
"Sudah. Saya sudah melakukan yang nyonya Medya pinta," ucap Kei selah beberapa menit keadaannya begitu tenang seperti sejak semula.
Mereka juga sudah membacakan doa untuk almarhum lepas Kei memaafkan setiap perbuatan Kara yang sama sekali tidak diucapkan Kei karena ia tahu sifat Ibu angkatnya ini seperti apa.
Sekarang Kei dan semuanya kembali ke dalam rumah.
Ke tempat duduk masing-masing, kini Kei menagih janji sang Ibu angkat.
"Bagaimana, nyonya? Apa saya boleh menerima jawaban dari nyonya perihal siapa ibu kandung saya?"
Seberapa kalipun Kei berucap, Kei tidak menemukan suara Medya terdengar di telinganya.
Kei kemudian kebingungan, karena yang dilihatnya dari rupa sang ibu angkat adalah kepuasan, mungkin karena anaknya yang sudah dimaafkan oleh anak lainnya, maka wanita itu berperilaku, sama seperti yang dilakukannya saat menjadi wanita super jahat di mata Kei.
Kei juga semakin was-was. Apakah sang ibu kembali lagi menjadi wanita jahat?
Kei sangat takut.
__ADS_1
Padahal impiannya ingin bertemu sang Ibu kandung yang mungkin dikenal Medya.
Sekalipun Kei menetap selama lima tahun di panti asuhan, mungkin saja orangtuanya ada masalah kemudian memilih menaruh Kei yang pada saat itu masih bayi ke panti ashuan dan diambil kembali oleh saudaranya, mungkin si Medya.
Yah… Begitu sepolos pemikiran Kei. Pada masa itu hingga sekarang, bahkan.
"Apa nyonya tidak mengenal saya lagi setelah keinginan nyonya terpenuhi?" ia akhirnya berkata dengan geram.
Tetap tidak ditemukan satupun jawaban. Medya terus bermain dengan cucu laki-lakinya yang mirip dengan Kara sekaligus Leo tersebut. Kadang dia tertawa membuat Kei seolah kembali di anak tirikan oleh ibu angkatnya itu, mungkin tidak dipedulikan.
Pandangan Kei beralih pada Celica yang tampak sudah mengantuk, terlihat dari bagaimana ia menguap, sembari terus menidurkan sang anak yang masih sibuk bermain dengan dunianya sendiri itu.
"Hm?"
"Kita boleh kita langsung pulang?"
"Aku tidak tahu. Bukannya kamu masih punya urusan dengan mereka?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu punya urusan apa selain kembali menjadi pesuruh mereka."
"Yah sudah, kalau begitu. Aku juga sudah mengantuk. Acaranya juga sudah siap kan?"
"Ha, iya juga ya. Oke, aku akan minta pamit sama mereka," Kei memutuskan.
Kei mendekati ibu angkat yang seolah lupa diri dan dunia itu. Dia memberikan tangannya supaya bisa saling menjabat dengan sang Ibu angkat. Seburuk apapun wanita itu, Kei tidak bisa melupakan bahwa ia hanya seorang anak dari wanita–Medya yang memang selalu memberikannya hidup di rumah itu sekalipun kelakuannya begitu buruk pada Kei hingga sekarang, malah.
"Kami pamit ya, nyonya?"
Akhirnya wanita itu mau juga memandangnya. Medya seolah senang mendengar ucapan itu dan memang ia senang, akhirnya anak haram dari wanita perebut suamiku itu mau pulang juga.
Sangat risih perasaan Medya, dia memaki dalam hati sekalipun Medya memberikan tangan untuk disentuh oleh Kei anak-anaknya, Celica begitupun dengan anak-anaknya juga.
"Hati-hati di jalan ya," ucapan yang begitu manis terdengar dikala Medya berdiri memandangi Kei dan sembilan orang rombongannya satu persatu menaiki mobil Celica.
Mampus di tengah jalan, juga tidak masalah bagi saya..
__ADS_1
"Semoga sampai ke tujuan!" Medya melambaikan tangan, sementara hati berkata, tujuan maut maksudnya. Ia tersenyum jahat dikala membayangkan bagaimana Kei dan semua orang di dalam mobil itu tewas karena kecelakaan ntah jenis kecelakaan apa pula lah itu.
Bersambung…