Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
S2 Bab 4: Benar Benar Beruntung


__ADS_3

"Ini pakaian," jawab Jeremy. Kei kenapa aneh gini pertanyaannya? Pria itu bergumam bingung.


"Untukku?" tanya Kei seperti orang tidak mengerti apapun.


Jeremy mengangguk. "Iya. Lebih tepatnya, hadiah untukmu," Jeremy tersenyum lebar diakhir kalimatnya. Hatinya berbunga-bunga, bayangan mengenai Kei yang setidaknya berterimakasih padanya seolah mengitar di sekitarnya.


"O-owh." wanita itu mengangguk. "Baiklah, aku akan pakai." Wanita itu berbalik dan melihat kotak besar yang ada di tangannya itu.


Jeremy menatap punggung Kei. Dia tidak berucap apapun padaku. Ia bersedih. Tapi tidak apa. Pria berlapang dada. Yang penting dia menerima hadiahku. Lelaki itu berangsur tersenyum pada kecil tetap menatap punggung Kei.


Kei tampaknya akan mengganti pakaian. Jeremy takut keberadaannya di belakang Kei, akan membuat wanita ini terganggu akhirnya semakin membencinya.


Jeremy memasuki kamar dan mandi dengan air yang muncul dari dalam lubang shower di atas kepalanya. Kepala yang sedari tadi menyimpan banyak cukup banyak pertanyaan dan penetapan bahwa yang dihadapinya ini adalah sebuah kemalangan mutlak segera bersedih meski selain itu tiada yang bisa dilakukan.


Kini sudah tepat pukul enam pagi. Sepasang suami istri itu berjalan keluar dari dalam kamar.

__ADS_1


Gina, Anna Alice dan Andre di dapur tampak sedang masak saling bekerja sama. Mereka begitu serius dengan pekerjaan masing-masing hingga tidak melihat Jeremy dan Kei yang datang.


"Apa kalian begitu serius sampai tidak melihat Ibu dan Ayah datang?" Kei basa-basi. Ia menunjukkan senyum manis. Suatu hal yang tidak ditunjukkan wanita itu pada suaminya sendiri semalaman suntuk.


Ketiga putri putra mereka menatap. Mereka terkejut. "Bunda?" tanya mereka sambil tersenyum.


"Pagi bunda. Ayah." Alice mendekati Jeremy dan Kei serta mencium tangan sepasang suami istri itu.


"Pagi juga sayang." Kei tersenyum manis. Bersamaan dengan Jeremy yang mengelus rambut panjang putri keduanya itu.


"Kalian sudah datang? Ibu tidak melihat kalian loh, serius," Gina tampak terkejut dan segera mendatangi Kei dan Jeremy dengan kursi roda yang digunakannya. Dimana itu telah didorong oleh Anna.


"Tidak. Tidak terlalu. Hanya saja … Kalian hm, apa tidak melakukan itu. Bukankah biasanya pengantin baru tetap bertahan di kamar? Kalian tidak–"


"Kami iya, Ibu mertua," Jeremy menjawab dengan tenang. Hal itu membuat Kei menatap pria itu sekilas. Tatapan sekilas Kei berhasil dilihat Jeremy walau hanya tampak siluetnuya saja.

__ADS_1


"Kei hanya bilang mungkin anak-anak merindukan. Maka kemari secepatnya lebih baik," lanjut Jeremy.


Gina mengangguk. "Owh. Begitu," ia paham.


Kei mundur dari samping Jeremy, bergabung dengan ketiga anak-anaknya yang membantu neneknya tersebut.


"Apa Bunda bisa membantu kalian?" tanyanya basa-basi kepada Anna dan Alice yang tengah memotong daun bawang dan tomat itu.


Anna dan Alice menoleh kemudian menggeleng. "Tidak perlu Bunda. Kami bisa mengerjakannya. Nenek mengajari Kami caranya tadi," tolak Anna lembut.


"Semangat memotongnya ya," Kei tersenyum menyemangati.


Andre hanya bertugas mengantar bahan masakan yang belum di masak itu. Sehingga Kei pikir ia tidak memiliki pekerjaan di dapur ini..


Namun ketika melihat Jeremy dan Ibunya sedang berbincang, Kei pikir ia bisa memasak bahan masakan yang dipotong Anna dan Alice.

__ADS_1


Perlu tiga puluh menit waktu digunakan untuk memasak bersama. Kini masakan sudah siap. Hanya berupa ikan yang disambal dan sayur bayam yang direbus. Tapi Kei sungguh terlatih seperti biasanya. Membuat rasa masakan sangat enak diterima oleh mulut Jeremy.


Aku benar-benar beruntung mendapatkannya!


__ADS_2