Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Pria yang Tidak Sportif


__ADS_3

Vivi dan Celica bersama bayinya sampai ke pusat perbelanjaan.


Keduanya terus mengelilingi setiap toko yang berjajar dengan barang prabotan yang dijajakan sungguh menarik dipandang mata.


"Let's go there. Let's go to the clothes shop first. I haven't bought your clothes... Yesterday was terrible, you must have only brought three pairs."


[Ayo kita pergi ke sana. Kita ke toko baju dulu. Bajumu belum kubeli… Kemarin kan gawat, pasti kamu hanya bawa tiga pasang saja] ucap Celica menebak.


"Oh, don't. I feel bad."


[Ah, jangan. Aku merasa tak enak.]


Celica mengerutkan kening. "Why do you feel bad for me? We're friends, Vi. Must help each other."


[Untuk apa kamu merasa tak enak denganku? Kita kan teman, Vi. Harus saling membantu]


"You just help me out of the city is already grateful. Otherwise… Maybe I would have killed myself because of all the suffering I received from people."


[Kamu membantuku saja keluar dari kota itu sudah syukur. Kalau tak… Mungkin aku sudah bunuh diri karena semua derita yang kuterima dari orang-orang]


"Ssstt," Celica menutup mulut Vivi dengan telunjuknya. "I'm forcing" [Aku memaksa!] kemudian tersenyum sumringah.


"O-okey…"


Setelah perdebatan kecil, Vivi alias Kei akhirnya menuruti kemauan Celica.


Mereka masuk ke toko pakaian di sebelah mereka. Karyawan toko langsung menyambut mereka.


"Good evening madam. Can I help you?"

__ADS_1


[Selamat malam nyonya. Bolehkah aku membantumu]


"Can you pick up the dress hanging up there? I want to see it."


[Bisakah kamu mengambil gaun yang tergantung di sana? Aku ingin melihatnya]


"Owh, fine. I will do it."


[Baik. saya akan lakukan]


Karyawan tersebut mengambil dress yang kemungkinan diinginkan Celica. Setelah menjolok dress yang terpajang cukup tinggi itu sang karyawan menghampiri mereka.


"The dress you asked, madam. Please try if you want."


[Gaunnya Nyonya. Silakan coba jika Anda mau]


"Thank you."


Celica melebarkan kedua tangannya yang memegang gaun di bagian bahunya itu. Sungguh cantik, dengan payet mengkliau di bagian leher dan sudut lengannya. Terkesan mewah apalagi warnanya biru navy.



"Good you think?"


[Bagus kah menurutmu?] tanya Celica sembari tersenyum lebar.


"Good, I like it. But…"


[Bagus… Aku suka. Tapi,] ucapan itu terhenti saat baby Bia yang tergantung di gendongan Celica malah menangis.

__ADS_1


"Oek, oek, oek…"


"Cup, cup, cup. Don't cry, honey. Don't cry. Oh, good mama's baby girl's don't cry."


[Jangan menangis, sayang. Jangan menangis. Oh, bayi perempuan mama yang baik jangan menangis]


Celica terus berusaha menghentikan tangisan sang anak.


"Vi, I'm going to calm my baby girl down first, okay? You try on the dress first. If it fits, we'll buy."


[Vi, aku akan menenangkan bayi perempuanku ini dulu, yaa. Kamu cobalah dulu gaun itu. Kalau cocok kita beli]


"Okey."


Kei alias Vivian, wanita itu pergi ke ruang ganti yang sudah ditunjuk Karyawan toko. Sementara Celica akan pergi ke ruang khusus ibu menyusui yang letaknya tak jauh dari sana.


Lima belas menit berlalu, dan Vivi sangat senang dengan pakaian yang dipilihkan Celica untuknya. Namun kemudian ia berpikir, "Apa lebih baik kalau aku beli juga dengan Anna, Alice dan Andre?" mengingat, semua pakaian ketiga anak-anaknya itu sama sekali tidak sebaik semasa mereka ada di kota penuh anacaman jiwa untuknya itu. Semua terjadi terburu-buru, dan Vivian pikir, anak-anaknya sudah bosan dengan pakaian milik mereka yang hanya berjumlah kurang dari lima pasang persatu orang itu.


Gaun yang dipilihkan Celica tetap dibawanya sementara ia memilihkan pakaian dengan ukuran pas untuk tubuh ketiga anak mereka yang sudah menginjak usia enam tahun itu.


Di kasir.


Setelah memilih pakaian ketiga anak-anaknya, Kei alias Vivian menunggu antrian di kasir.


Satu orang di hadapannya dan selesai! Vivian akan keluar dari tempat penuh ramai orang ini.


Namun…


Seorang pria tiba-tiba menerobos antriannya dan segera membayarkan satu set pakaian berupa gaun kembang berwarna merah muda dengan pita besar di pinggangnya.

__ADS_1


Vivi ingin sekali meneriaki lelaki yang tidak sportif itu. Namun apa daya, ia lelah dengan urusan 'mengurusi orang lain' yang ada kejadian sama bisa pula terjadi padanya seperti semasa di kota.


"Sebenarnya siapa sih laki-laki itu?" gumam Vivi merasa aneh.


__ADS_2