
Jeremy memandang jam dinding tergantung di sana. "Sudah dua puluh menit," lelaki ini bergumam.
Jeremy beranjak dari duduk dan memasuki kamar. Jeremy kira ini sudah melewati waktu, sehingga Jeremy perlu masuk.
Senyuman Jeremy terbit dikala Jeremy melihat Kei sudah terbangun. Tidak peduli dengan malu yang seharusnya memberi rem untuk lelaki ini supaya tidak memperlihatkan adegan suami istri berupa tampan cium-ciuman. Ya, Jeremy mencium seluruh wajah Kei dalam kerinduan teramat sangat.
"Ih, Kamu … Lepasin aku," bisik pelan Kei malu dengan kedua anaknya yang menutup mata atas saran Anna kepada Andre.
"Aku rindu kamu sayang," ucap Jeremy seketika memeluk Kei.
"Iya, aku tau. Tapi memangnya aku sudah berapa lama tidak bangun?"
"Hm… Lima bulan" ucap Jeremy sembari menunjuk ke lima jemarinya. Meski ia tau ini bukan kenyataan, menggoda Kei sedikit saja mungkin tak apa.
"Lima bulan?" mata Kei membulat benar. "Kamu yang benar aja Suamiku!? Aku tidur lima bulan?" Via beralih menatap kedua anak-anaknya. "Benar itu anak-anak Bunda?" tanyanya memastikan.
Kedua anak itu tidak menjawab. Kei mencari tau. Dan segera ia menemukan banyak keanehan. Pakaian, kondisi semua disesuaikan dalam ingatan terakhirnya.
"Kamu berbohong Suamiku…" Kei menatap Jeremy mepenuh arti.
"Bohong? Mana mungkin!" Jeremy menyangkal.
Kei mencubit lengan Jeremy hingga lelaki ini meringis kesakitan. "Aduh… Sakit."
"Kalau bohong itu perhatikan baik-baik ya. Yang pertama suamiku tersayang, pakaian kalian masih saja sama, serta semua terlihat sama tanpa terkecuali. Kedua, waktu hanya berubah sedikit. Aku yakin baru lebih dua jam saja aku pingsan."
__ADS_1
"Iya. Aku tau aku salah. Tapi hanya bercanda kenapa tidak boleh? Kamu sungguh kejam, malah menganggap candaanku sebagai suatu keseriusan!" ucap Jeremy. Ia duduk di samping Kei.
"Bunda."
Pandangan Kei beralih. "Iya, kenapa Ndre?"
"Kata ayah, bunda lagi hamil ya?"
Kei menatap Jeremy. Dia terkejut, perlahan menyentuh perutnya. "Aku …"
"Kamu hamil, sayang." Jeremy tersenyum dan memeluk Kei.
"Kamu benar kan? Tidak berbohong padaku." Kei memastikan.
Jeremy menggeleng. "Aku mana mungkin berbohong untuk hal sebesar ini. Lagi pun kamu yang hamil, kamu bisa merasakannya."
"Tapi apa aku bisa mengandungnya seperti tiga kakak-kakaknya yang lain?" ucap Kei.
"Maksud kamu?" Jeremy tak mengerti.
"Hm, mengingat kamu akan lebih sering pergi dari pada di rumah. Aku ragu bisa mengandungnya seperti tiga kakak-kakaknya yang lain. Dulu ada Celica dan ibu yang menguatkan. Sekarang mereka sudah berpisah dari kita dan tersisa tinggal kamu dan kedua anak kita," Kei menunduk menatap perutnya. Ia lebih sensitif sedari beberapa hari yang lalu, dan itu cukup mengganggu mood perempuan ini tiap harinya.
"Ssttt…" Jeremy berdesit. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu."
Pandangan Kei menatap ragu Jeremy. "Apa… Kamu membatalkan janji temu yang penting itu?"
__ADS_1
Jeremy tersenyum kecil. "Tidak. Hanya mengutus wakil direktur Sam dan sekertaris Sevia mewakilkanku."
"Jadi, kamu akan tinggal di sini bersamaku dan dua anak kita?" mata Kei berbinar harap.
Segera Jeremy mengangguk. "Iya istriku yang manis. Aku tidak akan meninggalkan kalian. Benar kata ibu mertua, uang bisa dicari tapi tidak dengan nyawa dan kepercayaan."
"Ibu tadi datang ya? Di mana beliau?" Kei penasaran.
"Tidak. Hanya ucapan ibu mertua yang melekat di pikiran Anna dan dia mengucapkannya padaku."
"Oh. Aku kira, ibu datang." Kei mendadak sedih.
"Kamu kenapa sedih begini sayang?" tanya Jeremy cemas. Ia menyentuh pipi Kei dan menatapnya.
Kei menggeleng. "Tidak, hanya saja…"
"Hanya saja apa, sayang? Kamu rindu ibu mertua? Kalau rindu, suamimu ini akan mengantarkan kalian ke kampung halaman dengan segera. Kalian juga mau kan, Anna, Andre?" sedikit berbicara dengan kedua anak-anaknya.
Anna dan Andre mengangguk. "Bisa ya ayah?" tanya Anna.
"Tentu bisa. Apa yang tidak untuk keluarga ayah."
"Yea!" teriak Anna dan Andre secara bersama.
"Kita bisa bertemu kak Alice!" ucap Andre kegirangan.
__ADS_1
***