
Tidak. Kebodohanku membuat semuanya kacau. Aku menyesal karena itu.
Setelah berbicara dengan Kei yang pada akhirnya kecurigaannku membuat istri tersayangku itu justru kesal, yang ternyata dia hanya mengalami batik dan flu setelah kebanyakan tidur tanpa bergerak sama sekali.
Apalagi ibunya yang tak ingin dia banyak bergerak mengingat medan di kampung ini cukup penuh jalan yang kurang baik takut Kei mengalami jatuh yang pada akhirnya membuat siapapun ikut cemas dengan keadaannya.
"Apa kau tak percaya lagi dengan istrimu sendiri?! Atau memang kau lupa berapa anak yang tengah ku kandung sekarang!" dia terdengar kesal setengah mati.
Ini seperti bukan Kei. Dan hey, Kei bukan perempuan pemarah selain menjukkan kekesalannya kan?
__ADS_1
Tapi Kei sekarang sedang marah dan bisa saja orang lain mengatakan itu.
"Bicara padaku atau aku tidak akan kembali lagi kepadamu meski kau harus menangis darah! dan berlutut di kakiku!" ancamnya.
Seketika pikiranku lepas dari segala kesenangan yang ntah mengapa begitu gencar menggodaku untuk bahagia.
Apa benar ini Kei? Amarahnya seperti menusukku dalam. Orang lain tak mungkin kan melakukan ini jika dia hanya bercanda..
Ah, bodoh. Aturannya aku tau kalau dia adalah Kei. Dia istriku dan seharusnya aku tau dia benar benar Kei.
__ADS_1
Dari mana aku akhirnya percaya?
Selain kemarahannya, salah satu anakku berbicara kalau Kei adalah Bundanya. Tiada seorang pun anak yang memanggil orang lain bunda jika tau orang itu memang bukan Bundanya.
Aih, kemana otakku? Ada apa dengannya akhir akhir ini. Menyebalkan.
"Apa tampaku di sampingmu membuatmu menjadi lelaki menyebalkan seperti ini, Jeremy!!"
Terdiam. Hanya itu yang bisa kulakukan. Sampai sekarang aku tak mengerti mengapa perempuan jika marah semuaaaaa dibahasnya sampai ke akar akar meski itu telah lalu dan segala peninggian suaranya sungguh membuat kepalaku pusing tujuh keliling.
__ADS_1
"Atau kau punya perempuan lain sampai kau bahkan lupa anak di dalam kandunganku itu ada berapa?! Bukankah sudah kita cek bersama sama masa itu, hah!"
***