
Setelah semua perlengkapannya dan anak-anaknya dirasa siap, Kei di dalam
kamar mendadani dirinya sejelek mungkin seperti gambaran dari email berisi gambaran wajahnya yang
sudah didesain oleh pembuat identitas baru itu.
Setelah cukup membuat dirinya yang sangat cantik menjadi jelek, dengan tompel besar di bagian pipinya dan riasan wajah kumel, rasanya cukup menyamarkan dirinya serta identitas dirinya supaya Jeremy tidak mengetahui keberadaanya ntah dimana.
Kei keluar dari dalam kamar dan melihat riasan anak-anaknya juga sama. Anna, selain pandai melukis, ternyata dia pandai mendadani orang lain.
Kei tersenyum lebar saat melihat di masa yang terbilang berat seperti ini anak-anaknya sama sekali tidak mengganggu kehidupan serta pemikiran pribadi Kei yang sudah terbiasa menghadapi atmosfer panas.
Kei mendekati anak-anaknya. "Nanti nak, bunda mau
kita sembunyi-sembunyi. Kan kalau malam-malam,
orang sama sekali tidak ada yang keluar. Itupun
hanya bapak-bapak yang ngeronda dan security. Kita
__ADS_1
akan keluar dari perumahan ini, nanti ada taxi yang menjemput kita. Kita akan langsung pergi ke bandara
dan menghilang saja dari tempat ini selamanya. Oke
anak putri Bunda?"
"Iya bunda."
Segalanya terjadi seperti rencana. Tepat pukul dua subuh, mereka keluar dan menjalankan rencana yang dibuat Kei dengan begitu baik. Tiada seorangpun yang tahu. Lagi pula penampilan dan sikap mereka yang pandai berakting itu benar-benar mengelabui semua orang sampai tiada orang yang berani curiga.
Kei dan ketiga anak-anaknya sekarang sudah sampai di bandara, setengah jam lagi Kei dan ketiga anak-anaknya sudah sampai ke negara orang. Kota yang menjadi kelahirannya tampaknya tidak cocok dengannya. Benar-benar dipenuhi masalah dan ketidakpastian. Hingga Kei sangat lelah untuk menjalani semuanya.
Lagi pula alasan Kei untuk tidak pergi dari sana dengan diketahui semua orang karena tahu nantinya mulut ember mereka mengisi semua gosip dan akhirnya menyebar ke media sosial.
Sudah cukup keadaan Kei yang selalu berusaha semaksimal mungkin untuk kehidupannya sendiri selalu diajak bertengkar oleh orang-orang.
Tap!
Satu langkah kaki awal.
__ADS_1
Aku harap semuanya akan baik-baik saja di sini.
Dengan menggandeng anak-anaknya, ia berharap begitu.
Semuanya, akan kumulai kembali di sini. Jangan kecewakan aku tanah jangan kecewakan aku manusia. Karena kini aku sudah sampai di tempat kalian. Tolong, hargai aku seperti orang lain kalian hargai.
Aku wanita kotor yang tidak pernah menikah namun sudah memiliki anak. Semoga… Semua berjalan sesuai harapanku di sini. Aku hanya butuh ketenangan hati. Hanya itu. Aku sudah lelah, menjadi orang jahat di kota kelahiranku. Padahal aku selalu berbuat baik pada mereka.
Kini namaku bukan Keina Natalia lagi. Tapi Vivian Shefatonia. Aku harap namaku membawa hoki untukku dan ketiga anak-anakku. Niara Shefatonia, Naara Shefatonia, dan Netakara Shefatonia.
Kei melangkah mantap diikuti ketiga anaknya yang sedaritadi mempertahankan kelakuan Bundanya yang terkadang menunjuk raut wajah sedih kemudian tersenyum, dan begitu berulang-ulang sampai mereka pada bingung sendiri.
***
"A!"
Jeremy di dalam kamar, masih di dalam rumah Mamanya merasakan perasaan yang seolah menusuk hatinya dalam-dalam. Ia tidak mengerti apapun hingga kembali bertanya sesuatu tidak masuk akal. "Seolah ada bagian diri yang hilang…" Jeremy merasakan tubuhnya seolah lemas tak berdaya.
Tiba-tiba ingatannya tertuju pada Kei, akhirnya ia ingat setelah beberapa jam yang lalu terus memikirkan alasan mengapa dirinya terus kepikiran.
__ADS_1
"Tapi apakah mereka tega pergi meninggalkanku?" tanya pria itu kembali berpikir keras. "Aku belum mengatakan semuanya dengan jelas," ucap menyesalnya.
Bersambung…