Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Kondisi Bibi Gin


__ADS_3

"Jadi siapa?"


"Nyonya Merly–Mama Anda."


Tubuh Jeremy sontak lemas tak berdaya. Sebuah kenyataan sungguh menggetarkan tubuhnya. Sejujurnya ia sudah menduganya sebelum itu. Namun ia mencoba berpikir positif kalau Mamanya itu tidaklah seburuk itu bahkan setelah Jeremy memutuskan untuk menjadikan hubungan Ibu dan anak tersebut asing bahkan patut dilupakan.


Jeremy mengusap mulutnya yang sempat tercengang tersebut.


"Baik. Lakukan dengan cepat dan hati-hati! Coba jangan melakukan kesalahan apapun. Kamu tahu sendiri bagaimana Mama saya."


Setelahnya Jeremy kembali ke ruangan Kei dan menemukan wanita itu tampak merasa baikan dari gerakannya yang sudah tidak kaku lagi.


"Pasien hanya perlu menggunakan kursi roda. Di bagian kakinya memang tidak apa. Hanya saja sembari menyesuaikan kondisi tubuh yang masih lemah."


Jeremy mengangguk. Dia mendorong tubuh Kei dengan kursi ro keluar dari ruangannya. Ia dan Kei akan pergi ke ruangan ketiga anak Kei.


Setelah sampai, Kei tersenyum kecil melihat ketiga anak-anak yang diberi makan oleh Sam dengan telaten.

__ADS_1


Jeremy semakin berjalan membawa Kei mendekati mereka.


"Anak-anak bunda…" ucapnya lirih. Kei memperlihatkan senyuman penuh bahagia. Kejadian beberapa waktu lalu ditakutkan Kei menghilangkan salah satu anak-anaknya. Ternyata Tuhan masih baik padanya dan membiarkan ketiga anak-anak Kei yang amat disayanginya itu hidup. Kei lega, Jeremy yang sebelum ini pun tau sampai sekarang masih sangat bahagia.


Namun setelahnya Kei menunjukkan rupa penasaran. Seolah tengah mencari sesuatu ditengah kepalanya yang masih terkesan kaku itu.


"Dimana bibi Gin?" tanyanya belum Jeremy ingin bertanya.


Jeremy tentu saja terdiam. Bersama dengan Sam yang tetap menyuapi Anna, Alice dan Andre secara bergiliran seolah tidak terjadi apapun sementara hatinya tidaklah begitu.


Jeremy yang sudah berpikir matang-matang tentang hal itupun langsung membawa Kei tanpa berbicara pada Kei.


Sebuah ruangan dengan kondisi dinding berbahan kaca tembus pandang.


Seorang wanita tua mirip bibi Gin dan memang dia adalah Bibi Gin, berbaring seorang diri bersama alat infus tertancap di punggung tangannya dan masker oksigen yang menutup mulut serta hidungnya.


"Bibi Gin…"

__ADS_1


Kei menutup mulutnya yang juga terlihat ada bekas luka seperti pada seluruh tubuhnya.


Air mata Kei membasahi pipinya. Kei menunduk dan dalam kesedihan lagi-lagi dia menyalahkan diri yang tidak berguna itu.


Wanita paruh baya–Bibi Gin, sangatlah baik padanya namun dia yang bodoh mau saja mengikuti naluri… Padahal Kei kira hatinya sudah menolak, jangan pergi ke sana! Namun ia nakal dan tidak disangka kejadian tak terduga ini malah terjadi.


Jeremy melihat pemandangan memilykan milik Kei. Jeremy mampu melihatnya dari tampilan dinding seperti cermin di hadapan mereka.


Jeremy mengepalkan tangannya di gagang pendorong kursi roda dengan geram, Mamanya benar-benar kelewatan!


Jeremy harus melakukan sesuatu pada sang Mama! Tidak peduli bagaimana respon wanita paruh baya itu


Pokoknya Jeremy sudah lelah dengan semua perintah dan kelakuan tidak disangka busuk dari sang Mama.


"Awas saja ya Ma! Mama benar-benar kelewatan!! Tunggu pembalasan dari Jemy!!" ucap Jeremy berjanji dalam hati.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2