Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Mama Tidak Percaya


__ADS_3

Mama terdiam.


Sorot mata berkulit keriput itu menatap bergantian Jeremy di hadapannya, dan Kei duduk di kursi masih membujuk putranya supaya tetap diam.


Perlahan Mama menggeleng, dia menutup mulut, namun masih bisa mengeluarkan suara.


"T-tidak mungkin…" ucap Mama tidak percaya.


"Tapi itulah kenyataannya, Mama." Jeremy menjelaskan singkat tergolong datar.


"Kamu kan…"


Jeremy tahu apa maksud sang Mama. Soal kesuburannya. "Jemy sudah sembuh Ma. Maka Jemy jujur daripada Mama bertambah dosa dengan terus memaki bunda anak-anaknya Jemy."


Merly dengan mata bulatnya mengadahkan kepala ke arah sang putra. "Anak-anak?"


"Anna, Alice, Andre. Jemy punya tiga orang anak dari Kei." Jeremy tersenyum kecil. Tata bicaranya masih lembut dan terkesan berbisik.


Setelah dipikirkan lagi, Jeremy kira mengatakannya secara gamblang kepada Kei hanya akan membuat Kei ketakutan dan berpikir buruk.

__ADS_1


Apalagi dengan sifat Mamanya yang tanpa melakukan penyelidikan langsung memaki Kei.


Jeremy ikut terluka melihat sikap Mamanya tersebut. Walau jujur, ia tidak tahu alasan Mamanya memarahi bahkan memaki Kei dengan kasarnya.


"T-tiga?" Mama menunjuk angka tiga di jari tangannya. "B-bagaimana bi-sa?"


Jeremy menggeleng. "Jemy tak tahu gimana ceritanya. Maka Jeremy merasa menjadi laki-laki tak berguna untuk empat orang yang seharusnya menjadi keluarga Jeremy sejak lama. Mama, Jemy minta tolong, Jemy mau Mama minta maaf pada Kei. Kei sudah menderita selama ini, Ma. Kelakuan Mama terlalu buruk untuk orang baik seperti Kei." Jeremy bahkan meneteskan air mata untuk mengatakan hal itu.


Namun menunggu hingga lewat dua menit tidak kunjung bergerak.


Jeremy memutuskan untuk meraih tangan sang Mama dan mendekatkan kedua wanita berharga di hidup Jeremy itu.


Namun belum bertemu sepenuhnya, Mama melepaskan tangannya dari Jeremy. "Mama tidak percaya!" Mama menolak mentah-mentah.


"Mama yakin kamu berbohong!"


"B-berbohong apa? Jemy udah jujur akan semuanya, Ma."


"Mama tidak percaya! Mama perlu bukti kuat!"

__ADS_1


Jeremy menghela napas. Pria itu menoleh ke arah mobil yang terparkir di halaman parkir depan restoran yang sudah mengabaikan perdebatan bagai drama ini.


"Minta maaf aja lah dulu, Ma. Sebelum Kei membenci kita, Jemy tidak mau kehilangan mereka semua, Ma. Perlu Mama tau, Jemy dan Mama bisa aja kena penjara karena ulah Mama yang menghumbar semuanya. Pencemaran nama baik, pemerkosaan… Apa Mama ingin menghabiskan masa tua Mama di penjara bahkan mendapat benci dari cucu Mama sendiri? Ayo, Ma. Jemy akan jelaskan semuanya lebih rinci setelah Mama sudi minta maaf."


"Tidak! Mama perlu bukti!" Mama masih berkeras hati.


Jeremy menghela napas untuk kedua kali. "Sudahlah, Ma," ucapnya putus asa.


Setelah hampir berbusa punya mulut untuk membujuk sang Mama, tetap tidak berhasil.


Mamanya terlampau keras kepala! Padahal Jeremy punya alasan tersendiri untuk tidak memberitahukannya terlebih dahulu.


Yang pertama, kalau ditinggalkan, takutnya sang Mama menyerang Kei yang terlihat sedang pusing tujuh keliling ngoceh kata mantra harap anaknya kembali diam.


Sedang yang kedua, Jeremy hanya mengetes bagaimana Mamanya akan menjukkan ekspresi. Mendapati anaknya sembuh dari kelemahan itu Jeremy kira akan membuat Mama bahagia bukan main.


Namun apa yang didapatnya? Justru kemarahan dan ketidak percayaan dari sang Mama.


Jeremy melepas tangannya yang semula menggenggam lembut tangan Mamanya. "Mama tidak mau minta maaf, jangan salahkan Kei karena memutuskan hal ini." Jeremy menarik hembuskan napas cukup lama masih dalam mode berbisik.

__ADS_1


"Jemy kira Jemy tidak akan menganggap Mama sebagai Mamanya Jemy lagi. Mama, hanya Mama adik Sam. Bukan Mama Jemy. Karena Kei adalah orang penting Jemy setelah Mama, dan Mama tidak mau bekerja sama atas permintaan Jemy yang memohon-mohon kepada Mama."


Bersambung…


__ADS_2