
Di rumah Merly.
Setelah berusaha menenangkan Jeremy, Merly berlari keluar dari dalam kamar segera menyambar telepon rumah yang kebetulan berada tak jauh dari kamar Jeremy dengan raut wajah khawatir yang semakin menjadi.
Dia tekan beberapa angka, dan menunggu jawaban dari orang yang dihubunginya.
"Hallo, dengan rumah sakit bintang harapan. Saya dokter Hans di sini," ucap seorang terdengar ramah menyapa.
Merly menggenggam erat telepon dan terus meneguk saliva dengan pacuan nafas yang seperti baru saja dikejar sesuatu mengerikan.
"Halo…" orang disebrang sana tampak mengerutkan kening. Pria yang memiliki waktu senggang untuk sementara itu mengerutkan kening, merasa bingung dengan pemanggil yang sama sekali tidak menjawab seruannya.
"O-owh. D-dokter…" menarik hembuskan napas lagi. Suara Merly tercekal dan pandangannya segera menatap ke arah pintu kamar Jeremy dimana suara riuh barang terdengar ribut, kacau tak terelakkan.
"Nyonya? Ada ap–"
"D-dokter… T-tolong datang ke rumah saya. Anda kenal kan dengan perumahan Golden Y nomor 76?"
__ADS_1
"Iya. Saya kenal," saut Dokter tersebut semakin bingung. Suara riuh keributan juga sampai terekam oleh telinganya.
"A-anak saya sakit. Sepertinya mentalnya terganggu. D-dokter bisa datang kemari k-kan?"
"Tentu. Saya bisa. Baik, saya akan datang sebentar lagi."
"C-chepat ya dok. Anak saya gawat sekarang."
"Sesegera mungkin."
Merly dengan tubuh yang sudah mulai melemahnya itu kembali berlari memasuki kamar Jeremy yang sudah kacau mendadak itu.
Merly menghentikan tangan Jeremy yang hendak melempar meja kecil yang letak semulanya berada di samping ranjang.
"J-jangan begini, nak!" cegah Merly sembari menggeleng. Dia bukan sayang pada meja itu. Tapi anaknya yang semakin menjadi gila seiring berjalannya waktu.
"Jauh dari tubuhku! Jangan sentuh aku! Semua karenamu! Aku tak sudi melihatmu, sana pergiii!" Jeremy mendorong kuat tubuh Merly hingga kembali terjatuh.
__ADS_1
"Arrrghhhh!" Jeremy berteriak cukup keras memekakkan telinga.
Merly melihat anaknya tak sanggup melihat semua barang-barang yang dilemparkan kepadanya. Ya, Jeremy mencampakkan benda kecil yang bisa saja meremukkan tubuh Merly seketika beruntung Merly bisa menghindar dengan mengesot. Ia menangis keras, "Naaak, sadar nak. Jangan begini!!!" teriak Merly dengan kedua tangannya yang terus diangkat dan kepalanya yang terus menggeleng kuat.
Jeremy sama sekali tidak mengurbisnya. Terus melempar barang apa saja yang ada di dekatnya sebab manusia yang dipanggilnya selalu sebagai Mama itu sudah seperti monster yang patut dihancurkan dan dimusnahkan.
"Keiiii!!!" teriak Jeremy setiap kali mencampakkan barang di tangannya. "Semua karena kau… Kau harus hancur manusia laknat!!"
"Hiks, hiks, hiks. J-jangan seperti ini nak. Jangan…" Merly mencoba menghentikan kelakuan Jeremy dengan mengesot dan akhirnya menyentuh salah satu kaki Jeremy. "L-lhupakan wanita itu. Dia bukan wanita yang baik untukmu!"
Jeremy semakin marah dengan ungkapan Merly. Jeremy menatap Merly tajam. Menujuknya sembari menendang kakinya sendiri supaya Merly melepaskan pegangannya atas kaki Jeremy.
"Kau yang bukan wanita baik! Aku membencimu, wanita busuk! Enyahlah kauuuu!" Jeremy hendak melemparkan remahan kaca ke kepala Merly.
Segera seorang menghentikannya dan mencampakkan benda itu menjauh walau tangannya terluka seperti tangan Jeremy yang seperti sudah kebal akan rasa sakit itu. Sebab rasa sakit dikala Kei diketahui sudah meninggalkannya ratusan lebih sakit daripada remahan kaca yang menusuk tajam kulitnya.
"Kakak!! Bisa tidak jangan gila seperti ini!"
__ADS_1