Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
S2 Bab 22: Pria Penolong


__ADS_3

Jeremy pikir ia tidak bisa berlama-lama di kota, istrinya mungkin akan semakin gencar memikirkan hal buruk tentang dirinya yang ada di kota, pasti memiliki simpanan, serta wanita-wanita cantik yang mengelilinginya.


Dengan menyerahkan tugas sementara pada sekretarisnya, pria itu menjalankan mobil menuju desa, sendirian tanpa seorangpun yang menemani.


Sehari semalam, jalanan macet, membuat dia suntuk dalam mobil.


Hoaaaamm.


Lain lagi dengan rasa kantuk yang semakin menjadi-jadi, Jeremy menyesal karena tidak mengambil seseorang untuk menemaninya.


Disela perjalanan, seorang wanita berpakaian mini tengah diganggu dua orang pria, Jeremy memang ada di mobil, dan keadaan sangat macet, Jeremy pikir ia bisa membantu wanita itu meski sebentar.


Jeremy kemudian keluar dari mobilnya, "Hey! Bisa tidak jangan suka mengganggu wanita!" cegah Jeremy membuat dua orang bertubuh besar itu terdiam menatapnya.


"Mau apa datang tiba-tiba mengganggu kami?!" tanya salah satu pria sedikit mendekat, jaraknya dengan Jeremy hanya setengah meter dan tinggi Jeremy bahkan masih lebih tinggi daripada pria yang terlihat bertubuh besar itu.

__ADS_1


"Kenapa kalian berusaha menyakitinya!?" tanya Jeremy, pria bertubuh besar itu tersenyum meledek. "Kami rentenir dan dia punya hutang dua puluh juta pada kami! Dia menolak mengembalikan uang bos kami, ya wajar lah kami menyiksanya!"


Jeremy terdiam, dia sungguh bingung mau kata apa, dia melihat wanita itu sudah terduduk dengan wajah menunduk, suara isak tangis terdengar pilu, sepertinya perempuan ini benar-benar perlu bantuannya.


"Aku akan memberi kalian uang tiga puluh juta, asalkan kalian jangan menganggunya!" ucap Jeremy membuat dua orang bertubuh besar itu tersenyum senang. Jeremy mengeluarkan kartu cek dan menuliskan tiga puluh juta dan segera diterima salah satu dari orang bertubuh besar itu.


"Sudah! Masalah selesai! Jangan ganggu dia lagi ya!" peringat Jeremy.


"Beres!"


"Siap bos!"


Jeremy melihat wanita yang masih saja menangis, dia menghampiri wanita itu, membelai rambutnya serta berkata. "Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Jeremy lembut. Wanita itu hanya mengangguk membalas pertanyaan Jeremy.


"Ayo kuantar ke rumahmu, kasihnya wanita sepertimu tidak tentu arah jalannya," ucap Jeremy.

__ADS_1


Namun jawaban dari wanita itu membuat Jeremy terdiam. Sang wanita menggeleng. "Aku tidak punya rumah, rumahku diambil alihkan bank karena sudah nunggak dua bulan ini, ibuku sakit dan membutuhkan banyak uang agar sembuh, akhirnya aku meminjam ke rentenir namun dua hari yang lalu dia meninggal dan mereka terus memaksaku melunasinya," jelas wanita itu sedih.


Jeremy memang iba, tapi dia masih ingat siapa istrinya dan siapa wanita ini. Tidak mungkin dia perhatian sekali pada wanita ini sedang istrinya sendiri seolah tidak pernah diperhatikan.


"Aku bisa antar kamu ke hotel yang ada di dekat sini, kasih perempuan sepertimu di luar sendirian," ucap Jeremy baik hati.


"Tapi aku takut…" lirih wanita itu, membuat Jeremy mengelus rambutnya. "Kenapa takut?" tanya Jeremy lagi.


"Aku tidak ingin bertemu para rentenir jahat itu, mereka bisa saja membunuhku."


"Tenang-tenang," ucap Jeremy. "Kamu aman, aku sudah membayarkan biaya pembebasanmu sebanyak sepuluh juta, mereka bisa bagi dua komisinya."


"Tapi…" suara wanita itu bergetar. Dia menangis, Jeremy sangat malu menjadi bahan tatapan orang-orang, bisa-bisa dia dikira sedang berbuat kejahatan pada wanita, hal itu membuat Jeremy segera membawa wanita itu ke mobilnya. "Ayo ke mobilku," ajak Jeremy.


Seorang dari kejauhan dengan layar ponselnya dia merekam sesuatu dan menuliskan kata-kata menyimpang yang tidak senyatanya terjadi.

__ADS_1


Bersambung…


Like, dan komen ya kakak-kakak.


__ADS_2