Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Pertimbangan


__ADS_3

Celica tersenyum kecil saat Kei menghampirinya. "Kamu yakin akan kembali ke sana, Kei?" tanya Celica penasaran.


"Ntahlah, aku tidak tau."


"Mengapa tidak tahu? Kamu harus tau lah." Celica menyentuh punggung tangan Kei. "Apa kamu sudah mencintai pria itu?" ia bahkan menatap Kei seolah ingin tau jawaban Kei.


Kei lagi-lagi menggeleng. "Aku tidak pernah mengenal laki-laki lebih dari orang yang kebetulan berada di dalam lingkaran kehidupanku. Tiada cinta atau pun muncul harapan dalam diriku untuk memilikinya."


Kei menghela napas. "Namun berbeda dengan pemahamannya jika membahas Andre. Dia anakku, tumbuh di rahimku dan kubesarkan bersama orang-orang seperti kalian yang mencintaiku seperti keluarga sendiri bahkan sebelum tau status sebenarku."


"Tapi aku tau kamu siapa bahkan sebelum aku mengenalmu lebih dalam," Celica berucap.


Kei mengerutkan kening. "Kamu tau?" ucapnya tidak percaya.


Celica mengangguk. "Ya, aku tau."


"Sebenarnya kamu siapa sih, Cel. Semua, seolah kamu ketahui.. Seperti Tuhan saja, atau mata-mata rahasia begitu."


Celica tidak menjawab lagi. Wanita yang berada di samping Kei ini seolah tidak ingin memberitahukan rahasianya pada Kei. Dan Kei juga tidak terlalu memaksa.


Lepasnya, satu harian penuh dihabiskan Kei dengan bercerita banyak pada Gina selaku ibunya. Membuat Gina menatap Kei sangat terharu tiap ucapan Kei yang bercerita tentang hidupnya selama ini.


Ada rasa kesal dirasakan Gina saat diketahuinya anaknya sangat menderita di rumah ayahnya sendiri yang sudahlah pengecut, tidak peduli pula dengan putri pertamanya.

__ADS_1


Sementara penderitaan yang dimaksud Gina itu hanya lah kemalangan Kei yang tidak merasakan bagaimana rasanya dirawat Ibu kandung yang sudah melahirkannya. Bukan merasakan bagaimana menjadi babu di rumah ayahnya sendiri.


Namun Gina tidak memiliki kuasa apapun karena untuk berdiri saja sudah menjadi tantangan terbesar yang dihadapinya.


Ia lumpuh, dan insiden yang terjadi beberapa bulan lalu, membuat kakinya tidak bisa digunakan lagi bahkan ia harus menjalani banyak perawatan untuk kesembuhannya tersebut.


Hanya ketika Celica yang selalu setia membantu Gina, mengatakan kalau Kei lah putri yang dicarinya selama ini membuat tekat untuk hidup dan bertemu sebagai satu pengakuan nyata kalau Kei dan Gina adalah Anak dan Ibu.


Semuanya sudah jadi sekarang, dan Gina sungguh bersyukur akan hal itu.


"Apa kamu tidak ingin kembali bersama pria itu, Kei? Dia pasti menunggumu untuk kembali padanya."


Semua ucapan berbentuk cerita yang dikatakan Kei seketika berhenti. Kei terdiam sebentar.


"Jangan jadi wanita pengecut seperti Ibu. Jangan sampai tindakan burukmu masa kini menjadikan anakmu sama sengsaranya dengan dirimu sekarang. Semua sudah salah dari awal, dan Ibu harap kamu tidak menyesali keputusanmu sekarang untuk waktu kedepannya."


"Bagaimana dengan anak-anakmu? Mereka tetap diam karena mereka tidak tau mau lakukan apa untuk membujukmu kembali ke tempat itu–"


"–Jeremy bukan laki-laki jahat, dia hanya orang yang tidak mau melukai perasaanmu. Ingat Kei. Jeremy memiliki uang untuk melakukan sesuatu sesuai kehendaknya–"


"–Tapi dia ingin kamu dan dia menjadi pasangan atas rasa rela serta mencintai.. Ibu tau dari sikapnya–"


"–Sekalipun dia pernah melakukan hal buruk padamu, tapi dia ingin berubah. Banyak waktu kalian ketika bersama–"

__ADS_1


"–Dan bisa saja di salah satu masa itu Jeremy menarikmu paksa supaya kembali padanya atau mungkin, kejadian sama terulang lagi?"


"—Ibu tau jawaban kamu, kamu pasti tidak rela. Sekarang dia sakit, dan kembalinya kamu kepadanya, akan membuatnya sehat sempurna. Kamu ingin anak-anakmu tidak membencimu kan?"


"–Dengan sikap diammu akan mengubah segalanya. Yang seharusnya kini kamu sudah bahagia, karena masalahmu hanya ketidakadaannya suami di sampingmu–"


"–Celica sudah banyak cerita pada Ibu. Dan Ibu harap, kamu mempertimbangkannya secara matang."


Namun atas semua bujukan itu, Kei menggeleng. "Aku ingin bersama ibu."


Ibu menghela napas. "Ibu sudah tua. Kapan pun bisa mati, menyusul kakakmu dan suami ibu. Sedang kebahagiaan kamu adalah hal yang harus kamu raih. Cukup mudah, kembali padanya, dan menikah. Jelas Jeremy ingin kamu jadi istrinya. Semasa ibu di rumah sakit pun, Jeremy menghampiri Ibu dalam mimpi. Dia kata ia ingin meminangmu dan menjadi ratu penguasa atasnya."


"Ibu…" Kei ingin berkata.


Namun Gina segera menghentikan ucapan Kei.


"Sudah cukup penderitaanmu selama ini. Kamu begitu tertekan. Bahkan tiga puluh tahun hidupmu seolah tanpa kebahagiaan."


***


Kakak-kakak, novel ini kan ikut lomba update tim, jadi kakak-kakak bisa kasih vote punya kakak-kakak supaya kasih votenya, dong. Supaya aku semakin tambah babnya semangat!


__ADS_1



Bantuin ya kakak-kakak.


__ADS_2