Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Alasan Kei


__ADS_3

"Aku tak sudi melihat anak laki-laki yang memutuskan hubungan dengan ibunya sendiri karena seorang perempuan!" ucap Kei sangat marah.


Kei mendengar jelas perkataan Jeremy yang memutuskan hubungan dengan Mamanya sebelum menemui Kei.


Itu sebabnya ia merasa sangat marah dan kini Jeremy mengerti maksud Kei berlaku seperti itu.


"I-iya. Aku tau aku salah–"


"Memutuskan hubungan dengan wanita yang sudah melahirkanmu adalah perbuatan amat buruk! Aku aku tidak mau dekat-dekat dengan pria seperti itu!" Kei berbalik tetap berjalan walau napasnya tersengal-sengal.


Jeremy tidak habis pikir dengan perkataan bunda dari anak-anaknya itu. Jeremy berusaha mendekati Kei, namun belum menyentuh wanita muda itu, Kei sudah berhenti dan menatapnya cukup tajam… "Jangan dekat-dekat denganku!" ancamnya.


Jeremy menatap sang anak di gendongan Kei.


Kei tentu melihatnya, semakin tajam tatapan Kei menatap Jeremy. "Jangan tatap-tatap anakku! Kau hanya akan memengaruhinya dan membuatnya menjauhiku!"


"T-tapi Kei aku hanya–"


"Jangan tatap!" Kei menutup wajah Andre dengan telapak tangannya supaya Jeremy tidak menatap Andre leluasa. "Kalau keinginanmu mengantarku ke rumahku, aku jelas menolak! Lebih baik jalan kaki saja daripada bersama dengan pria yang buruk kelakuannya dengan ibunya sendiri!"


Jeremy menggaruk tengkuknya. Wajahnya berubah tidak enak.


Tidak disangka perkataan Jeremy malah membuat Kei marah besar.


Jeremy memasuki mobil dan menyusul Kei yang berjalan cukup cepat dari perkiraan.


Ntah mendapat kekuatan dari mana wanita muda itu mampu berjalan dengan membawa beban selain tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Jeremy tidak boleh membiarkan Kei kesal berlarut-larut dengannya.


Ia harus minta maaf dengan Kei karena mendapat amukan dari Kei, sama saja ia tidak bisa mendekati dua anak perempuannya yang lain.


"Kei!" serunya sembari membuka kaca jendela mobil dan lelaki itu berusaha memanggil Kei yang sudah mendapatkan taxi, hampir menaikinya.


"Argh, sial!" rutuk Jeremy. Pria itu menggeram. Ia merasa begitu gagal.


Kei tidak menghiraukan seruan Jeremy, dan Jeremy menyesali ucapannya kepada sang Mama.


"Apa yang akan kulakukan…" ucap Jeremy frustrasi.


Ia mengacak rambutnya hingga terlihat begitu berantakan.


Ia yang sudah mematikan mesin mobil dan memarkirkannya di bahu jalan menghela nafas sembari menyandarkan punggung di kursi.


Di sisi lain.


Kei dan Andre.


Bunda dan anak itu kini menumpangi taxi.


Kei menghela nafas sembari mengurut leher belakangnya.


Jantung wanita itu masih berdetak sangat kuat akibat melakukan jalan cepat tadi. Ia juga lelah. Tapi ia lega.


Setelah perjuangan akhirnya ia mampu lepas juga dari Jeremy.

__ADS_1


Bukan dengan alasan mudah ia berperilaku seolah jijik dengan Jeremy.


Jeremy sudah diklaimnya sebagai pria buruk karena memutuskan dengan ibunya sendiri.


Dan seperti ucapan Kei, Kei tidak mau dengan berdekatan dengan Jeremy.


Karena Andre, putra paling disayangi dan dicintainya dari dua anaknya yang lain itu takut malah diajari ajaran sesat bahkan malah menjauhinya jika dekat-dekat dengan Jeremy dengan waktu cukup lama.


Andre di samping Kei menatap sang Bunda dengan bingung.


"Bunda, Ayah itu–"


Kei mentap anaknya tulus, "Jangan panggil dia ayah kamu lagi ya, nak," ucap Kei memberi pengertian terhadap sang Anak.


"Tapi kenapa bunda?"


"Pokoknya dia bukan ayah kamu. Dan memanggil orang lain sebagai ayah tidak baik."


"Tapi Andre suka dengan Ayah Jeremy."


Huh…


Kei menghela napas. "Panggil paman saja ya, Nak. Dia bukan ayah kamu. Dia laki-laki jahat!"


"Memang, Ayah buat apa pada Bunda sampai Bunda mau jauhi Ayah?"


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2