
"Bibi yakin, Kei."
"Bagaimana bibi yakin? Apa bibi cenayang? Kei saja selaku wanita yang pernah dibuat seperti itu oleh lelaki tidak tahu–"
"Bibiyakin kau tahu. Tetapi kau memilih mengabaikannya! Ikatan batin tidak bisa lepas, nak. Walau kalian tidak saling mengenal tetap ada tiga anak kalian yang juga tahu itu. Mereka kenal siapa ayahnya."
Kei terdiam. Ia menghela napas. Lelah juga berdebat secara berbisik seperti ini. Hati dan jiwanya mengatakan iya, tampaknya. Tetapi mulutnya langsung mengatakan, tidak! Bukan pria itu.
Karena dirasa tidak mungkin ia katakan secara gamblang ia berkata pada rekan kerjanya itu adalah ayah dari anak-anaknya.
Suatu kegilaan, menurutnya.
Lagi pula ia yakin, pria yang memperkosanya beberapa tahun silam sudah mendekam dipenjara. Walau bukan dia yang melaporkan, tetap pria seperti itu suatu saat akan menerima imbasnya.
Kei keluar keluar dari dalam dapur. Memendam rasa kesal sebab bibinya begitu ingin melihat ia bahagia. Selalu melakukan trik ulur dengan berbagai macam cara dan kondisi.
Tapi Kei selalu menolak, karena Kei tahu, terkhusus wanita sepertinya tidak ada kebahagiaan. Tidak ada pria yang mau menikahinya dan memiliki tiga anak kembar yang sama sekali tidak mengganggu ketenangan hidupnya sungguh sebuah anugrah. Kei merasa sudah cukup dengan hal itu.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, dia terkejut, melihat ketiga anak-anaknya masih saja bermain girang dengan lelaki dewasa yang dianggap mereka bertiga sebagai ayahnya.
__ADS_1
Kei kemudian melangkah mendekati mereka. Kegirangan masih menguasai ruangan, begitu membuat Kei tidak tega membayangkan bagaimana Anna, Alice dan Andre tidak merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki sosok ayah. Namun apa boleh buat. Kei dan Jeremy hanya rekan yang kebetulan saling membantu… Bukan seperti perkataan Bibinya, kalau mereka sebenarnya adalah keluarga.
Keluarga?
Haha, ingin tertawa Kei mengingat itu. Bagaimana bisa? Pikiran Kei bertanya
"Anna, Alice, Andre. Ayo, nak. Kita tidur," ajak Kei pada ketiga anak-anaknya tersebut.
Kegirangan terhenti, ketiga anak Kei terdiam dengan wajah bersedih.
"Bunda…" ucap lirih Anna mendekati bundanya setelah berapa menit berselang. Anna menyentuh tangan Kei membuat mata Kei segera melihat anaknya itu, dia tidak berkata apapun.
"Iya bunda…" lanjut Alice dan Andre berimbuh.
Kei terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding di samping kirinya. "Tapi sekarang sudah jam dua belas lho nak. Kalian tidak boleh main sampai jam segini. Kalian harus tidur."
Hening.
Anna menjauh dari bundanya dan mendekat berkumpul kepada dua saudaranya yang lain serta Jeremy yang dianggap sebagai ayahnya itu.
__ADS_1
Ketiga anak Kei saling menatap, seakan tengah berunding, mereka saling berkata setelah siap berunding.
"Kalau ayah tidur di sini, bunda?"
Mata Kei menatap Jeremy. Pria itu masih membisu hingga akhirnya berbicara, "Tapi ayah harus pulang, Anna, Alice, Andre…" Jeremy memang menyebut dirinya sebagai ayah. Anna, Alice dan Andre yang memaksanya, walau hatinya sedikit bergetar saat mendapat sebutan menabjubkan itu.
Anna, Alice dan Andre menggeleng secara bersama-sama. Mereka bertumpuk memeluk Jeremy.
"Ayah tidak boleh pergi…" mereka menangis meraung-raung.
Semakin membuat Kei kalang kabut.
Tak lama kemudian Bibi mendatangi Kei.
"Udahlah Kei. Kasih ayah anak-anakmu itu tinggal di sini. Semalam aja pun. Kan kalian nggak lakukan apapun," Bibi tersenyum penuh arti.
Bersambung…
Apakah Kei menerimanya begitu saja?
__ADS_1