Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Rencana Pergi


__ADS_3

Tok, tok, tok.


Suara pintu diketuk. Di dalam kamar Celica dengan suaminya, Celica baru saja menenangkan putrinya yang terus menangis membuatnya harus terjaga hingga sekarang.


Baru saja tenang. Sudah ada yang mengetuk dari luar. Segera Celica membukakan pintu.


"Eh, Andre. Kenapa kamu memanggil Tante malam-malan begini?"


"Ada yang mau kami bicarakan dengan Tante," ucap Andre dengan suara berbisiknya.


"Kalian?" kening Celica sedikit berkerut. Tak lama kemudian muncul dua orang lagi, saudara Andre. Celica akhirnya mengerti. "Jadi kalian mau bicara apa dengan Tante?"


"Kami mau kembali ke sana, Tante."


"Ke sana? Ke kota itu lagi?" Celica menebak.


Alice mengangguk. "Iya Tante."


"Untuk apa?" Celica penasaran.


"Kami ingin bertemu ayah. Tante tau kan, Bunda hanya ingin nenek. Kami ingin segera kembali pada ayah. Pasti ayah sudah menunggu. Berlama-lama di sini, membuat kami terpikir dengan kondisi Ayah," Anna memberi alasan.


"Tante bisa membantu kami?" sorot mata Andre benar-benar berharap.

__ADS_1


Celica berpikir sejenak. "Bisa… Hanya saja jika siang atau malam hari sewaktu Bunda kalian masih terjaga, Tante tidak yakin rencana kalian akan berjalan dengan sangat lancar," Celica ragu.


"Malam ini juga boleh, Tante? Kami ingin bertemu ayah," Anna, Alice, Andre berucap begitu memohon atas permintaan mereka.


Membuat Celica yang bisa saja melakukannya itu tergoyahkan hatinya. "Tante yakin, bisa. Hanya saja, Tante terpikir tentang Bunda kalian, dia pasti akan sedih jika kalian pergi."


Sejenak terdiam.


Segera setelahnya Andre mendapat sebuah ide. "Kami akan pergi ke sana, dan membawa kembali ayah kemari. Ibu pasti akan senang!" masih dalam mode berbisik.


Beberapa saat Celica berpikir. "Hm, baiklah," putuskannya.


Semua akan sangat mudah. Celica tau Anna, Alice dan Andre bisa menjaga diri. Celica memiliki beberapa orang suruhan yang bisa saja diperintah kapan saja. Tinggal meneleponnya, maka segalanya akan berjalan lancar, apalagi paspor asli dan segala identitas tentunya masih dipegang Celica sebab Celica sudah menebak hal ini jauh hari bahkan setelah kedatangan Kei dan ketiga anak-anaknya kemari.


"Kalian yakin tidak akan tidur selama diperjalanan?"


Celica kembali berpikir. "Baiklah, Tante akan memanggil tiga orang suruhan supaya mengawal kalian sampai ke rumah ayah kalian dengan selamat. Tante punya alamatnya, Tante harap kalian selamat sampai diperjalanan."


***


Pagi hari.


Kei terbangun dengan tidak berpikir apapun. Ia melakukan tugasnya seperti biasa, memasak, mengemas rumah dan semuanya terjadi sangat lancar sebelum…

__ADS_1


"Kei."


"Iya, ada apa, Ibu?" Kei berbalik badan, sebelum memasuki kamar, hendak membangunkan ketiga anak kembarnya.


"Ibu ingin jalan-kalan keliling kota, kita berdua sana, boleh?"


"Hm, boleh Bu. Tapi anak-anak Kei? Gimana dengan mereka?"


"Ibu kira mereka sudah dewasa. Bisa menjaga diri sendiri, Ibu ingin menghabiskan waktu denganmu selagi bisa. Apa boleh?"


"Baiklah bu." pintu yang semula di buka Kei mendadak di tutup. Kei merasa ada keanehan dalam ucapan ibunya tersebut. Tetapi Ibu yang Kei kenal melalui panggilan bibi itu tidak pernah mementingkan diri sendiri, Kei sedikit maklum, lagipun momen berdua tidak bisa dihindarkan terjadi.


"Kapan waktunya kita keluar?" tanya Ibu.


"Suka hati ibu, kapan waktunya. Kei bisa kapan saja."


"Sekarang, gimana?" usul ibu.


"Boleh. Hm, Kei ambil pakaian baru dulu ya. Pakaian Kei yang ini sudah basah, bermandi keringat," Kei terkekeh di akhir kalimat.


Namun tangan ibu segera meraih Kei. "Ibu rasa, jalan-jalannya sekarang saja. Tidak apa dengan pakaianmu. Toh kita hanya berjemur, hm, Ibu rasa kita bersantai di taman dekat sini saja, lebih menyenangkan. Menurut penjelasan Celica, ada taman di perumahan ini. Dekat pula letaknya."


Kei lagi-lagi mengangguk menyetujui. "Baiklah, Bu."

__ADS_1


Gina tersenyum kecil. Rencananya untuk menjauhkan Kei dari kepusingan sebab khawatir akan keadaan ketiga anaknya yang sudah pergi beberapa jam sebelum ini, tampaknya berhasil.


Gina tau rencana ketiga cucunya itu.. Dan Gina mendukung sepenuhnya. Hanya ia tidak ingin melukai perasaan Kei, putrinya saja. Kei perlu pertambahan semangat untuk menjalani kehidupannya, maka menjauhkan Kei sementara waktu dari kepanikan tampaknya jauh lebih baik dari apapun.


__ADS_2