
Hal terakhir yang bisa dilakukan Jeremy adalah beranjak dari sana dan menemui kedua anaknya, Anna dan Andre. Ibu mertuanya, Gina dan anak keduanya Alice pergi ke kampung halaman tempat dimana Gina dibesarkan sebelum akhirnya pindah dari sana sekitar tiga puluh tahun lalu. Alice hanya peneman bagi Gina mengingat usia wanita tua itu sudah hampir menginjak 60 tahun.
"Anna, Andre!" Jeremy berteriak berkali-kali menyebut nama kedua anak-anaknya dengan kuat hingga suaranya berhasil mendominasi seisi rumah.
Ia berjalan dengan panik, ntah kemana kedua anak-anaknya itu pergi.
"Ada apa tuan?" pelayan satu-satunya, bi Nin menyebutnya.
Jeremy berbalik dan melihat rupa wanita seusia dengan dirinya itu menatapnya dengan takut setelah pernyataan simpel itu.. "Apa ada kamu lihat Anna dan Andre, Nin?" tanyanya cemas.
Bi Nin mengangguk. "Ada tuan. Saya melihat mereka."
"Di mana?" tanya Jeremy terlalu terburu-buru.
"Mereka… Bermain di kamar, tuan," jawab Nin, sopan.
"Tapi saya tidak melihatnya. Apa mereka mengumpat?"
"Tidak tahu tuan. Tapi mungkin bisa jadi."
__ADS_1
Jeremy pergi setelah mengangguk, Jeremy pergi ke kamar tempat pertama kali akalnya berbicara pasti kedua anak-anaknya masih bertempat di sana.
"Anna, Andre? Kemana kalian! Ini penting, keluarlah!" pinta Jeremy sembari melihat sekitar sangat teliti.
Tidak mungkin anak berusia delapan tahun seperti Anna dan Andre bermain main seperti anak kecil. Jeremy sering melihat mereka, lebih suka mengurung diri di kamar dan menuntaskan hobi mereka yang super menyibukkan tersebut.
Namun kenapa setelah dicari tidak dapat dan ketika tidak dicari justru ada di depan mata. Uh, sungguh membingungkan.
Jeremy pusing, akhirnya pergi kembali ke kamar, Jeremy melihat Kei masih berbaring dengan kondisi sama. Jeremy ingin menangis melihat kondisi istrinya yang seperti ini.
Jeremy mengangkat tubuh istrinya ala bridal style, kemudian masuk ke kamar mandi dan meletakkan tubuh lemah Kei ke bathtub. Ia menghidupkan kran air, perlahan bak terisi, rasa dingin terasa, ia ingin melepaskan rasa sakit yang kemungkinan muncul dalam tubuh Via setelah hal tak terduga itu.
"Uhuk! Uhukh!" Kei membatuk.
Jeremy terkejut hingga kemudian memastikan. "K-Kei? Kamu sudah sadar?"
"Dingin. Dingin," Kei meracau. Benar saja, lima menit berada di suhu air 15°C bibir Kei menggigil. Segera Jeremy mengangkat tubuh Kei. Jeremy heran dengan tubuh Kei yang sangat bersih seolah tidak ada luka mirip sayatan di beberapa bagian tubuhnya seperti tangan, wajah dan kaki.
Namun Jeremy tidak ingin membahasnya, ia berjalan keluar dan langkahnya terhenti ketika mendapati dua anaknya di depan pintu.
__ADS_1
"Kalian kemari?" tanya Jeremy.
"Ayah yang memanggil," jawab kedua anak itu.
Jeremy mengangguk. Kemudian berjalan mendekati ranjang dan membaringkan tubuh Istrinya itu di atas kasur serta menyelimuti tubuhnya yang tidak menggunakan sehelai pakaian itu.
"Apa yang ayah perlukan?" tanya Anna.
"Hm, tidak ada." namun Jeremy justru mengambil ponsel dan tampak menghubungi seseorang. Segera Andre mendatanginya, "Ayah, jangan!" ucapya.
Seketika Jeremy melepas ponsel dan menatap Andre. "Kenapa?"
"Ayah, kami mengaku, kami salah."
Jeremy berjongkok menyamakan tinggi Andre yang sudah sepinggangnya ketika pria itu berdiri.
"Mengaku karena apa?" Jeremy pura-pura bertanaya. Jeremy punya alasan lain melakukannya.
"Kami pelakunya. Kami sempat membuat ayah cemas. Maafkan kami."
__ADS_1
Jeremy sudah curiga dengan sikap Nin-pelayan di rumahnya, kemudian ketiga anak-anaknya, darah dan luka di tubuh istrinya, tak lupa juga dengan Kei yang merintih saat merasakan dingin sementara memasukkan Kei ke dalam bak mandi supaya Kei sadar namun justru mendapatkan semua kunci dari pertanyaan dalam hatinya itu.