
.Pagi hari.
Segalanya seolah hilang dan lenyap.
Tidak ada suara orang yang berteriak meminta dengan keras, "Wanita penggoda… Keluar dari rumahmu!"
Walau bagaimana pun Kei berusaha tidur dan ketiga anak-anaknya, tetap mereka masih bertahan di sana. Ntah kapan waktunya Kei berhasil tidur pulas dengan anak-anaknya di dalam kamar Kei yang kebetulan tempatnya sedikit menjauh dari pintu dan lebih mendekat ke dapur. Suara teriakan itupun menghilang dan situasi aman dan damai. Warga, memang tidak membawa paksa Kei dan ketiga anak-anaknya hanya berteriak dan dalam waktu yang cukup lama sungguh menggangu.
Seolah mereka paling benar.
Dan paling suci di dunia ini.
Wanita baik seperti Kei tidak menggangu mereka. Tetapi mereka marah tanpa sebab.
Sudah hampir setengah tahun tinggal dan Kei sama sekali tidak pernah menggangu kehidupan mereka. Satu orangpun!
__ADS_1
Membully, berlaku seperti wanita penggoda bahkan seperti dugaan mereka kalau suami mereka sudah diajak ke area terlarang Kei, sama sekali tidak! Mereka yang terlalu takut. Padahal tidak semua wanita seperti itu. Kei memang sudah dasarnya baik. Tapi orang sekitar yang menutup mata rapat-rapat akan kebaikan yang telah Kei lakukan.
Banyakpun uang Kei, dari hasil kerja kerasnya menulis. Bukan minta dari om-om berdompet tebal. Atau bapak-bapak kepala plontos yang memiliki n*fsu besar akan kebohayan tubuh wanita kulit halus, putih dan bersih wanita seperti Kei.
Kalau pun bisa melakukannya, Kei tidak akan sudi untuk tinggal di tempat sederhana seperti perumahan tanpa satupun rumah orang yang bertingkat dan punya mobil seperti mobil jemputan Kei tiap hari.
Justru Kei akan tinggal dilingkungan mewah kawasan orang elite dan berduit. Menyekolahkan anaknya dengan tanda nama salah satu dari om-om yang mencintainya bahkan rela memberikan tanda nama supaya Kei mau menjadi wanitanya.
Tapi, apa daya.
Ia bukan takut dengan puluhan atau mungkin ratusan orang di hadapannya.
Hanya saja ketiga anak-anaknya masih memiliki luka di tubuhnya atas kelakuan orang di taman.
Kalau Kei, Kei sudah pasrah.
__ADS_1
Mungkin garis kehidupan memang mencatatnya untuk menghadapi semua keburukan orang-orang yang melakukan sesuatu sesukanya.
"Bagiamana Kei, kamu mau kan?" tanya Celica teman Kei itu dengan berharap kalau Kei akan pergi dengannya.
"Hm, gimana ya Cel. Aku…" tampak, Kei benar-benar keberatan dengan tawaran Celica yang kembali menghubungi dengan meneleponnya.
"Orang lain sudah seperti zombie di luar rumahmu. Mereka ingin membunuhmu.. Ayolah Kei. Jangan tunggu waktu lagi. Ingat anak-anakmu Kei. Triple… Mereka perlu ketenangan. Jangan sampai kondisi psikis mereka memburuk. Apa kamu mau anak-anakmu jadi orang yang punya mental kurang bagus?" Celica terus membujuknya.
"Tapi gimana dengan Bibi? Dia masih di rumah sakit."
"Masalah Bibi, aku sudah ambil dia semalam."
"Darimana kamu dapat dan tau?"
"E…" Celica kehilangan akal untuk bicara. "Haisssh, sudahlah Kei! Nanti aku katkaan. Sekarang kamu hanya perlu bangun! Jangan jadi orang bodoh! Aku tau kamu yang beli rumah itu dan aku tau kamu menggunakan separuh waktumu tiap hari untuk mendapatkan satu rumah itu! Tapi tidak ada salahnya meninggalkan rumah untuk kebaikan. Kamu tidak akan dianggap pengecut! Karena siapa yang meninggalkan tempatnya yang sudah hancur akan mendapatkan kebahagiaan di luar! Jangan mau tinggal di tempat yang membuatmu tidak nyaman! Di luar negri tidak memikirkan orang punya anak tapi suami ntha di mana! Orang di sini nyaman Kei! Nyaman!"
__ADS_1