
"Kamu jangan banyak bertanya dulu. Anak-anak… Hm, maaf aku salah bicara. Maksudnya Anna, Alice, Andre tidak apa. Tadi kata dokter seharusnya kamu sudah siuman. Tapi syukurlah tepat seperti perkataannya."
Jeremy berkata, pria itu berusaha menahan semua rasa rindu dan sesal yang tidak tahu mengapa bisa ia rasa.
Berawal rasa tertarik pada wanita yang pernah menjadi penghangat ranjangnya, kepikiran hingga sepertinya ia mulai memperhatikan pergerakan wanita itu secara detail!
Jeremy tidak tahu perasaan aneh apa ini.
Melihat kondisi mengenaskan Kei beberapa waktu lalu, Jeremy berusaha sekuat tenaga untuk membuat wanita itu tenang.
Perlu tahu saja, Jeremy sudah membuat perhitungan sepadan untuk banyaknya orang yang menghajar Kei dan keluarganya secara membabi buta itu.
Sekarang tinggal mengetahui siapa dalang dibalik semua ini, lalu Jeremy akan membuat dia mendekam di penjara.
Apalagi keadaan Bibi Gin–wanita paruh baya itu kritis hingga sekarang.
Jeremy geram!
Karena bibi Gin adalah wanita yang sangat baik dengannya. Membuat Jeremy yang ingin berdekatan dengan ketiga anak-anak kandungnya itu lebih muda dan tidak perlu banyak bersusah-susah.
__ADS_1
Nasip yang sungguh malang.
"Tapi aku mau lihat mereka.. Dimana mereka?"
Jeremy terdiam. Sebelum akhirnya kembali berbicara, "Mereka sudah siuman beberapa waktu sebelum ini. Andre dan dua saudaranya yang lain yang mencarimu maka aku mendatangi ruangannya secara langsung," bohong. Ucapan Jeremy hanyalah dusta untuk mengelabui hatinya sendiri.
Jeremy memang datang karena pertanyaan dimana Kei oleh ketiga anak-anaknya. Namun sebelum itupun ia sudah kepikiran, apa harus sekarang menjenguk Kei. Atau nanti. Pasalnya waktu itu ia tidak mempunyai alasan cukup kuat untuk berdusta.
"Aku, aku mau menemui mereka!"
Kei, berusaha bergerak. Namun yang di dapatkannya hanya sakit teramat sangat diseluruh tubuhnya.
Sedari dulu kalau ada orang yang sakit respon pria itu biasa saja. Tetapi tidak dengan Kei, Jeremy ingin bertindak lebih untuk wanita itu. Tangannya hendak terulur untuk membantu. Tetapi mengingat Kei dan Jeremy bukan siapa-siapa yang juga tidak memiliki hak khusus untuk bersentuhan membuat Jeremy mengulurkan niatnya.
"Apa aku perlu membantumu?" tanya pria itu meminta izin. Tidak ada hak khusus, namun meminta izin dan kemungkinan diterima mungkin saja bisa.
"Tid–awh," runtih Kei merasa sakit diseluruh penjuru tubuhnya.
Jeremy benar-benar khawatir. Dia tidak peduli norma, yang penting menolong. Toh dahulu melanggar peraturan dan merugikan orang adalah makanan dan minumannya. Sekarang membantu, tampkanya tidak akan bermasalah.
__ADS_1
"Apa rasanya masih sangat sakit? Dokter…" Jeremy menoleh ke samping dan mempersiapkan suaranya untuk berteriak. "Dokter!!!"
Dokter datang dan menanyakan, "Ada apa?"
"Apa tubuh Kei tidak diberi suntik pereda sakit semasa pemulihan!?"
Dokter terdiam. Tampaknya lelaki tua itu mencoba mengingatnya. "Maafkan kesalahan rumah sakit kami. Sepertinya tidak. Melihat kondisi pasien, tampaknya suster tidak memberikan suntik pereda sakit."
Jeremy menatap seolah akan membunuh sang dokter. Dokter tampak ketakutan, Jeremy dua hari ini begitu lelah dan setiap kali bertemu dengan dokter tersebut dan menemukan kesalahan dalam pelayanannya akan terus menatapnya sangat buas.
Dokter tentu saja merasa ketakutan, "B-baik, saya akan melakukannya segera." bahkan suaranya bergetar hebat di dalam sana.
Di saat Dokter melakukan suntik pada tubuh Kei, Jeremy mendapat panggilan dari dalam ponselnya. Segera Jeremy menjauh dan mulai mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo."
"Tuan! Saya sudah menemukan orangnya!"
Bersambung…
__ADS_1