Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Ketidakmengertian Anak-Anak Kei


__ADS_3

Beberapa jam kemudian.


Kei sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan perkataan Celica tadi telepon. Juga tidak terlalu memikirkannya. Hari dijalaninya penuh keheningan dalam dalam diri yang berusaha tenang itu. Walau orang-orang di luar seolah demo di halaman rumahnya tetapi ia berusaha tidak memperhatikannya dan menganggapnya seperti angin ribut yang memporak-porandakan rumahnya. Para tetangga seolah menginginkannya keluar dari rumahnya sendiri, rumah yang dibeli hasil jerih payahnya malah orang lain yang mengusir. Yah tentu saja Kei tidak mau.


"Ayo kalian tidur. Kalian pasti lelah kan, nak?" Kei berbicara pada anak-anaknya dengan suara lembut dan tenangnya itu dalam keadaan orang pada ribut disekitar.


Wajah Anna dan Alice yang sepertinya tidak mampu menahan semua keributan di luar itu sedaritadi menunjukkan raut wajah ingin memakan orang.


Tubuh kedua anak perempuannya itu sontak berdiri dan menghadap sang bunda. Keduanya berjalan mendekat, dan memeluk bundanya.


"Bunda…" lirih Anna dan Alice secara bersamaan. "Kami lelah mendengar semua itu, bund! Apa salah kita bunda… Apa salah Anna, Alice dan adik Andre? Kenapa mereka membenci kita seperti kotoran hewan!"


Kei memilih mengatupkan bibirnya yang sudah kehilangan akal itu. Tetapi ia berusaha tegar setegar-tegarnya, "Putri-putri bunda, kalian sama sekali tidak salah. Bunda juga, kita semua tidak salah. Mereka yang salah. Kita orang baik, dan… Kemungkin Tuhan masih menguji kesabaran kita."


Pelukan dilepaskan.


Anna dan Alice menatap bundanya bingung.


"Bunda selalu mengatakan itu. Tapi sampai kapan bunda? Kenapa hanya kita saja yang diperlakukan seperti ini. Orang lain tidak. Mereka juga tidak. Kenapa mereka hanya tidak adil pada kita!?"

__ADS_1


Kei menghela napas. Ucapan putri keduanya Alice benar-benar membuatnya buntu pikiran. Dia sendiri tak tahu mau kata apa. Anna, Alice, Andre masih berusia sangat muda–enam tahun di dunia ini. Sedang Kei, Kei sudah mengalami hal yang jauh lebih pahit daripada tiga tahun sejak Anna, Alice dan Andre mengenal perasaan.


"Mereka punya masalah sendiri, Nak," jawab seadanya Kei pasrah.


"Tapi kenapa tidak kelihatan."


"Terus kenapa kita yang jadi titik pelampiasannya bunda!?"


Pertanyaan Anna dan Alice secara bergantian.


Kei terdiam. Tidak berkata apapun lagi. Memang masuk akal pertanyaan dua putrinya itu. Tapi ia tidak punya jawaban lembut lainnya dalam pikirannya. Sontak kepalanya pusing, namun ia malah berkata, "Tidur saja sayang. Hari sudah malam. Orang juga tidak akan betah berlama-lama berteriak jika tidak ada respon dari kita. Kita anggap saja mereka tidak ada. Atau, anggap mereka adalah musik pengantar tidur paling estetik yang pernah ada."


"Tapi bunda…" Anna dan Alice ingin protes.


***


Di sisi lain.


"Tapi Jeremy punya rumah sendiri, Ma," protes Jeremy kala mendapati Mamanya sedaritadi terus memintanya untuk tinggal di sini saja.

__ADS_1


"Mama tidak menerima penolakan! Mama mau kamu tinggal di sini!"


Jeremy menghela napas. Ia sudah habis kata untuk mendeskripsikan keadaannya sekarang.


Ia sudah mengatakan kalau ia punya segudang pekerjaan dan Mamanya dengan mudahnya menjawab, perusahaan itu punya kakeknya dan Jeremy bisa saja bolos untuk tidak melakukan pekerjaan itu demi keluarga.


"Sudahlah Jeremy. Turuti aja kemauan Mama. Apa susahnya sih!?" protes Angga–Papa tiri Jeremy.


"Jeremy kata tidak mau!"


Disaat yang bersamaan Mamanya menyentuh kepalanya dan pingsan. Jeremy merasa begitu panik, hingga dia menangkap tubuh Mamanya yang mengarahkan tubuhnya ke hadapan Jeremy.


"Mama? Mama? Mama? Mama pingsan? Bangun Ma!" Jeremy sangat khawatir terus berusaha membangunkan sang Mama. Tapi tidak berhasil.


"Sudahlah Jeremy, bawa Mama ke kamar," usul Papa tiri Jeremy dengan lembut.


Jeremy mengangguk saja pada mantan pacar Mama Jeremy sewaktu muda itu yang sama sekali tidak memiliki anak dari Mama Jeremy, sekalipun pada Sam.


Karena Papa Jeremy pergi jauh bahkan sebelum Jeremy lahir dan dia kembali untuk meminta maaf tapi seperti hanya menitipkan spermanya ke rahim sang Mama kemudian pergi lagi dan hingga sekarang tidak kembali. Kabarnya, meninggal atau masih bernapas di dunia pun tiada yang tau. Angga pria baik yang menemani kehidupan sang Mama.

__ADS_1


Setelah membaringkan sang Mama di atas ranjang, Jeremy hendak berbalik dan menjauh dari sana. Namun tangan sang Mama malah menyentuh sedikit jemari Jeremy.


"Jangan pergi Nak…" karena Mama tau kamu mau pergi ke rumah wanita penggoda itu.


__ADS_2