
Sudah dua hari sejak semua itu terjadi.
Kei merasa ia semakin dijauhkan dari semua orang yang ada di sekitarnya. Meski semua tampak baik-baik saja, atau hanya perasaan Kei saja?
Pasalnya ketiga anak yang dilahirkannya itu yang biasanya tampak sangat bahagia jika Kei mendatangi mereka, kini terasa hambar meski mereka tetap ingin berbicara dengan Kei.
Jeremy masih di sekitar mereka bersama Sam. Meski mereka menyewa satu rumah di samping rumah Celica. Dan anak-anak Kei justru lebih senang bermain bersama ayah mereka ketimbang bundanya sendiri.
"Mau kemana kalian?" tanya Kei basa-basi ketika setengah jam setelah Kei berbincang dengan mereka, langsung mengemasi barang dan keluar dari rumah.
"Ke rumah ayah, Bunda."
"Untuk apa?"
"Bermain," jawab mereka singkat kemudian berbalik dan pergi setelah memakai sendal masing-masing.
Kei menatap mereka dengan raut wajah bersedih.. Apa salah keputusannya? Begitulah ungkap hatinya. Kei hanya ingin tenang dan menyadarkan Jeremy kalau yang ia hadapi selama ini tidak sulit, serta Jeremy harus berusaha lebih kuat lagi untuk menariknya menjadi seperti yang lelaki itu inginkan. Tapi kenapa semua seperti menjauhinya saat ini.
Tidak terkecuali Ibu dan sahabat baiknya-Celica. Mereka seolah tidak mendukungnya saat ini dan hanya mendukung Jeremy.
Lelah memikirkan semua itu, Kei memasuki dapur dan memutuskan untuk masak saja. Puding strawberry guna menjaga kondisi hatinya yang sekarang sama sekali tidak baik itu.
Hampir satu jam ia membuatnya, ia berhasil membuat tiga loyang. Tampaknya ini cara terbaik untuk meminta maaf setidaknya kepada ketiga buah hatinya terkasih itu.
Ia berjalan keluar dari rumah lepas menutup pintunya begitu saja. Dia lagi-lagi di rumah sendirian sehingga dengan tiadanya dia di rumah itu, kini rumah itu sudah benar-benar kosong.
Kei memasuki rumah di samping rumah sahabatnya, terdengar suara anak-anaknya yang bermain dengan riang bersama Jeremy dan Sam.
Rumah itu tidak pernah dimasukinya, karena ketika Jeremy mengundang semua orang memasuki rumah itu setidaknya berkenalan dengan rumah itu, Kei sama sekali tidak pergi dan mengaku tengah sakit.
Tok, tok, tok.
Ia hanya mengetuk pintu dengan pagar di depan pintunya. Semua pandangan orang yang tengah bermain dengan girang terutama Andre itu memandang Kei.
__ADS_1
Semua menatap bingung. Tapi segera Jeremy berdiri dan membukakan pintu. Ia menyambut hangat Kei. "Selamat datang." ia tersenyum manis.
Kei hanya mampu tersenyum canggung tanpa berkata apapun.
Pintu di buka, Kei memasuki rumah itu.
"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Jeremy ramah.
"Hm, puding. Aku membuatnya tadi. Apa kalian mau?"
Sejenak hening.
"O-oh, tentu. Aku akan membawakan piring supaya bisa dibagi-bagi." Jeremy mengajukan diri.
Kei mengangguk dan duduk bersama mereka di lantai ruang tengah yang langsung terlihat saat memasuki rumah itu.
Semua duduk di lantai dengan berbagai unek-unek anak-anaknya yang memiliki berbagai bakat yang beberapa seninya sudah pada dijual di galeri seni milik negara tersebut, yaitu milik Anna.
"Bunda, apa kami boleh memintanya?" tanya Anna sedikit canggung.
Kei mengangguk dan tersenyum tulus. "Boleh, silahkan."
Namun ketika tangan mereka ingin menyentuh piring berisi pudding yang sudah ada beberapa sendok di sana, Kei segera menjauhkan tangan mereka dengan perkataannya.
"Jangan," ucapnya.
Kening mereka seolah berkerut. "Kenapa bunda?"
"Hm itu, tangan kalian tidak bersih. Kalian tau, itu hanya membuat tubuh kalian tidak sehat nantinya."
Mereka mengangguk mengerti atas penjelasan singkat Kei. Secara bersama-sama, mereka berdiri dan pergi menjauh dari tempat itu untuk ke kamar mandi.
Kei melihat Sam pria yang dahulu pernah menjadi sutradara film novelnya tersebut.
__ADS_1
"Sutradara Sam," sapanya rada bercanda.
Sam yang tengah berpikir tentang sesuatu itu segera menoleh. "E-eh…" ucapnya sedikit canggung.
"Kamu kenapa?"
"Hm, tidak ada."
"Kamu berbohong, sutrada Sam. Aku tau kamu berbohong."
Sejenak terdiam. Kemudian Sam mengangguk, "Iya, aku berbohong," akunya.
"Kenapa bisa kamu berbohong sutradara? Apa ada pikiran yang memberatkanmu?"
Sam mengangguk. "Iya. Ada."
"Apa itu? Bisa… Cerita denganku?"
Sam tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Silahkan. Aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu."
Sam mengangguk dan menghela napas. "Masalah Celica." akunya jujur.
"Ada apa dengannya?" Kei penasaran. Kemudian mengingat semuanya kembali. Wanita itu mengangguk. "Oh, iya. Aku mengingatnya. Masalah hubungan masalalu kalian, ya?" tebaknya.
Sam mengangguk. "Aku mencintainya. Tapi kenapa semua sangat sulit. Apa salahku dengan semua orang sehingga aku dijauhkan darinya sampai tidak akan pernah bersamanya lagi. Aku sangat lelah," ucapnya pasrah.
"Aku tau perasaanmu. Mungkin dibalik itu semua ada arti bahwa Celica bukan jodohmu. Mungkin ada gadis lain yang pantas menjadi milikmu. Tiada yang tau kan?"
"Iya, tapi aku benar-benar mencintainya. Bagimana ini?"
Kei tersenyum sedikit sedih. "Kalau jodoh, dia pasti akan datang padamu dan mendekat padamu tanpa kau menginginkannya. Tuhan ada banyak cara supaya menyatukan dua hati yang berbeda, sutrada Sam."
__ADS_1