Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Pertanyaan Medya


__ADS_3

Hari sudah malam.


Namun Medya sama sekali tidak menemukan apapun selain Kei yang mendiamkannya dan ia hanya memperhatikan perempuan itu hingga matanya seolah mengering dan kakinya yang terkadang berdiri dengan jarak terbilang dekat dari Kei itu sudah pegal sebab usianya yang sudah senja.


Medya juga terkadang geram. Tapi apa daya, ia tidak bisa berbuat banyak walau bibirnya sudah sangat gatal setidaknya bertanya, untuk apa Kei mendiamkannya seperti ini. Seolah Medya adalah mahkluk tak kasat mata yang sangat ngeri jika diajak berbicara.


Celica yang bisa saja sewaktu-waktu ganas itu secara tiba-tiba malah menyerangnya dan hanya akan merugikan dirinya saja, seakan menutup rapat-rapat kemungkinan jika di rumah Celica tersebut, ia mampu menerapkan sistem dirinya adalah penguasa, dan tiada seorangpun yang bisa membantah.


Setelah makan malam tanpa Farrel suami Celica itu, Medya duduk dan mengamati sekitar.


Semua seolah tidak menganggapnya ada sebab mereka pada sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Apalagi Alice yang semula bisa dekat dengan Medya kini menjauh karena tarikan dari Anna dan Andre selaku saudaranya itu.

__ADS_1


Akhirnya Medya berdiri, semua pandangan langsung menatap padanya.


"Why stay here when you only think of me as the wind!" [Untuk apa tetap di sini tapi kalian hanya menganggapku sebagai angin saja!] ucap Medya dengan kobar amarahnya.


"It wasn't the madam's wish that wanted to stay here! Yes… We can't help but accept it." [Bukannya keinginan nyonya yang ingin tinggal di sini! Ya… Kami pun mau tidak mau terima saja] Celica menjawab sangat enteng.


Justru membuat emosi Merly seolah berkobar. “So even holding on here is useless, huh!?" [Jadi bertahan pun aku di sini sama sekali tiada guna, iya!?]


"If you think so, whatever.” [Kalau anda berpikir begitu, terserah] Celica kembali menenangkan bayi perempuannya yang tetap menangis itu.


Kei melihat itu, hanya mampu terdiam. Sejujurnya, walau sudah pernah hidup cukup lama dengan wanita tua itu tetap saja Kei tidak mengerti apapun tentangnya. Rasa ingin menguasai, suka-suka dia punya dunia ini… Pemarah, pendendam, bahkan tidak segan-segan membuat orang yang tidak disukainya itu sampai berlutut di kakinya untuk mendapatkan sesuatu saja.


Kei sudah mempelajarinya lewat mengamati, tapi sedalam apapun Kei menggali, tetap saja Ia tidak mengetahui maksud dari Medya begitu, terkhusus untuk dirinya yang memiliki masa kecil suram akibat perbuatan Medya tersebut.

__ADS_1


Juga alasan Kei terus bekerja tanpa meminta Medya setidaknya berbicara padanya, terbilang simpel karena tujuannya hanya satu untuk Medya, supaya Medya bisa mengerti bagaimana Kei selama ini memiliki hidup.


Kei selalu bekerja, bahkan tanpa lelah seperti sebuah robot yang tidak dirancang memiliki baterai bahkan tidak akan habis sampai kapanpun masanya.


Namun Medya selalu menutup mata akan hal itu.


Memanglah, pribadi manusia adalah teka-teki yang paling sulit yang pernah ada.


"Then, what do you want, madam?" tanya Kei ingin tahu.


"Give me a job at least make me not like some priceless thing in the corner of the room!" [Beri aku pekerjaan setidaknya membuatku tidak seperti seogok benda tak ternilai di sudut ruangan!]


Kei berpikir sebentar. "Fine will do." [Baik akan dilakukan] finalnya. Dalam hati Kei tersenyum, ternyata begini cara membuat seseorang ingin bekerja!

__ADS_1


Kei kemudian menatap Celica, matanya tersirat rasa terima kasih, karena meang Celica lah yang membuat rencana ini untuk membuat Medya bosan dan akhirnya mau saja bekerja walau Kei tahu, wanita tua itu tidak pernah terlihat bekerja seumur hidup Kei selalu melihat wajah Medya dan perilakunya.


Bersambung…


__ADS_2