
Pagi hari.
Jeremy terbangun dan melihat Kei tidak ada di ranjang. "Kemana dia?" gumamnya bingung. Jeremy kemudian bangkit dari posisi berbaring. Suara gemercik air di kamar mandi menghentikan niatnya untuk mencari wanitanya itu. Lantaran, pria itu beramsumsi jika Kei ada di kamar mandi dan tengah mandi.
Jeremy menghela napas begitu berat. Malam pertama yang diimpikannya bukan seperti semalam.
Jeremy mati-matian menahan semua hasrat itu, hasrat ingin memiliki Kei sepenuhnya. Ingin sekali ia menerkam Kei dengan semua kecantikan dan kemolekan tubuh wanitanya itu.
Tapi apa daya, Kei teramat membencinya, ia pikir, semakin mendahulukan hasratnya akan semakin membuat Kei berkali-kali lipat membencinya. Bertahan semalaman, akhirnya berhasil. Meski susah tapi ia mampu melewati lima jam malam menyakitkan baginya itu.
"Apa aku akan terus seperti ini?" lelaki itu bergumam.
Berpikir. "Mungkin aku harus mencari titik lemah hati Kei dan membuatnya mencintaiku."
Mendapatkan sepercik ide itu, segera membuat Jeremy bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar. "Aku harus mencari tahu dari Ibu mertua!" ia membulatkan tekat.
Namun langkah Jeremy tertahan dengan kenyataan bahwa bisa saja ibu mertua menganggapnya tidak bisa menaklukkan hati Kei sebagai putri wanita tua itu. Walau tau Ibu mertua tidak banyak bicara selain mengungkapkan kata mutiara, Jeremy akan tetap merasa bahwa dia gagal!
Pria itu memasuki kamar yang sempat ia tutup kembali. Matanya membulat, kala melihat Kei keluar dari kamar mandi dan tengah berdiri menghadap ranjang. Otomatis membelakanginya.
Jeremy meneguk saliva. Sungguh indah tubuh Kei. Putih dan mungkin akan menjadi candu baginya jika saja semalam terjadi seperti keinginannya. Apalagi kini hanya menggunakan handuk. Handuk itu pula adalah handuk milik Jeremy.
Kei membalikkan tubuh, segera Jeremy memperlihatkan raut wajah biasa, seolah tidak terjadi apapun. Jeremy menutup pintu dan berjalan dengan tanpa menatap Kei.
__ADS_1
Kei juga hanya cuek saja pada lelaki ini. Keduanya seolah tidak pernah berkenalan sebelumnya, yah, memang terbilang begitu juga kenyataannya. Mereka suami istri yang sama sekali belum mengenal dekat pribadi dan kebiasaan masing-masing.
"Darimana saja kamu?" Kei tampak mengajukan diri bertanya.
Sontak langkah Jeremy berhenti. Ia menatap wanitanya itu. "Tadi aku keluar sebentar," jawabnya singkat.
"Apa diluar ada orang?"
Jeremy mengernyitkan kening. "Untuk apa?"
Kei terdiam sejenak. "Hm itu. Aku mau ambil pakaian."
"Memangnya pakaian kamu kemana?"
"Ada di kamar triplent," jawab Kei. Semalam Kei terlampau merasa kesal dengan Jeremy atas sikapnya yang dianggap Kei begitu menganggap semua hal yang dihadapi Kei selama ini bukanlah sesuatu yang besar dan tidak perlu diajak bertengkar.
Namun Kei mengangguk. "Aku harus mengambilnya."
Jeremy terdiam sejenak. "Memangnya tiada cara lain? Kamu begitu loh. Hanya pakai handuk, tidak malu kah?"
"Tentu malu! Tapi mau gimana lagi. Hm, aku juga minta maaf karena pakai handuk milikmu," wanita itu tertunduk.
Jeremy menggeleng. "Tidak masalah," jawabnya sembari melangkahkan kaki mendekati Kei. Jeremy menatap Kei sebentar, sebelum akhirnya menarik tangan wanita itu tanpa berkata apapun.
__ADS_1
"Kamu mau bawa aku kamana?" tanya Kei terkejut.
Jeremy membawa Kei ke depan lemari pakaian. Kei tampak kebingungan dengan sikap suaminya ini. Jeremy membuka lemari pakaian dan terlihat banyak pakaian lelaki milik Jeremy.
"Kamu mau aku pakai salah satu bajumu, begitu?" tanya Kei.
Jeremy menggeleng.
"Lalu?"
Jeremy tidak menjawab. Lelaki itu terus mencari sesuatu di balik semua pakaian yang digantung dengan rapi di lemari miliknya tersebut.
Sesuatu didapatinya! Jeremy mengambil satu kotak, dan memperlihatkannya kepada Kei. "Buka," ucapnya memberi instruksi.
Kei dalam kebingungan akan berbagai pertanyaan yang muncul di dalam kepalanya itu, Kei tetap mencoba membuka kotak di dalamnya. Ia mendapati se-set baju dan celana serta rok dan pakaian dalam wanita.
"Ini apa?" perempuan itu seperti tidak peka akan pemberian Jeremy. Sementara tanpa sepengetahuan wanitanya itu, Jeremy membeli pakaian yang dikemasnya di dalam sekotak hadiah itu dengan banyak bertanya pada ketiga anak-anaknya sebelum memutuskan untuk menemui Kei di luar negeri.
Jeremy mana tau tentang perempuan. Selama ini Ibunya dan dia juga tidak terlalu dekat dan semua perempuan yang bertemu, tidur dan kemudian seolah tidak terjadi apa-apa dan itu bukan menjadi hal spesial bagi pria itu.
Maka Jeremy tidak terlalu paham tentang perempuan dan apa yang mereka perlukan. Lagi pun dahulu Jeremy seperti bermodal tampang, kaya saja.
Ada banyak wanita tergila-gila pada pria ini. Hanya saja setelah sungguh lama tidak mendekati dunia one night stand, para perempuan seolah hanya mencintai pria itu dalam diam dan tidak ribut seolah mereka adalah fans pria itu.
__ADS_1
***
Komentarnya yuk, kakak-kakak.