Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Ingatan Masalalu


__ADS_3

"L-Leo?" gumam wanita itu terkejut, bukan main.


POV Vivi.


Bagaimana mungkin itu Leo?


Pikiranku seolah berkelana menjauh dari tubuhku. Aku tertegun, Leo… Ah, aku melupakan nama panjang dari pria itu.


Leo Syarahtian.


Pria yang dahulu menjadi penyebab aku diusir dari rumah ayah dan ibu angkatku, kecemburuan oleh dik Kara menghanguskan semua kebaikan yang telah aku buat padanya. Ntah karena jebakan atau apa… Masa itu, masih membekas begitu dalam sedalam-dalamnya dalam ingataku.


Dimana aku duduk seperti biasanya di halte dekat sekolah untuk menunggu Kara, adikku yang paling manja itu pulang dari sekolahnya.


Beberapa jam pada masa itu aku terdiam menatap sekitar. Hingga kelas tampak bubar, dan tiba-tiba satu pelukan cukup mesra mendatangiku. Semua anak SMA pada masa itu terkekeh sembari mengatakan, "Cieee.…" dan aku baru tahu orang yang mendekapku tanpa izinku itu adalah seorang pria–Leo namanya. Dia adalah kekasih Kara. Bahkan Kara sendiri yang mengatakannya dalam kemarahan setelah membawaku pergi menjauh dari kerumunan.


"Leo itu pacar Kara, kakak! Kenapa kakak tega… merebutnya dari Kara!"


Kara langsung berlari menjauh dariku. Dia bahkan mampu sampai ke rumah dengan waktu terbilang cepat.


Aku yang terengah-engah mengejarnya, langsung mendapati kedua orangtua angkatku menunjukkan paras marah dan aku cukup mengerti apa maksudnya.

__ADS_1


Aku kira, aku hanya akan mendapatkan hukuman tidak makan seharian jika tidak mengerjakan pekerjaan rumah yang terbilang begitu banyak.


Rumah sebesar seperdelapan hektar dengan tiga tingkat seharian harus aku kerjakan jika aku melakukan kesalahan sedikit saja..


Namun tampaknya Ayah dan Ibu angkatku sudah tidak menginginkanku sama sekali.


Aku diusir bahkan segala hal yang kulakukan di rumah itu sama sekali tidak dianggap bahkan seperti kewajiban mutlak untuk kulakukan karena aku bukan bagian dari anggota keluarga mereka selain mendapatkan nama di KK keluarga kaya itu.


Ah… Sungguh, mengingatnya membuat tubuhku seolah bergetar.


Namun, apakah aku akan mendapatkan hal yang sama? Terutama jika benar ucapan Celica, bahwa aku akan menjadi istrinya si Tian itu.


T-tidak tidak!


Namun, satu hal yang masih berbekas dalam ingatanku setelah menyusun puzzle masalaluku, apakah Kara adik angkat dari keluargaku masa itu berhasil menjadi istri dari Leo?


Mengingat sekarang sudah berjalan hampir tujuh tahun!


Sudah bisalah menikah jika mereka benar-benar jadi.


Kara meninggal?

__ADS_1


Mengingat jika benar Kara dan Tian menjadi sepasang suami istri, kemungkinan Kara adalah orangtua perempuan dari anak yang tengah berulang tahun itu.


"Vivi! Ayo, kita mendekat!" Celica menarik tanganku hingga aku ikut terbawa bersamanya.


Sekarang, kami bahkan berada di baris pertama di antara semua orang yang ada.


Aku mampu melihat anak berwajah gembul lucu itu dalam jarak yang cukup dekat.


Sama sekali tidak menunjukkan raut wajah bahagia, sedikit pun!


Walau ayahnya si Tian yang dikatakan Celica temanku itu serta dua pasang pria dan wanita tua yang tampaknya adalah nenek dan kakek dari anak kecil itu, tetap bahagia… Melihat raut wajah yang diperlihatkan, aku mendadak iba dengannya.


Tiup lilin perlahan dimulai setelah kami menyanyikan lagu "Happy birthday."


"My son, why don't you blow out the candles?" [Anak ayah, kamu kenapa tidak meniup lilinnya?] Tian, berkata pada anaknya dengan suara orang biasa berbicara. Aku mendengarnya, mungkin seluruh orang, hampir setengah ruangan ini.


"I want mom, dad. Until mommy is with me I won't blow out that candle!" [Aku mau Ibu, ayah! Sampai ibu bersamaku aku tidak akan meniup lilin itu!] teriak anak itu terdengar sangat kuat mungkin sampai menguasai seluruh isi ruangan.


Tian tampak memperlihatkan raut wajah sedih. Berlama-lama. Tidak ada reaksi dari tuan rumah. Semua orang mulai menggosip di belakang, kiri dan kanan. Aku masih menatap anak yang jaraknya sama sekali tidak jauh dari jarak pandangku. Mungkin Celica dan ketiga anak Celica serta anak-anakku juga menatap dalam kebingungan, apakah yang terjadi.


Tak lama setelahnya, langkah kecil anak berusia empat tahun yang aku ketahui dari lilin yang jika dihitung cukup berjumlah empat itu.

__ADS_1


Tangan mungilnya berjalan mendekat. Mendekat padaku. Ha? Aku terkejut saat dia malah menyentuh tanganku dan memelukku dengan senyuman manis yang sungguh menggemaskan.


"You're my mom."


__ADS_2