
Kei bosan di rumah.
Sehabis merapikan rumah super besar itu, ia hanya duduk di teras dengan
Terutama setiap jengkal Kei dilangkahkannya di rumah ini selalu membuat wanita ini takut, suatu waktu wanita gila yang mau tidak mau harus di terimanya sebagai ibu mertua itu akan datang dan mendadak sembuh serta semua ini hanya sebuah permainan yang tengah dipermainkan salah satu orang yang dikenalnya itu justru merugikannya.
Lantaran mimpi Kei berkata begitu!
Ia mimpi sangat buruk semalam. Setiap langkah kaki wanita itu di dalam mimpi membuatnya sangat terluka. Ada duri-duri tajam mengenainya. Mundur, membuat wanita ini merasakan panas yang semakin tinggi derajatnya. Tapi maju, selain duri-duri tajam, ia menemukan banyak tikus bermata merah di hadapannya.
Membuat wanita itu berpikir, hidupnya masih sangat panjang dan Tuhan masih gemar membuatnya masuk ke dalam perangkap masalah super mendesak.
Kei menghela napas berat untuk itu.
"Yey! Kejar aku sampai dapat!"
"Ish, Bunda… Adek buat kakak kejar dia."
Sontak lamunan Kei menghilang setelah suara dua anaknya berteriak begitu. Ada Andre dan Anna mendadak datang kepadanya dengan langkah panjang, berlari.
"Eh, jangan lari-lari begitu. Anna! Andre! Lantai licin, kepala kalian–"
Bruk!
Awh!
"Bundaaaaa, hiks, hiks, hiks. Lutut Annaaaa!" Anna menangis histeris. Kakinya tersandung pot besar di dekat tangga tempat Anna dan Andre terlihat mulai berlarian.
__ADS_1
Putri pertama Kei itu bahkan tersungkur dan pot dengan bunga kamboja tertanam di dalamnya itu pecah dan bunganya keluar dari dalam pot. Tanah di dalamnya pun berserakan membuat semua tampak kacau.
Kei segera bangkit dari kursi kecil di teras dan mendekati Anna yang juga ditatap dalam posisi dekat oleh saudara berjarak tiga puluh menit lebih muda darinya itu. Lamunan Kei, membuat wanita ini tidak melihat apapun selain pikirannya yang sudah mulai berlarian kemana-mana.
"Ada apa ini? Kenapa lutut Anna terluka, Andre?" tanya Kei khawatir sambil membantu Anna duduk berselojor kaki.
Andre menatap saudaranya dengan penyesalan. "Maafin Andre, Bunda. Andre tadi kesal sama kakak, dia menang lomba lari di sekolah. Terus di mobil, Andre kata pada kakak supaya kakak dan Andre lomba lari kembali…" Anak itu menangis.
"Kamu harus minta maaf pada kakak, bukan bunda. Kakak yang sakit, bukan bunda" ucap Kei.
Andre menunduk, nampak takut pada kakaknya itu walau sekedar mengulurkan tangan dan berkata, "Andre minta maaf." Melihat itu membuat Kei menghela napas. "Ambil kotak P3K di dinding dekat pintu. Luka kakak tidak terlalu besar, tapi pasti ngilu," ucap Kei menengahi.
"Baik, bunda." Andre mengambil kotak P3K seperti keinginan Bundanya.
Kei masih bersama Anna berkata, "Apa rasanya sangat sakit?"
Anna mengangguk. "Iya, bunda. Sangat sakit. Ngilu," keluh Anna merintih.
"Baik bunda."
Kei mempapah tubuh Anna mencari letak keran air. Kei pernah melihat keran air di sekitar sini. Tapi ia lupa.
"Biasanya ada di mana letak keran air, Ann?"
"Hm, biasanya ada di sana bunda. Iya, di sana," tujuk Anna di jawab angguk oleh Kei.
"Kita ke sana ya. Bunda tau rasanya sakit. Tahan sebentar, oke?"
__ADS_1
"Iya bunda. Anna akan tahan."
Rumah ini sangat besar. Kei sangat kewalahan membawa Anna yang sudah besar. Usianya sudah menginjak 8 tahun, sudah setengah tahun juga Kei dan Jeremy menikah. Maka Kei tidak bisa menggendong anak perempuannya ini sebagimana menggendong anak usia 5 tahun.
"Awh, ngilu… Bundaaaa," Anna terus menjerit kala air itu mengenai kulitnya yang mengelupas cukup lebar. Bahkan daging berwarna putih bercampur darah itu terus membuatnya tidak tahan dengan semua ini.
"Iya. Bunda tau. Tahan sebentar ya, sayang. Tahan."
Terasa Anna terus menggenggam pakaian Kei. Andre yang baru datang pun langsung diperintah Kei mengambil kain putih dari kotak itu. Kei mengelap lutut Anna di bagian sudut-sudutnya saja.
"Aaaaaaa, bunda… Sakit!!"
Anna sampai menjatuhkan diri di rumput hijau yang tubuh di bawah tanah di bawah kakinya. Kei langsung mengoleskan krim antibiotik tanpa menunggu persetujuan Anna.
"Bundaaaa pedih!"
Kei tetap terdiam. Ngilu juga melihat Anna seperti ini. Anna menangis meneteskan air mata yang banyak. Kei menatap putra satu-satunya itu dengan garang.
"Kalau main jangan buat luka orang, bisa Andre!? Kakak kamu terluka di sini!"
Andre terus menuduk. "Maafkan Andre, bunda. Andre tidak sengaja.…"
Kei menghela napas. "Bunda maafkan! Tapi kamu harus minta maaf pada kakakmu! Ayo, minta maaf!"
Andre dengan takut-takut menggenggam tangan kakaknya. "Maafkan Andre, kak."
"I-iya," ucap Anna.
__ADS_1
"Nah, kalau gini kan bagus," ucap Kei senang melihat anak-anaknya minta maaf. "Ayo Ndre. Kita angkat kakak." Kei mendekati Anna bersama Andre. Kei dan Andre mulai mempapah Anna
****