
"Hanya perkataan kalian mengenai ayah kalian," Kei terus terang.
Baru kali ini Kei mengatakan kalau Jeremy adalah ayah dari anak-anaknya tersebut.
Anna, Alice, Andre mendadak tersenyum sembari saling memandang satu sama lain.
Keadaan tenang dan sepi seolah tiada orang di dalam kamar itu.
Kei hanya mengingat sedikit tentang masa ia berada di rumah sakit, tentang bagaimana Jeremy menyebutnya sebagai ayah dari anak-anaknya, bahkan ucapan anak kita seolah terdengar bagai suara angin di telinganya.
Ntah mengapa hal sepenting itu malah terlupakan oleh ingatannya.
Mengingat Jeremy sama sekali tidak pernah berlaku jahat padanya.
Ya, memang… Kei tahu, kesalahan yang membuat hidup Kei yang semula berantakan menjadi baik itu tidak disengaja. Dan mungkin Jeremy sudah menyesalinya serta ingin berbaikan dengan Kei.
Apalagi dengan keadaan Kei yang juga secara perlahan sudah melupakannya.
Walau tiada cinta dalam hati, sedikit ketertarikan pada Jeremy yang selalu ditatap Kei melalui Andre putranya membuat Kei sangat merasa bersalah.
Kei sudah melakukan satu kesalahan yang membuat segalanya terasa hancur.
__ADS_1
Memisahkan dirinya, anak-anaknya dari Jeremy yang tidak pernah menjadi tokoh antagonis dalam kehidupannya. Justru Jeremy sangat baik. Membantunya saat seluruh orang mendadak gila semasa insiden di taman kota.
Ah, lalu apa yang akan dilakukan Kei? Mengingat beberapa waktu lalu di malam hari, telinganya seolah mendengar suara seruan Jeremy yang begitu pilu di alam mimpinya.
"Kei… Tolong kembali. Aku tersiksa dalam kehampaan tanpamu. Maafkan aku telah menjadikanmu bagian dari hatiku, sehingga aku berlaku bodoh dan melukai diriku sendiri di sini."
"Aku sudah menjamin semuanya aman. Sehingga aku berani mengungkapkannya padamu. Perlu kamu tau, di sini tidak ada lagi orang jahat yang berani melukaimu."
"Namamu sudah dibersihkan, dan aku harap kamu mau kembali."
"Dan alasan kuat aku mengajakmu kembali, karena aku menyukaimu, walau aku tau kamu hampir tidak percaya, tetapi aku benar mencintaimu bukan sekedar ingin memilikimu, tapi* *kamu adalah Bunda dari anak-anakku."
"Aku ingin kita bersama. Semua akan menjadi lebih baik, masalah hidupmu hanya satu… Ketidakberadaan aku sebagai suami dan ayah dalam ikatan pernikahan sakral yang membentuk keluarga."
"Mama. Aku tau dia sudah menjadi orang gila. Aku di sini, hanya sebagai roh. Tubuhku terbaring lemah tak berdaya hanya karenamu dan kegilaanku kehilanganmu."
"Aku sering melihat-lihat. Aku memang tidak tahu kamu tinggal di mana. Tapi hatiku berprasangka kamu tidak berada cukup jauh dari pandanganku. Kita dua manusia yang ditakdirkan bersama."
"Aku tau ungkapan ini terlalu gambalang untukmu. Dan aku terlambat menyadarinya serta pribadiku yang playboy … Seolah tidak peduli tantang wanita dan bagaimana dia setelah aku lakukan itu pada mereka."
"Kamu pasti terkejut mendengarnya. Ya, aku akui aku penjahat kelamin. Aku banyak melakukan hubungan **** bebas. Tapi segalanya telah dirubah olehmu."
__ADS_1
"Kamu memang tidak menyadarinya. Tapi aku tau ini adalah karma dan kesempatan kesekian kali yang diberikan Tuhan padaku melalui dirimu."
"Ah, hal ini pasti memalukan untuk diucapkan. … Tapi karena kita hanya berdua dan tidak ada orang lain yang mendengar, aku akan ungkapkan."
"Selama bertahun-tahun aku memiliki keadaan sangat buruk. Lemas, letih, lesu, lunglai, seolah tidak memiliki tenaga untuk sekedar mengangkat segelas air berisi air."
"Mual, tidak peduli apakah sudah atau tidaknya mengonsumsi makanan di pagi hari. Semua terjadi mirip seperti gejala orang hamil … Dan aku menyadari, bahwa seorang dari banyaknya wanita yang pernah aku tiduri tengah hamil dan aku mulai was-was, apakah yang terjadi padanya setelah kejadian itu."
"Padahal sekedar kamu tahu saja. Aku bukan laki-laki subur dan tidak menyangka pengobatan yang kujalani diam-diam bersama adikku–Sam yang terus membantuku ternyata berjalan dengan sangat baik."
"Yah, tampaknya kamu berpikir bahwa aku bodoh dan tidak berotak. Aku memang begitu. Bosan dengan duniaku yang bisa terbilang *tidak memiliki jalur hidup selain bekerja-bekerja dan bekerja seperti sebuah mesin untuk Mamaku."
"Aku menjadi orang yang tidak memiliki sedikitpun moral, dan aku harap kamu memaafkan segalanya."
"Aku bukan siapa-siapanya kamu. Dan begitu juga dengan aku. Tapi tampaknya hubungan kita tidak boleh dianggap begitu … Kita seharusnya menjadi keluarga secepatnya."
"Ayolah Kei. Aku sudah berusaha membuat hidupmu nyaman. Namun dengan status kita bukan siapa-siapa membuat segalanya menjadi rumit."
"Tubuhku berada di rumah sakit. Sam sering menghampiriku, datang untuk berbicara denganku yang tidak bisa melakukan apapun ini."
"Dia sudah melakukan segala cara. Aku mohon kamu segera kembali. Aku tidak tahu mau lakukan apa lagi untuk menarikmu kembali."
__ADS_1
"Aku menunggumu. Jika kamu menggunakan hatimu untuk melihat segalanya dengan baik. Aku mohon Kei. Atau aku akan pergi walau ada atau tidaknya diriku kamu akan tetap melanjutkan hidup ini. Kei … Aku harap kamu segera kembali bersamaku."