Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
S2 bab 10


__ADS_3

"Kenapa kalian bisa berbohong pada ayah?" tanya Jeremy dengan suara dinginnya. Lelaki ini seperti marah,.padahal hanya ingin tau saja alasan mereka melakukannya.


Andre terlihat ketakutan, terdengar suaranya bergetar, saat mengatakan. "Bunda yang minta, ayah."


Seketika pandangan Jeremy teralihkan. Kini menatap Kei yang masih saja berakting itu.


"Bunda tidak mau ayah pergi," Anna menjelaskan. "Bunda minta pada Anna supaya Anna melukis menggunakan darah dari klinik di samping rumah kita. Buat Bunda seolah terkena sakit. Luka yang seolah nyata. Begitu Yah."


Jeremy menghela napas. Ia menatap kedua anaknya, "Apa untungnya kalau kalian melakukan itu, hm?"


Anna dan Andre tampak saling memandang. Seolah bertanya dalam pikiran masing-masing, kemudian kembali menatap Jeremy. "Tidak ada untungnya, Yah."


"Nah, makannya.. Kalau tidak ada untungnya, untuk apa tetap dilakukan?"


Tiba-tiba Anna dan Andre memeluk erat tubuh Jeremy. "Kami tidak ingin ayah juga pergi…" mereka berucap rada bersamaan namun dengan suara lirih.


"Ayah tidak akan lama. Hanya dua hari saja," Jeremy menenangkan diri.


"Tapi kata Bunda, Ayah akan pergi dalam jangka waktu lama," Andre menahan isak tangisnya.


"Tidak akan kembali…" lanjut Anna.


Jeremy mendengus kecil. Ditatapnya Kei yang kini menatapnya dan tidak pada sandiwaranya lagi. Kemudian Jeremy melepas pelukan kedua anak-anaknya.

__ADS_1


"Kamu pikir apa, hm?" Jeremy menyentuh sedikit bagian sulur rambut Kei.


"Kamu kira aku akan pergi lama-lama setelah lelah mendapatkan mu, hm? Aku juga tak ingin pergi, Kei," Jeremy menerangkan.


"Waktu dua hari itu serasa bertahun-tahun lamanya untukku," ucap Kei lirih.


"Lalu bagaimana dengan tujuh tahun kemarin? Bukankah kamu yang pergi menjauh?"


"Itu dulu," Kei memberi alasan.


"Beda dengan sekarang?"


Kei mengangguk.


"Aku mencintaimu. Sangaat!" Kei mendadak mengalungkan tangannya di leher Jeremy.


"Aku juga," Jeremy berbisik di telinga Kei.


"Maka jangan pergi," lirih Kei.


Jeremy menghela napas. Kembali melepas pelukan itu. Susah juga melepas orang yang mencintaiku sangat. Batinnya berbicara.


"Gimana kalau ayah bawa makanan yang enak dan barang yang ingin kalian pakai?" Jeremy bertanya pada Anna dan Andre.

__ADS_1


Kedua anak itu kemudian tampak saling bertukar pandang seperti yang mereka lakukan tadi.


"Sebagai oleh-oleh setelah kepulangan ayah," lanjut Jeremy. "Gimana?" tanyanya lagi.


Kedua anak itu kemudian menunjukkan senyum kecil. "Boleh!" sama-sama menganggukkan kepala.


"Jadi, kalian mau apa?"


"Kami mau…"


Huek!


Kei justru mual dengan parah. Tubuhnya berangsur bangkit dari posisi duduk, membuat semua orang bertanya-tanya, ada apa dengan Kei.


"Sayang? Kamu kenapa?" Jeremy bertanya tanpa bergerak. Anak-anaknya juga menatap bingung. Jeremy segera bangkit dari duduk, sekilas menoleh kepada Anna dan Andre. "Sebentar ya," izinnya.


Jeremy berangsur pergi menyusul Kei. Istrinya itu tampak tidak baik setelah Jeremy melihat Kei mual begitu parah. Tubuh Kei tampak lemas, hingga ketika Jeremy tepat berada di samping Kei, tubuh Kei langsung menyandar di dadanya sehingga Jeremy perlu mempapah wanitanya ini.


"Kamu sebenarnya kenapa?" tanya Jeremy prihatin.


Kei menggeleng lemah. Membuat Jeremy memijat tengkuk Kei sehingga Kei seperti lebih lancar dalam mengeluarkan yang menjanggal dalam perutnya itu.


"Sudah?" tanya Jeremy setelah Kei tampak menghentikan muntah yang hanya mengeluarkan lendir lengket. Kei lagi-lagi menggeleng, ditatapnya cermin besar di hadapan mereka berdua dengan tatapan sayu dan napas terengah-engah.

__ADS_1


__ADS_2