Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Mimpi


__ADS_3

"Vivi…"


Awalnya Vivi merasa sangat terkejut kala melihat orang tersebut. Namun seketika Vivi kembali menenangkan dirinya. Ternyata orang tersebut hanya Celica yang membangunkannya.


"Kenapa?" tanyanya dengan nada suara yang serak akibat ia sempat tertidur cukup nyenyak tadi.


"Aku, boleh tidur di kamari ini?"


Seketika kening Vivi berkerut. "Kenapa? Bukannya kamu harus tidur dengan suamimu?" tanya wanita itu penasaran.


"Tidak. Aku bosan dengannya. Dia menyebalkan! Sudah… Kamu terima atau malah sebaliknya, aku tetap ingin di sini saja! Baby Bia pun… Akan di sini juga."


Vivi tidak bisa berkata lagi selain mengangguk. "Terserahmu saja."


Melarangnya pun sama sekali tidak berguna. Celica tipe perempuan yang keras kepala, dan Vivi sudah melihat bagaimana Farrel suami Celica sendiri seolah sangat rendah di mata Celica kala perempuan itu marah.

__ADS_1


***


Di sisi lain.


Di sebuah tempat yang tidak diketahui tempatnya, Medya berjalan tidak tentu arah dalam kebingungan menerpa membuat dirinya selalu waspada dengan sekitar.


Asap tebal tanpa sedikitpun aroma bakaran, menyelimuti tempat dengan berbagai pepohonan yang tumbuh di sekitarnya.


Angin sepoi-sepoi, sejuk namun membuat bulu kuduk berdiri.


Medya menyusuri setiap pohon dan menghitungnya terkadang memberinya tanda. Terdapat enam kali putaran, Dan sebanyak enam kali pula Medya mendapatkan tanda yang sama sama seolah dia hanya berputar-putar di sini.


"Ibu…" suara seperti hantu yang berbicara di dalam film-film. Kaki Medya seketika mundur beberapa langkah dan sengaja menjatuhkan diri di atas dedaunan tua yang lepas dari rantingnya.


"Apa ibu ga jadi meminta maaf atas nama Kara?" perlahan langkah seseorang menggema sangat kuat seolah diberi pengeras suara setiap langkahnya.

__ADS_1


Sekarang seorang perempuan bertubuh penuh berantakan sangat tragis seperti bukan manusia lagi melainkan sebuah mahkluk yang baru tetapi menyeramkan.


Tatapan mata berwarna merah darah itu menatap Medya. "Pasalnya Kara menderita disini!" tangan penuh luka itu seketika memanjang dan menyentuh leher Medya hingga Medya menjerit kesakitan. "Hentikan!!!"


Di saat itulah Medya terbangun dari tidurnya. Ternyata semua itu hanya mimpi. Mimpi yang sungguh menakutkan. Medya terduduk, dan mencoba mengatur napasnya hingga kembali stabil. Wanita tua itu bahkan menyeka keringat yang menetes dari pori-pori kulitnya, dia sangat bingung. "Bukannya aku sudah meminta maaf atas nama anakku?" tanyanya.


Ha… Mimpi yang sama.


Ya! seperti itulah kumpulan mimpi yang diterimanya setiap malam selalu membahas apakah dirinya sudah meminta maaf atas nama mahkluk aneh yang mengaku bernama Kara tersebut.


Tetapi kini Kara sungguh membuatnya begitu takut. Tidak seperti masa itu, Kara hanya memintanya dengan tangis yang bukan air lagi tetapi darah yang menetes terkadang membuat paha dan telapak tangannya penuh darah.


Namun sekarang Kara tampak ingin membunuhnya saja.


Mengingat hal itu tentulah membuat Medya lagi-lagi tidak berani tidur

__ADS_1


Dalam hati yang ketakutan tersebut, Medya lagi-lagi berkata dengan suara geramnya.


"Perempuan tak tahu diri itu… Ternyata dia sama sekali belum memaafkan putriku! Awas saja ya, aku akan buat dirimu menderita seperti deritaku karenamu, putri dari wanita sialaaaannn!"


__ADS_2