
Kei merapikan rumah yang semula tampak begitu berantakan itu.
Semalam triplent-nya sangat antusias bermain hingga meninggalkan kondisi ruang tamu yang kacau seperti kapal pecah.
Bantal sofa disusun tak terlalu rapi.
Kain penutup meja kusut hingga menimbulkan kesan asal-asalan di ruang tamunya.
Semalam ia begitu mengantuk.
Kei abaikan saja penampilan ruang tamunya begitu saja.
Sedang di sisi lain bibi Gin memasak dia yang mengajukan diri melakukannya.
Karena biasa wanita tua itu hanya duduk dan sekedar mengupas bawang dan memotong bahan-bahan lain sementara Kei memasak.
Kedua wanita itu kerja sama.
Setelahnya hidangan siap dan rumah menjadi rapi kembali.
Keempat orang yang semula berada di dalam kamar keluar dari kamar tepat pukul setengah enam.
Tubuh mereka lemas seperti pohon yang tertiup angin sepoi-sepoi.
Pandangan Kei dan Bibi Gin yang sedang menyusun makanan di atas tikar yang dilebarkan.
"Anna, Alice, Andre? Kalian sudah bangun?" Kei bangkit dari posisi duduk dan mendekati ketiga anak-anaknya itu.
"Sudah bangun, Bunda," ucap Anna dengan mata menyipitnya. Suara putrinya itu tampak sangat serak, Kei mengelus kepala Anna dan berkata kepada ketiga anaknya itu. "Kalian mandi lah. Kita akan segera makan."
__ADS_1
***
"Bibi kenapa senyum-senyum?" selesai makan, Kei dan bibi kembali ke dapur kembali. Baru mengambil piring bekas makanan tadi dari tikar tempat keluarga Kei ditambah Jeremy.
Bibi melihat Kei. "Kalian seperti keluarga," ucap Bibi membuat Kei semakin tidak mengerti jalan pemikiran Bibinya ini.
"Oh, ayolah bi. Jangan lagi! Kei kurang menyukainya! Kan sudah Kei tegaskan, Bi! Jeremy bukan orang itu!" Kei berkata kembali berbisik seperti yang sering mereka lakukan.
"Kalau ya, gimana!?"
Kei terdiam. Sejenak berpikir, apa yang akan dilakukannya jika malah benar Jeremy yang… "Ah, bibi jangan macam-macam berbicara, bisa? Kei sudah lelah bicarakan hal ini terus."
"Iya, bibi tau kau cape dengarnya. Tapi Bibi hanya mau tau aja kamu akan lakukan apa kalau benar Jeremy yang buat?"
Kei menghela napas, "Kei akan usir dia dari rumah dan tak akan biarkan Jeremy temui anak-anak Kei!"
"Kenapa?"
"Jadi kamu mau menjauh darinya?"
"Iya."
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu? Mau tak mau pasti harus ketemu dengannya."
Ck!
Kei berdecak sebal.
"Bibi kok tanya hal yang susah Kei jawab sih! Bibi menjebak Kei atau mau apa?"
__ADS_1
"Ngak ada. Hanya mau tau aja."
Kei terdiam sejenak.
"Jawab Kei, bibi mau tau apa jawaban kamu," tuntut bibi.
"Yah, Kei jaga jarak sama dia mulai sekarang."
"Terus gimana kalau sutradara minta kalau berpelukan?"
Kei menggigit giginya sendiri. Ada rasa geram tersulut dalam jiwanya dikala pertanyaan Bibinya seperti ingin mengungkit sesuatu darinya.
Lama kelamaan Kei rasa jengkel.
Tapi tidak bisa melakukan apapun pada wanita baik yang membantunya saat masa buruknya hingga sekarang.
"Yang penting dia tidak melakukan apapun pada Kei."
"Adegan 'malam pertama' beberapa waktu lalu, gimana?"
"Yah, itu kan permintaan sutradara."
"Tapi kamu Bibi liat serius amat."
"Yah sutradara yang minta, bi! Kei sih sebenarnya sama sekali tidak mau! Kei menolak pada masa itu!"
Eh tapi tunggu…
"Bibi sampai sebegitunya senang sama Jeremy supaya jadi pasangan Kei 'ya, Bi?"
__ADS_1
"Kalau iya memangnya kenapa?"
Bersambung…