
Hari berlalu. Minggu berlalu.
Jeremy benar-benar berlaku seperti orang depresi. Penampilan pria itu benar kacau. Dan semuanya terjadi tepat tiga hari setelah kepergian Kei dari kehidupannya dan kota penuh masalah itu.
Jeremy benar-benar tidak tahu mau mencari Kei kemana lagi. Bahkan saat ia menelpon Kei untuk mengetahui kemana perginya wanita dan ketiga anak-anaknya itu, ia tidak mendapatkan jawaban apapun.
Arrrggh.
Alhasil dia hanya mampu berteriak dan membanting ponsel ke dinding hingga sebagiannya retak.
__ADS_1
Kemudian pria itu meringkuk. Air matanya menetes dan suaranya terdengar parau mengatakan, "Kemana kamu, Kei. Anna, Alice, Andre… Semuanya kalian dimana!?"
Jeremy menjambak rambutnya yang sudah kusut dan berantakan itu. Matanya memerah, juga tubuhnya yang gagah, perkasa, sehat serta kuat itu kini seperti setangkai ranting kecil yang jika ditekan sedikit saja langsung patah.
Ia menjadi jarang makan. Bahkan hingga kini dia yang masih tinggal dengan Mamanya yang terus memaksanya di sini merasa khawatir dengan kondisi Jeremy.
Tok, tok, tok.
Sedikit mengangkat kepala dan melihat Mamanya. Raut wajah bersedih dengan isi kepala bertanya kemana Kei dan ketiga anak serta putrinya yang lain itu kini berubah marah!
__ADS_1
Jeremy berlari mendekati sang Mama. Mengepalkan kedua tangan dan mendorong sang Mama sangat kuat hingga bokong wanita itu mendarat sangat kasar di permukaan lantai yang sangat kotor. Pelayan di rumah besar milik Merly sama sekali tidak berani mendatangi kamar milik Jeremy itu untuk membersihkannya. Jeremy sekarang berubah menjadi hewan buas kebanding menjadi kelinci yang adalah sifat asli Jeremy dikala waras. Ya, Jeremy sudah hampir gila sekarang.
"Jeremy…" lirih Merly perlahan bangkit dari posisi duduknya dan menyentuh lengan sang Anak. "Sadar nak. Jangan seperti ini. Jeremy.. Kei bukan wanita yang tepat untukmu, Kei wanita burik yang tidak pantas untukmu. Buka matamu nak. Sadar… Kembali pada Jeremy Mama yang dahulu. Jeremy? Ayo Jeremy. Kembali," Mama tidak sanggup menahan semua rasa rindunya terhadap Jeremy. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Anaknya yang sudah dewasa itu. Jeremy sungguh gila akan Kei dan Merly sama sekali tidak menyukainya.
"Bukannya semua ini karenamu, Mama?" ucap nada geram Jeremy menutup mata diakhir kalimat. "Jauhi Jeremy! Pergi dari sini!!" Jeremy mendorong kembali sang Mama dengan sangat keras dan berbalik badan. "Aku tidak sudi mendapati Mama sepertimu!" pria itu terduduk. Merenung untuk beberapa detik sebelum akhirnya berteriak dalam segala kesedihan yang dirasanya.
"Kei… Kembali!!!"
Merly di belakang Jeremy tentu terluka dengan sikap anaknya yang baru mendorongnya sangat kuat itu. Tetapi Merly sadar, Jeremy bukan Jeremy yang dahulu. Ini sifat Jeremy yang baru dan sungguh membuatnya ingin menangis saja.
__ADS_1
Merly mendekati sang Anak dan kembali menyentuh bahunya. "Mama mengerti penderitaanmu nak. Jangan seperti ini. Mama tidak tahu kemana dan bagaimana keadaan wanita murahan yang kamu cintai itu nak! Sadar… Bangun dari kenyataan. Dia akhirnya meninggalkanmu dan membiarkanmu di sini sendirian. Hanya Mama nak. Hanya Mama. Mama yang selalu ada di sisimu," Merly memangis histeris bersama dengan anaknya itu. Suara keduanya berpadu sangat mendominasi kepiluan.