
Mata tertutup itu perlahan terbuka.
Tangannya menyentuh kepala yang dirasa tertutup perban seluruhnya.
Manik matanya menatap sekeliling, terlihat buram seolah mata itu terkena embun sehingga terlihat samar-samar.
Tubuhnya ingin bergerak, tetapi rasa sakit seperti baru ditimpa seekor anak gajah menguasai seluruh saraf tubuhnya.
Kei meleguh.
Ia penasaran.
Mengapa bisa berada di sini.
Sebuah ruangan bercat putih dengan tangan yang terasa disuntik jarum.
Aroma sekitar juga seperti obat yang menusuk indra penciumannya.
Tak lama derap langkah kaki mendekatinya.
__ADS_1
Terdengar bisik-bisik antara dua orang bersuara pria membuat Kei penasaran.
"Dokter, kapan nona Kei akan berbaring terus menerus. Ini sudah dua hari loh, Dok. Tidak ada masalah pada tubuhnya kan?"
Tampak, orang itu berkata dengan nada frustasi. Yang pada akhirnya malah menduga hal yang kemungkinan tidak akan terjadi.
Kei di brankar tempat ia berbaring, membulatkan mata cukup lebar. Ia terkejut, sudah dua hari!?
Tiba-tiba memori mengapa dia bisa berada di sini berputar bagai film hitam putih yang rusak.
Dia dipukul habis-habisan bersama keluarganya… Kei pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi.
Walau rasanya tidak asing dengan suara itu, ingatannya seolah tengah mencocokkan dengan semua suara orang yang pernah ditemuinya.
"Seharusnya sudah. Setelah pemulihan dua hari biasa pasien akan bangun dengan sendirinya. Yang kami suntikkan pun hanya obat tidur. Karena seperti yang anda juga tau pasien anda bawa dalam keadaan penuh luka. Tentu kami harus melakukan pengobatan secepatnya."
Lepas pengakuan dari orang yang disebut sebagai dokter itu, langkah kaki semakin mendekati brankar tempat Kei tidur. Kei kembali menutup mata, saat orang yang tak lain adalah Jeremy itu melihat Kei dengan tatapan pilunya, Jeremy menyentuh pipi Kei sangat lembut.
"Kamu pasti merasakan sakit pada tubuhmu. Maafkan aku telah menolehkan luka teramat padamu. Semua tidak akan terjadi kalau bukan aku yang menarikmu dalam jurang masalah hingga kamu seperti ini. Kei, cepat bangun. Aku tau aku hanya lelaki pengecut. Aku hanya laki-laki yang tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan segalanya sehingga bisa dikata aku hanya berani berperang di dalam kandang saja. Bangun lah Kei. Andre, dia juga sudah sembuh. Aku melihatnya bersama kedua anak kita yang lain. Anna dan Alice…"
__ADS_1
Jedarrr!!
Tubuh Kei yang masih sakit itu terasa disambar petir sangat keras.
Kei tidak percaya akan pengakuan dari lelaki itu. Yang kemudian dia ingat siapa dia. Jeremy. Tapi apa!? Jeremy anak-anak Kei? Mata Kei membuka. Mulutnya yang terasa sulit berucap itu berusaha berbicara. "Je remy…"
Jeremy yang menutup mata dan memalingkan wajah, tak berani menatap tubuh Kei yang selalu mengundang pilunya selama dua hari ini kini melihat Kei.
"K-Kei… Kamu sudah siuman?"
Wajahnya berubah bahagia.. Bunda dari anak-anaknya itu siuman secepat kilat ketika ia mulai merasa takut kehilangannya.
Bahkan tubuh yang ingin sekali tumbang itu tiba-tiba tegak dan bugar seolah mendapat tenaga ntah dari mana asalnya.
Jeremy tidak tidur memikirkan Kei dan tiplent Kei. Jeremy tidak tidur selama dua hari ini. Ia terus berusaha mencari siapa penyebab dari kejadian ini bersama Sam.
"Aku… Aku kenapa bisa berada di sini? Dimana Andre? Anna, Alice dan bibi Gin?"
Bersambung…
__ADS_1