat satu kejanggalan apapun seperti
kehilangan sesuatu sesuai
perasaan anehnya itu.
Sedaritadi, pria itu terus berusaha berganti posisi
__ADS_1
tidur. Terkadang ke samping, terkadang posisi menatap
langit, juga terkadang tengkurap.
Tetapi bayangan mengenai sesuatu berbentuk siluet
beberapa orang yang semakin lama semakin menjauh
dari jarak pandang matanya. Yang
tanpa mengatakan apapun ntah mengapa membuat hatinya semakin gusar kala terus memikirkan itu.
"Argh! Ini bayangan apa sih!" Jeremy terbangun dari posisi tidurnya dan mengacak rambutnya asal.
Sungguh. Bayangan tadi sama sekali tidak masuk diakalnya.
Kreeet.
Pintu kamar rumah Mamanya yang sudah mengurungnya selama kurang dari dua hari ini terbuka, memperlihatkan
seorang wanita tersenyum manis saat dilihatnya tengah membawa nampan berisi teh jahe berdiri di atasnya.
"Minum dulu ini nak. Mama rasa kamu tengah memikirkan sesuatu," ucap Merly seperti cenayang yang
memprediksi perasaan orang.
Jeremy menatap Mamanya dengan pandangan
curiga. Tetapi laki-laki itu sama sekali tidak berkata
apapun pada sang Mama.
"Mama masih waras nak. Mama tidak mungkin memberikan teh jahe yang isinya racun pada anak
mama yang paling Mama sayangi di dunia ini."
Jeremy tidak merespon. Namun segera menyambar teh jahe yang begitu membuatnya segera merasa baikan..
"Terima kasih Ma," ucap Jeremy sembari meletakkan cangkir di atas mampan.
Mamanya lagi-lagi tersenyum manis kepada sang putra dan mendekatkan bibirnya ke kening Jeremy yang masih duduk di pinggir ranjangnya itu.
Muach.
"Tidur yang nyenyak sayang," ucap Mamanya kepada Jeremy sembari menepuk bahu sang anak.
__ADS_1