
Vivi mendatangi Celica tepat setelah Celica keluar dari ruangan khusus ibu menyusui itu.
"Have you finished shopping? Sorry, I can't pay for the clothes I chose. Baby Bia kept crying. I'm overwhelmed with him."
[Apa kamu sudah selesai berbelanja? Maaf, aku tidak bisa membayarkanmu pakaian yang aku pilihkan. Bayi Bia menangis terus. Aku kewalahan dengannya.]
"Oh, it's okay. Just taking me to this shopping center made my head fresh again. Besides, I still have enough money for the needs of the shooting at that time."
[Ah, tak apa. Membawaku ke pusat perbelanjaan ini saja sudah membuat kepalaku segar kembali. Lagi! pula aku masih memiliki cukup banyak uang untuk kebutuhan hasil syuting masa itu,] Kei tersenyum kecil.
"Oh okay." [Oh, baiklah.] raut wajah Celica tampak sangat sedih.
Kei segera menepuk bahu Celica. "I don't want you to treat me. Don't be so sad. I've also had children. Three more. So I feel the hassle of having children already."
[Aku bukan tidak menginginkanmu mentraktirku. Jangan bersedih begitu. Aku juga sudah pernah memiliki anak. Tiga orang lagi. Jadi kerepotan memiliki anak sudah kurasakan] Kei tetap mempertahankan senyumnya.
"I've been too."
__ADS_1
[Aku juga sudah pernah!] ucap Celica sedikit kesal.
"Well, then? Why are you even sad?"
[Lah, terus? Mengapa kamu malah sedih?] Vivian penasaran.
"Oh, I'm okay." [Ah, aku tak apa,] Celica menggeleng secepatnya. Kemudian menoleh kepada dua kantong belanja yang ditenteng Vivian. "You have quite a lot of shopping. What are all your extra clothes, Vi?" [Ada cukup banyak belanjaanmu. Apa semua pakaian tambah-tambahanmu, Vi?]
"No. Besides the clothes you gave me, I have bought clothes for the twins. You know, they don't have any other clothes besides those three pairs?"
[Tidak. Selain pakaian yang kamu berikan, aku punya beli pakaian untuk si kembar. Kamu tau kan, mereka tidak punya pakaian lain selain tiga pasang itu?]
Setelah keluar dari pusat perbelanjaan, Vivi yang menjadi supir mobil milik Celica atas permintaan Celica sendiri menaiki mobil dan mulai mengendarainya.
Celica yang berada samping Vivi mulai berkata dengan nada suara ragu-ragunya.
"Vi."
__ADS_1
"Hm," Vivi menoleh sedikit, dan kembali fokus pada jalanan ramai seluruh penjuru arah mobil yang dikendarainya.
"I can talk to you."
[Aku boleh bicara sama kamu?]
Vivi mengerutkan kening. "When did I not let you talk?” [Kapan aku tidak memperbolehkan kamu bicara?]
"Hm, that.. Maybe this will bother you a little."
[Hm, itu.. Mungkin hal ini akan sedikit menganggumu]
"Say it quickly."
[Cepat katakan]
"You haven't been married in a long time, um, maybe not at all. Your three children also seem to need a father figure so they don't get jealous of children who have a father by their side."
__ADS_1
[Kamu sudah lama tidak menikah, ehm, mungkin belum pernah sama sekali. Tiga anakmu tampaknya juga perlu figur seorang ayah supaya mereka tidak cemburu dengan anak-anak yang memiliki seorang ayah di sisi mereka. Maka aku pikir, kamu haruslah setidaknya berkenalan dengan satu orang pria. Siapa tahu cocok dan kalian bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi dalam hubungan…]