Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
S2 bab 15


__ADS_3

Setelah menempuh jalan yang cukup panjang, sekeluarga itu sampai ke kampung halaman. Jarak yang cukup jauh, membuat mereka sedikit lelah.


Kampung halaman yang begitu tradisional. Penuh dengan sawah berhektar-hektar dan suasana yang sejuk tergolong dingin mengingat mereka sampai subuh-subuh pukul lima membuat kantuk menyerang sampai berasa di tempat tidur sangkin mengantuknya tak ingin beranjak pergi.


"Kei. Kei, bangun sayang. Kita sudah sampai. Anna, Andre. Kalian juga, bangun." Jeremy berusaha membangunkan keluarganya itu.


Mereka memakai mobil untuk sampai kemari. Apalagi tiada jarak rumit yang melanda, seperti luas air yang tidak memperlihatkan satu pun pulau di hadapan. Hanya beberapa kota lain dan desa juga kemacetan yang bukan lagi menjadi hal yang cukup mengejutkan.


Sekarang di dalam mobil itu Kei dan kedua anak-anaknya tidur setelah perjalanan panjang. Hanya dia dan seorang supir yang mengendarai mobil itu.


Mereka ingin berlama-lama di jalan. Meski perlu dua hari dari rumah mereka, tapi cukup menyenangkan melihat segala pemandangan…


"Hm, iya. Aku bangun. Iya, aku bangu–huek!" baru saja bangun, Kei sudah mengalami mual yang begitu menyakitkan.


Segera Jeremy mengambil plastik yang ada di samping tisu. "Ini, pakai ini." Jeremy mendekatkan plastik itu ke bawah wajah Kei tepatnya di dagu.


"Aku mau keluar," ucap Kei segera diangguki oleh Jeremy.


Tidak memperhatikan sekitar, Kei kira ini masih di jalan dan mobil diberhentikan oleh supir pribadi mereka.


Lepas mengeluarkan unek-unek dalam perutnya itu, ia menarik hembuskan nafas. Awalnya tersenyum karena melihat kondisi kampung yang sangat nyaman dan damai.


Hingga Kei mengerutkan kening, terus menoleh kepada Jeremy yang sedari tadi terus mengelus bahu istirnya itu setelah habis membantu Kei dengan memijat tengkuk leher Kei.

__ADS_1


"Loh kok…"


"Kenapa, istriku?" Jeremy belum nyambung.


"Kita sudah sampai ke kampung Ibu?" Kei melihat sekitar, mereka ada di dekat pohon besar yang begitu rindang dan terlihat sedikit angker. Suasana subuh mendukung kalau pohon itu angker.


Jeremy mengangguk. "Iya. Itu sebabnya aku membangunkan kamu serta Anna dan Andre."


"Cepat juga ya. Padahal tadi belum nyampe." Kei terkekeh, ntah apa yang ditertawakan perempuan itu, Jeremy tak tau.


"Semalam juga kamu bilang lama kali sampainya. Pak Yusuf aja sudah ngebut karna kamu rewel. Padahal jelas aku dengar dan ingat kamu sendiri yang mau naik mobil biar bisa menikmati perjalanan," Jeremy mengingatkan Kei akan segala unek-unek perempuan yang semakin rewel itu.


Tidak dijawab Kei.


Perempuan itu hanya terdiam sedikit tersenyum kecut. "Oh ya. Kemana Anak-anak."


"Ih jangan mesra-mesraan seperti ini…" kesal Kei melepas tangan yang menyentuh permukaan perut yang tertutupi baju itu.


Jeremy menghela napas. "Ya sudah," ucapnya pasrah. istrinya pasti lagi sedang sensitif. "Aku pergi sebentar ke mobil dulu ya. Anak-anak pasti masih tidur." Jeremy melangkah, baru dua langkah tangan Kei segera menariknya.


"Ada apa?" Jeremy menoleh. Ditatapnya mata Kei yang berkaca-kaca, seolah ingin menangis.


"Jangan tinggalkan aku…" ucapnya sedikit serak.

__ADS_1


"Aku tidak pergi kemana mana pun, Kei. Hanya membangunkan anak-anak kita." Jeremy menjelaskan.


"Membangunkan anak-anak?" ulang Kei.


"Iya."


"Jadi kalau mau membangunkan anak-anak, harus tinggalkan aku, begitu?" tanya Kei semakin bersedih.


Jeremy menghela napas. "Tidak juga. Langkah dari sini ke mobil hanya tujuh langkah. Berjarak simpel di beri jarak oleh jalan kecil di tengah. Kamu kenapa jadi manja gini sih, Kei?"


"Kamu kata aku manja!?" Kei sedikit meninggikan suaranya berangsur menggeleng. "Tega sekali kamu, Jem!" Kei memukul beberapa kali dada Jeremy. Jeremy hanya menatap istrinya dalam diam.


Lah, istriku ini malah menangis? Rasa, aku tidak melakukan hal apapun yang menyakitinya.


"Bukan tega. Hanya pikir kalau kamu perlu hirup udara segar di perkampungan yang masih bersih ini. Mungkin kamu pergi ketenangan setelah mual tadi," Jeremy memberi alasan. Niat awal sudah dibulatkan kalau akan pergi ke dalam mobil untuk membangunkan Anna dan Andre terurungkan. Ia mengelus bahu Kei. "Ya sudah, ayo ikut aku."


Kei menggeleng. "Kamu sudah buat aku terluka! Pergi saja sana! Aku tidak memerlukanmu! Aku akan adukan hal ini pada Ibu supaya dia jewer telinga kamu!" kata-kata Kei terlihat seperti anak kecil yang sedang marah. Kedua anak-anak mereka saja tidak separah ibunya ini…


Jeremy terus memandangi Kei. Kei yang bersedekap di dada dengan judesnya malah melangkah niat ingin menjauhkan diri dari Jeremy.


Tapi…


"Aw!" kakinya tersandung membuat Jeremy segera menarik tubuh Kei dan pandangan mereka beradu.

__ADS_1


***


Komentar banyak-banyak ya…


__ADS_2