Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Jangan Egois, Kei


__ADS_3

"Kamu benar-benar tidak sakit, Jeremy?"


Aaaa!


Jeremy ingin berteriak ketika Kei berkata itu padanya. Namun Jeremy hanya mampu terdiam sejenak karena Kei yang masih ada di depan tubuhnya.


Melihat Jeremy sontak membisu, Kei menarik kembali tangannya namun sebelum itu terjadi, terlihat tiga orang memasuki ruangan tempat mereka berada dan tersenyum.


"Jeremy? Kamu sudah kembali?" sapa Gina dengan sopannya. Celica di belakang Gina dan tengah mendorong kursi roda yang digunakan Gina itu, menatap dalam kebingungan Kei dan posisi Jeremy saat ini.


Jeremy bangkit pada posisi semula dan mendatangi letak keberadaan Gina. "S-sudah Bibi. Maaf, semuanya terlambat," ucap Jeremy menyesal.


"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali." Gina memakluminya. "Jadi bagaimana lamarannya? Apa sudah berhasil?" tanya Gina terang-terangan.


Jeremy menggeleng dengan raut wajah sedih.


Gina mengangguk. Kemudian menepuk lengan pria bertubuh tinggi itu. "Percobaan sekali tidak akan membuatmu berhasil, nak. Ada banyak percobaan hingga kamy berhasil, mengerti?"


"Iya Bi."


Sedang di sisi lain, Kei memperlihatkan raut wajah bingung. Sudah berhasil? tanyanya dalam hati. Apa mungkin semua sudah direncanakan? Hei, lagipun mereka seperti sudah kenal akrab! pikirnya perlahan sadar.

__ADS_1


Gina dan Celica terus berhubungan dengan Jeremy lewat telepon. Apalagi dengan berbagai cerita yang sudah diceritakan ketiga anak-anak Kei tersebut, akhirnya Jeremy mengerti, bahwa yang telah berjasa mempertemukan Jeremy dengan ketiga anak -anaknya adalah dua wanita yang telah memikirkan semuanya secara matang dan akurat. Sampai sekarang mereka terus memikirkan berbagai ide bagaimana membantu Jeremy supaya mendapatkan Kei yang adalah wanita super keras kepala meski terdapat alasan masuk akal mengapa dia begitu.


Gina menginstruksikan Celica mendorong dirinya mendekati Kei. Celica mengangguk. Kemudian Gina yang kini sudah berada di hadapan Kei berkata dengan tangan menggenggam tangan Kei.


"Kamu tidak boleh egois, putriku. Biarpun Jeremy sudah banyak bersalah dan membuatmu sangat terpuruk,


setidaknya kini ia masih menginginkanmu menikah dengannya. Apa kau tau, tidak banyak laki-laki seperti Jeremy. Percaya pada Ibu.


Kau tidak akan menemukan laki-laki sebaik dia. Sekalipun sudah terlambat, kau tak boleh egois. Kini sudah ada tiga purtri dan putramu yang menunggu jawabanmu.


Mereka ingin diakui, sayang. Kalau cinta seperti yang diharapkan semua wanita di dunia ini, Ibu tau kau juga menginginkannya.


Tidak menunggu Kei berkata satu kata pun, Gina kembali menginstruksikan Celica mendorong kursi roda tersebut hingga memasuki kamarnya tempat dimana Kei dan ketiga anak-anaknya biasa tidur.


Hening.


Jeremy yang berdiri di dekat pintu masuk bersama Sam di sampingnya yang pergi keluar kala melihat adanya foto kekasihnya–Celica yang teramat dirindukannya itu namun kini sudah memiliki suami dan anak sebagai keluarganya, sehingga keadaan kedua pria itu nampaknya sama sekali tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Kenapa dengan wajahmu?" Jeremy mengajukan bertanya.


Sam menggeleng. "Tidak baik-baik saja."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Jeremy penasaran.


"Semua terasa sulit di kepalaku, kak."


"Sebab?"


"Kakak liat siapa Celica kan?"


"Iya."


"Itulah dia kekasihku yang masa itu aku kasih pada kakak kalau tau dia sama aku berpisah karena Mama."


"Terus?"


"Aku menjumpainya keluar saat melihat foto pernikahannya. Aku sedih dan hancur kak, hancur!" Sam tidak bisa membendung semua air mata yang sedaritadi ditahan demi memperlihatkannya baik-baik saja di depan wanita yang amat ia rindukan bahkan sempat ia kira sudah tidak ada di dunia ini lagi.


Jeremy hanya mampu menepuk-nepuk punggung Sam guna memenangkan pria itu. Sam tidak pernah melihat pria ini selemah ini. Namun sekarang ia sadar, keduanya terjebak dalam lingkaran, dimana semua sangat sulit karena Mamanya yang seolah tidak mengizinkan kedua putranya itu memiliki kekasih, istri ataupun pendamping hidup.


Miris sekali.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2