Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Ingin Kei


__ADS_3

Jeremy mendekati Kei.


Pria itu sudah memantapkan hatinya untuk tidak terusik perkataan sang Mama yang bisa saja segera menyerukan agar kembali menghadap padanya.


"Kamu sudah Mama beri kamu segalanya, Jemy. Tenaga, harta bahkan nyawa supaya kamu bisa hidup hingga sekarang, tapi kenapa… Kemana Jemy! Apa balas budimu pada Mama! J–Jeremy, w-wanita itu, j-jangan dekati dia Jemy! Jangan! Dia hanya menyesatkanmu dengan semua fatamorgana yang dia ciptakan! Awasi matamu, My! Awasi! Dia wanita penggoda yang siap menerkammu seperti seekor harimau, Jeremy!"


Tetapi Jeremy sudah menutup kedua telinganya untuk mendengar sang Mama.


Aku tahu Mama sudah beri aku kasih sayang bahkan kehidupan layak sedari kecil. Tapi maaf Ma. Kali ini, Jeremy pilih orang lain selain Mama. Jeremy pilih Kei.


Semua kepercayaan Jeremy terhadap Kei tidak terjadi tanpa alasan yang sangat simple. Tapi hal yang bahkan jauh lebih besar daripada yang Mama *perkirakan.


Apa Mama tahu, Jeremy kasihan dengan Kei, Ma. Mama saja yang tidak melihat bagaimana susahnya Kei semasa membawa tiga janin hasil perbuatan Jeremy*.


Jeremy lihat wanita hamil satu janin saja pikirannya sudah menjelajah kemana-mana. Apa wanita itu akan selamat dari maut bahkan berhasil melahirkan seorang bayi dari dalam rahim yang sudah memprosesnya selama sembilan penuh?

__ADS_1


Jeremy ngeri, Ma. Ngeri. Jeremy memang tidak melihat semua proses perjuangan Kei menjadi bunda bagi ketiga anak Kei yang lahir secara cecar itu.


Tapi Jeremy lihat perut Kei yang besar sekali waktu membawa anak-anak Jeremy. Jeremy merasa bersalah, Ma. Bersalaaaaahhh sekali! Seharusnya Jeremy dihukum seberat-beratnya sedari dulu, Ma.


Jeremy sampai hampir mengeluarkan air mata saat mengatakannya walau berada di dalam hati.


Jeremy ingat itu. Ingat begitu jelas.


Bagaimana Jeremy merasa merinding kala melihat satu foto dalam album yang di dalamnya terdapat Bibi Gin dan Celica dikedua sisi Kei yang duduk di kursi, letaknya di bagian tengah.


Perut Kei sangat besar dan Jeremy membayangkan beratnya membawa tiga semangka sekaligus dimana berat persatu semanga setengah kilo.


Jeremy meraih tangan Kei. Dengan tulus lelaki itu berkata. "Ayo pulang."


Kei mengerutkan kening. "M-mau kemana?" tanyanya seketika melihat wanita paruh baya yang habis memarahinya selama bermenit-menit tersebut.

__ADS_1


"Kita pulang dan aku ingin bertemu kembali dengan si kembar," di akhir kalimat, Jeremy tersenyum kecil sungguh mempesona di pandang mata.


Kei termenung menatap. Tidak disangka, Jeremy ternyata bisa setampan ini… Gumam Kei.


Wanita muda itu tentu saja tidak tahu apa yang telah terjadi pada Jeremy dan Mamanya.


Kesibukan seolah tadi tengah menghadapi bom nuklir yang sebentar lagi akan meledak sungguh menutup kedua telinganya untuk melihat sekitar.


"Ayo," Jeremy menyentuh bahu Kei dengan lembut. Tentu saja wanita itu terkejut. Tetapi diredam oleh helaan napas.


Kei melihat ke arah Mama Jeremy yang tetap menatap Kei seolah akan menerkam mangsanya. Tangan mengepal, dan wajah sangar. Sangat buruk walau sudah dilapisi make up.


"T-tapi Mama kamu?" tanya Kei masih saja iba dengan wanita paruh baya itu.


"Dia bukan Mama aku!"

__ADS_1


Eh? Kei terkejut.


Bersambung…


__ADS_2