
"Anna, Alice, Andre…" panggil Kei dengan suara lirihnya dijawab tolehan ketiga anaknya yang masih bertengkar di halaman. "Masuk nak, masuk," lanjutnya.
Anna, Alice Andre masuk ke dalam rumah. Tidak mempedulikan lagi ocehan anak dan ibu jahil yang membuat keadaan sangat panas bahkan seolah pertengkaran itu diawali dari ketiga anak Kei yang sama sekali tidak nakal.
Anna, Alice, Andre berdiri di hadapan bunda mereka. Tubuh mungil ketiga anak yang sekarang hampir setara tingginya dengan Kei yang sudah duduk di sofa.
"Anna, tutup pintu nak," seru Kei lagi dijawab anggukkan oleh Anna.
Anna menutup pintu dan kembali berdiri setara dengan kedua saudaranya yang lain.
"Jangan dengarkan semua ucapan buruk dari para tetangga ya Ann, Lice, Dre," Kei mencoba menasehati ketiga anak-anak itu. Walau hatinya rasa begitu sakit dan sekarang ingin sekali berteriak mengatakan secara gamblang kepada ketiga anak-anaknya, “Semua perkataan orang-orang di luar tentang kita itu tidak benar!” namun apa daya. Dia kini sedang sakit. Sehat saja tidak mampu mengatakan apapun apalagi sakit.
Wajah Andre tiba-tiba menunjukkan raut wajah kesal. "Tapi Bunda. Mereka sudah kelewatan."
Kei menyentuh bahu Andre. "Nak, lebih baik diam daripada bertengkar. Semuanya hanya sia-sia. Kamu dan saudara-saudaramu dapat sakit, terus dicaci. Kan tidak enak."
"Bunda! Bukannya tetap kita dicaci, sekalipun menutup mulut!?!" protes Alice tampaknya gadis kecil Kei itu tidak mengerti apapun.
"Iya bunda. Kelihatannya sama saja. Anna juga sudah sering ambil tindakan diam. Tetap, mereka terus mengejek kita. Tampaknya lebih bagus marah karena mereka juga akan diam!"
__ADS_1
Kei mengambil salah satu tangan Anna dan Alice setelah melepas sentuhan pada bahu Andre.
"Iya, nak. Bunda tau itu. Tapi, kalau kita diam kan dapat kedamaian hati dan–" ucapan Kei terhenti.
"Andre kira TIDAK, Bunda. Andre justru kesal!"
"Anna pun."
"Alice juga! Alice justru mau lempar pensil Alice ke mata mereka supaya buta!"
"Terus Anna mau kasih minum cat kepada mulut mereka supaya tidak bisa bicara dan caci kita!"
"Dan Andre mau buat sandiwara supaya mereka kena sendiri akibatnya tanpa terlihat kak Alice dan kak Anna yang melakukannya!"
Kei hanya mampu menghela napas. Ia tetap diam, walau dalam hati mengatakan ia juga kesal bahkan ingin sekali menampar mulut mereka satu persatu dengan semua pencapaian yang ia sudah capai hingga saat ini. Namun sebelum semuanya terjadi, reputasi Kei sudah sangat hancur karena Mamanya Jeremy.
Ini sebagian hal buruk yang mereka terima dari orang-orang. Dan bukan sepenuhnya.
Kei ingin sekali menangis pilu saat mengingat semua hal dalam setiap detik-detik kehidupannya yang penuh derita.
__ADS_1
Dan jujur, Kei juga tidak tahu mengapa ia mampu menghadapi semua perlakuan buruk 99,8% orang-orang yang membencinya tanpa sebab.
Cukup 00,2% yang menyayanginya, dan sekarang semua orang-orang tersebut sedang tidak baik-baik saja.
Dimulai dari almarhum ibunya yang meninggalkannya saat kecil, ayahnya yang awalnya sayang namun ntah kenapa sayang ayahnya padanya hanya kenangan dan ayahnya lebih sayang janda itu daripadanya, Bibi Gin yang kritis akibat kelakuan orang gila yang membabi buta mereka beberapa waktu lalu…
Sekarang, hanya Kei, dan triple malangnya di sisinya.
Kei tidak tahu apakah ia akan tetap bertahan setelah ini.
Derrrttt. Derrrttt. Derrrttt.
Di saat pikirannya benar-benar buntu dan menjelajah cukup jauh, suara ponsel di atas meja di samping tubuh Kei bergetar.
Kei menoleh. Andre yang memiliki jarak lebih dekat daripada kedua saudaranya yang lain segera mengambil ponsel milik bundanya tersebut dan memberikannya kepada Kei.
"Ini bunda."
Kei melihat nama pemanggil, Celica. Ia mengerutkan keningnya, setelah sekian lama tidak berhubungan dengan wanita itu Kei penasaran apa yang akan dikatakannya teman baiknya ini padanya.
__ADS_1
Bersambung…
Like sebelum meninggalkan bab ya kakak-kakak.