
Malam hari telah tiba.
Semua sangat sunyi, bahkan suara angin terdengar begitu jelasnya.
Dinginnya udara menusuk ke tulang-tulang. Semua orang di dalam rumah Celica tidur dengan pulasnya.
Berada di dalam kamar masing-masing. Kei dan Gina tidur bersama, satu kasur yang dibentangkan di lantai.
Terlihat sangat nyaman, apalagi dengan posisi berpelukan, tampak sekali Kei sangat merindukan sang Ibu dalam pengakuan yang terjadi tak lama ini.
Sedang ketiga anak-anaknya, jangan coba tanya tentang mereka. Seperti biasa, Anna, Alice dan Andre tidak akan tidur sampai pukul sebelas malam.
Apalagi dengan keadaan kegelisahan yang mendatangi mereka, sudahlah. Hubungan batin ketiganya tidak akan bisa dilepas, bahkan dalam keadaan berbaring secara berderet di ranjang atas, Anna, Alice dan Andre saling memandang.
"Kak," seru Andre.
"Hm," jawab Anna dan Alice secara bersamaan. Kini pandangan mereka terpokus pada Andre seorang.
"Kakak belum tidur?"
__ADS_1
"Belum," jawab Anna.
"Memangnya kenapa?" tambah Alice.
"Masalah Bunda. Andre tidak terlalu mengerti masalah orang dewasa. Tapi Andre sedikit mengerti kalau kita hanya tiga anak-anak yang hadir karena kesalahan," terdengar suara Andre melemah. Ia sedih.
Segera telunjuk Alice yang memiliki posisi terdekat dimana ia berada di tengah antara Anna dan Andre itu menyentuh bibir Andre.
"Kamu jangan berpikir seperti itu. Bunda pasti punya alasan kuat untuk tidak membiarkan kita bertemu ayah lagi," Alice menenangkan Andre.
"Tapi apa alasannya, Kak? Andre bosan begini terus. Bunda seperti tidak memperdulikan kita lagi. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Padahal, Kita hanya perlu pengakuan dan kasih sayang."
"Urusan orang dewasa terlalu rumit untuk dimengerti anak-anak seperti kita. Kakak tidak mengerti apapun walau terus mendengarkan dan mencernanya dalam otak kakak," lanjut Anna.
"Mungkin Bunda hanya perlu referensing otak kak Ann, dik Andre," Alice bersuara. Membuat pandangan Anna yang semula terus menatap langit-langit kamar kini monoton menatap Alice.
"Bunda sudah banyak berkorban selama ini. Alice pernah baca di situs web handphone milik Bunda, ada tertulis di sana, kalau mengandung dan melahirkan itu sulit. Sakitnya lebih sakit dari terjatuh dari sepeda," Alice memberi gambaran.
Selama ini, yang lebih sakit yang pernah mereka rasakan hanya lah saat terjatuh dari sepeda atau kepala terterantuk dinding.
__ADS_1
Tentu penjelasan singkat Alice membuat kedua saudaranya yang lain bergidik ngeri.
"Sesakit itu ya kak?" Andre sedikit tidak percaya.
Dijawab anggukkan Alice. "Begitu katanya. Apalagi kalau tiga orang yang keluar dari perut. Kita kan tiga-tiganya tumbuh di perut Bunda dan keluar satu persatu hanya memiliki jarak dua puluh menit, lima belas menit waktu lahir. Dan Alice tau itu waktu tanya-tanya dengan Tante Celica sekitar setahun lalu."
"Sepertinya pikiran kita salah tentang bunda, kak Ann," Andre mentap Anna di sebrang sana.
Anna mengangguk. "Sepertinya begitu." Mereka berdua tampak begitu bersalah sekali.
"Kita minta maaf dengan bunda yuk kak, besok," ajak Andre dengan penyesalannya tersebut.
"Ayo," Anna menyanggupi.
Beberapa menit mereka terdiam, dan keheningan kembali menguasai ruangan yang anak kecil saja terbangun itu.
"Tapi bagaimana dengan Ayah, ya? Bukannya waktu itu ayah mengeluh kalau dia ingin kita kembali? Ayah pasti ingin kita mendapatkan pengakuan, dan tidak hidup seperti anak hilang di lingkungan masyarakat. Ada tapi tidak dianggap. Bahkan dipertanyakan, untuk dijadikan bahan tawaan," kembali Anna mempertanyakan pertanyaan yang muncul dalam benaknya selama ini.
Sebuah awal pembicaraan yang menarik. Kembali berhasil menarik perhatian Andre. "Kita juga tidak bisa kembali ke sana bertemu Ayah kak. Lalu kita harus lakukan apa?"
__ADS_1