
Hari menjelang malam.
Kei semakin khawatir dengan anak-anaknya yang tidak ditemuinya seharian ini karena Ibunya itu terus ingin pergi ke sana kemari, dimana Kei tidak berani menolaknya, ia merasa sangat berdosa jika tidak melakukan keinginan sang Ibu.
"Pakai jaketmu, ayo, kita pulang," ajak Ibu yang tetap duduk di kursi roda, sementara Kei terus berjalan sembari mendorong kursi roda itu seperti orang tanpa arah.
Sedikit mendengar kata pulang, Kei seperti mendapatkan angin yang begitu segar. Membuat wanita itu bersemangat untuk melihat taxi yang lewat di sekitar.
Namun hingga setengah jam ia mencari-cari tanpa meninggalkan sang Ibu, ia tidak menemukan apapun, Kei sangat sedih, perasaan cemas mendalam ntah kenapa dirasakannya. Anak-anaknya seolah … Menjauh daripadanya. Ia juga bingung perasaan apakah ini, tapi segera dihempas, bahwa semua akan baik-baik saja.
Raut wajah khawatir itu ternyata tidak lepas dari wajah Kei, Gina yang melihatnya segera menyadarkan sang anak.
"Maafkan ibu telah banyak menyusahkanmu hari ini. Ibu kira dengan kita banyak bersama seharian, kamu akan bahagia."
"Ternyata hanya ibu yang merasakannya. Anak-anakmu sudah besar, Ibu kira … ah, mungkin matamu dengan mata ibu tanpa perbedaan sedikitpun, akan tetap menganggap anak-anaknya anak kecil meskipun mereka bisa menjaga diri dari bahaya sekecil apapun."
__ADS_1
"Kita sudah lama tidak bersama sebagai pengakuan. Anak-anakmu sepertinya tidak masalah dengan itu. Bahagia lah, Kei. Jangan menyangkutkan pikirianmu ke rumah atau kemana pun kamu pergi."
"Filing seorang ibu akan adanya bahaya yang terjadi pada anak-anaknya tetap ada. Ibu tau itu, sewaktu ibu berpisah dengan kamu karena paksaan Brian dan Medya, ibu juga merasa kamu tidak akan dibesarkan dengan baik."
"Apa kamu tau, Kei. Selama lima tahun ibu meminta mereka supaya melepasmu dari panti, karena hidup di panti itu tidak terlalu menyenangkan daripada hidup di rumah orangtua sendiri."
"Akhirnya mereka setuju, walau pada pendahulunya Ibu memakai cara ampuh supaya mereka merawatmu dan setahu ibu mereka memperlakukanmu sangat baik."
"Untuk anak-anakmu, ibu hanya berpesan, doakan mereka, pastikan mereka selamat setiap langkah yang mereka ambil. Doakan supaya mereka sehat-sehat selalu."
Kei mendengarkan, mencoba melakukan apa yang dinasehatkan ibunya itu untuk dirinya.
Dengan menarik dan menghembuskan napas, perempuan itu akhirnya merasa baikan.
Kemudian dalam hati, ia hanya perlu melakukan doa permohonan agar ketiga anak-anaknya itu sehat kemana pun mereka melangkah.
__ADS_1
Walau sebenarnya jalur perkataan ibunya supaya Kei berdoa untuk keselamatan anak-anaknya saja supaya tidak ada sesuatu yang terjadi di pesawat yang hingga sekarang masih ditumpangi mereka ber-enam, Anna, Alice dan Andre serta tiga pengawal yang ditujukan Celica untuk menjaga anak-anak Kei tersebut.
"Sudah lebih merasa baik?" tanya Ibu memastikan.
"Sudah Bu."
"Ayo, ibu mau minum teh hangat. Jangan kepikiran lagi akan segala hal, Tuhan sudah rencanakan semua itu dan tidak ada yang mustahil bagi Tuhan."
"Baik, Bu."
***
Ada komentar?
Beri like-nya juga ya! Gifs hadiah dan vote yang kakak-kakak semua miliki! Terima kasih.
__ADS_1