
Lepas hari itu sudah banyak hal baik terjadi pada hubungan pernikahan Kei dan Jeremy. Kei lebih perhatian pada Jeremy, sehingga Jeremy tidak selalu ada merasa kalau alasan Kei diam terus terhadapnya karena Jeremy ada kesalahan pada istrinya ini.
Seperti sekarang dan hari lalu mereka hadapi, Kei dan Jeremy yang lebih suka mengurung diri di dalam kamar berduaan. Jika saja tidak ingat pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan Jeremy untuk menghidupi keluarganya dan membuat Kei bahagia dengan semua uangnya, Jeremy akan dengan senang hati menghabiskan waktu untuk dirinya dan Kei.
"Apa harus?" tanya Kei tampak begitu sedih akan perkataan Jeremy yang akan pergi ke luar kota hanya membawa diri dan sekertarisnya–Sevia tanpa Kei yang tidak punya alasan kuat untuk ikut bersama suaminya itu.
Jeremy menggenggam tangan Kei. Ia berkata dengan suara berat. "Sebenarnya aku juga tidak tega meninggalkanmu. Tapi, ini harus. Ada rapat penting. Dan kami akan pulang dua hari kemudian."
Kei menggeleng, diiringi isak tangisnya yang semakin pilu terdengar. "Apakah aku boleh ikut?"
"Maaf, tapi sayangnya tidak bisa, honey," Jeremy mengelus pipi Kei sangat lembut.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena kamu tidak punya alasan lain untuk hadir di sana," ucap Jeremy.
"Aku ada alasan!"
Atas penegasan kata oleh Kei, Jeremy mengerutkan kening, ia tampak bingung.
"Bukankah kamu bisa mengutus wakil direktur Sam untuk menghadiri rapat itu? Biarkan aku bersamamu lagi," lanjut ucap Kei.
"Maaf, tapi aku tidak bisa," Jeremy bangkit dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membersikan sisa-sisa percintaan panas mereka semalam.
__ADS_1
Kei di ranjang, menangis tersedu-sedu. Ia tidak ingin Jeremy ke sana. Meski terdengar seperti istri yang suka mengekang suaminya, tapi Kei merasa akan ada sesuatu aneh, seperti firasat yang mengatakan jika Jeremy pergi, ia tidak akan pernah kembali lagi, maka Kei mencoba semaksimal mungkin untuk melarang Jeremy pergi darinya.
***
Jeremy keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat kesana kemari. "Tidak ada Kei," begitu gumamnya.
Kemudian ia melirik ke arah jam. "Pukul 07.34. Satu setengah jam lagi keberangkatan." karena Jeremy dan Kei seperti biasanya melakukan hubungan suami istri yang sungguh memabukkan, Jeremy tidak bisa menolak setiap ajakan Kei untuk melakukannya. Seolah tiada penat dikala habis melakukannya, waktu pun dilupakan.
"K-Kei?" mata Jeremy membulat lebar, sungguh lebar! Dikala ia melihat tubuh Kei terbaring bersimbah darah di sudut ranjang.
Ada apa dengan Kei!? Jeremy segera menghampiri Kei dan menepuk-nepuk pipinya yang juga seperti terkena luka sayatan.
__ADS_1
"Kei! Kenapa denganmu? Aku hanya meninggalkanmu sebentar, tapi kau sudah begini. Maafkan aku, jangan seperti ini. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Jeremy terus meracau. Ia begitu terpukul dengan keadaan Kei yang begitu memilukan seperti ini. Jeremy mencoba melihat dengan jelas, apakah benar atau tidaknya keadaan Kei yang sekarang. Aroma darah yang begitu menyengat …