
...Like dulu sebelum membaca....
...Happy reading....
...------------------------------------------------...
Kei mempersiapkan hatinya terlebih dahulu sebelum akhirnya membuka pintu.
Dilihatnya Anna dan Alice sedang memakaikan pakaian buat Andre--adik mereka yang sedang berada dalam mode tampa busana itu.
Kei menghampiri kedua anaknya dan berkata kepada mereka, "Boleh bunda yang pasangkan pakaian buat adik Andre… Anna, Alice?"
Anna mengangguk. "Tentu bunda."
"Bunda juga mau katakan sesuatu pada adik kalian. Kalian siap-siaplah tidur."
"Baik bunda," ucap Anna dan Alice secara bersama-sama.
Ketika Anna dan Alice di belakang Kei mulai merapikan semua alat dan perlengkapan pekerjaan yang mengisi hari kosong yang membosankankan tersebut, Kei mulai memakaikan Andre pakaian.
Kedua orangtua dan anak itu sama-sama terdiam. Setelah pakaian Andre sudah rapi dan tercium harum bedak baby yang dioleskannya di wajah Andre, Kei mengangkat tubuh Andre.
__ADS_1
Andre ikut saja.
Tidak ada penolakan saat Kei mengangkat tubuhnya.
Tetapi wajah anak itu sangatlah murung dan Kei menyesal telah memperlakukan Andre sangat buruk hari ini.
Tidak pernah Kei membuat Andre menangis karena dirinya.
Karena ia sangat sayang pada Andre melebihi kedua anaknya yang lain yang jauh lebih mandiri daripada anak bungsunya tersebut.
Palingan kalau pun menangis karena dirinya, karena Andre salah dan perlu ajaran darinya.
Tetapi untuk kali ini mau ditatap dari kaca mata apapun, Andre sama sekali tidak salah.
"An, Lice."
"Iya, bunda?"
"Bunda tinggal dulu ya. Kalian tidurlah."
"Baik bunda."
__ADS_1
Kei membawa Andre ke dalam kamarnya.
Kei mendudukkan Andre di atas ranjangnya yang masih rapi karena seharian penuh Kei di luar rumah dan cukup malam hari saja Kei berada di sini.
Lagi pula semalam pun, Ia dan ketiga anak-anaknya tidur bersama Jeremy di kamar anak-anak Kei maka kamar Kei sama sekali tidak mendapat penghuni beberapa waktu terakhir itu.
"Andre. Maafkan bunda ya. Bunda bersalah karena membuatmu murung seperti ini," ucap Kei dengan nada suara rendahnya.
Andre masih terdiam. Mata bulat bersihnya itu menatap bundanya.
Ntah apa yang dipikirkan anak itu. Tetapi lama kelamaan air mata Andre menetes.
Kei mengernyit. Segera telapak tangan besar wanita muda itu menyeka air mata yang menetes membasahi pipi mulus bagai sutra halus.
"Jangan menangis, Nak. Bunda minta maaf. Bukan memarahimu. Bunda menyesal telah meninggalkanmu. Bunda emosi sayang. Maafkan bunda ya, Nak. Jangan simpan dendam pada bunda. Kamu anak laki-laki bunda, dan Bunda tidak mau Andre-nya Bunda menjauhi Bunda. Iya Nak ya, jangan membenci bunda ya?" Kei membujuk Andre dengan suara dan raut wajah menyesal.
Pada masa itu pun Kei ntah mengapa melihat rupa Jeremy dalam wajah Andre yang memang terlihat sangat mirip dengan Jeremy. Membuat Kei emosi dan dalam imajinasinya, Kei sudah menggendong Andre padahal tas perlengkapan milik Andre yang dibawanya.
Hanya saja setelah ia sadar, saat Bibi Gin berjalan melaluinya dengan membawa Andre di pelukannya.
Kei bingung, namun tersulut banyak pemikiran, Kei akhirnya mengabaikannya.
__ADS_1
"Bunda tidak salah." Andre memulai ucapannya. "Andre yang salah." Andre tertunduk. "Andre sudah buat Bunda selalu dalam masalah. Andre minta maaf karena tidak melakukan apapun. Andre minta maaf bunda… Hiks, hiks, hiks." Andre terus menyeka air mata yang dimunculkan dari dalam hatinya. Hal yang membuat Andre terdiam menatap sang Bunda dalam beberapa detik.
Bersambung…