
"Ibu ayah?" aku berkata dengan nada tidak percaya.
Melda, menyentuh punggung tanganku, "Iya, sayang. Kau… Kau putri kami," dia bahkan masih mampu mempertahankan senyumannya itu.
Namun ntah mengapa aku merasa risih dengan semua ini. Kulepaskan tanganku yang disentuh oleh tangan kurus, keriputnya itu segera.
"T-tidak. K-kalian bukan ayah dan ibuku," aku mendadak linglung sendiri.
Kening wanita itu sempat kulihat berkerut. Namun ia tetap diam dengan memancarkan aura sedih yang cukup mendalam.
"Kami tahu kami salah…" ucapnya. "Kemarahan menghanguskan semua kebaikanmu menjadi segenggam abu, tidak berguna sedikit pun di mata kami. Namun, setelah kau benar-benar pergi dari rumah, kami sadar. … Bahwa kami telah kehilangan satu orang yang paling berharga dalam rumah dan kehidupan kami. Sekarang, semuanya telah hancur. Ibu; ah, saya tidak tahu harus memanggil diri ini sebagai apa. Saya perempuan yang jahat untukmu. Maafkan. Setidaknya itu yang bisa saya katakan dengan hati terdalam."
Ia pergi menjauh.
Keadaan hening.
__ADS_1
Pesta, ya… Semua yang terjadi tampaknya sama sekali tidak bisa disebut lagi sebagai sebuah pesta. Drama lebih tepatnya. Para tamu seolah tengah menonton drama, bukan pesta ulang tahun. Aku mengetahuinya setelah sengaja hati mengitari sekitar dimana banyak mata hanya terfokus pada kami, tanpa berkata sedikitpun.
"Mommy… Yo're my mom!"
Pandanganku teralihkan pada anak lelaki yang kembali berkata kalau aku adalah Bundanya. Ha? Bunda. Aku sempat tidak percaya dia berkata begitu padaku. Aku memang seorang ibu. Tapi untuk ketiga anak-anakku saja. Aneh pastinya kalau aku menambah satu anak lagi.
"Daddy, I want mom to accompany me to blow out the candles," [Ayah, aku ingin ibu menemaniku meniup lilin] ia bahkan berkata lirih. Ah, lama kelamaan aku malah merasa iba dengannya.
Pria itu menatapku sedikit rasa bersalah. "Y-you… Kei. I apologize. I'll explain everything soon. But accompanying my son to blow out the candles, it feels like an honor for me"K-kau… Kei. Aku minta maaf. Semuanya akan kujelaskan segera. Tapi menemani putraku meniup lilin, rasanya merupakan sebuah kehormatan untukku]
Ya, itulah yang kulakukan sekarang.
Aku mandangi ketiga anak-anakku. Bertanya lewat tatapan mata, apakah mereka mengizinkan. Tetapi mereka sepertinya belum memutuskan.
Anak itu, tampaknya benar seperti dugaan itu adalah anak adik tiriku. Rupanya mirip sekali seperti adikku yang sangat manja itu padaku.
__ADS_1
Akhirnya aku memutuskan, aku akan ikut seperti permintaan anak itu. Toh anak-anakku juga tidak melarang setidaknya dengan menahan tanganku supaya tidak beranjak jauh dari posisiku kini.
"Mom carry me," pintanya lagi ketika aku berpapasan dengan sang anak dan ayahnya tersebut.
Sangat canggung, aku akhirnya menggendong tubuhnya yang kecil itu.
Acara ulang tahun berjalan lancar dengan bantuanku.
Satu setengah jam tak terasa. Semua tamu sudah pergi, tinggal keluarga yang ada. Aku, anak-anakku Celica serta anak-anaknya.
Sejujurnya aku sama sekali tidak menginginkannya. Tapi mereka yang melarang. "There's something we want to talk to you about." [Ada yang ingin kami bicarakan denganmu]
Kami duduk bersama di ruangan yang sama. Aku bersama anak-anakku di sofa panjang, juga begitu dengan Celica serta yang lainnya hanya saja dengan sofa yang berbeda. Suasana sangat canggung. Seolah angin mampu terdengar sangat baik di sini.
Catatan Author
__ADS_1
Hi… Author udah pindah, dan ga bakal nulis di platform ini. Author nulis di Dream3 atau Innov3l. Judulnya anakku tetap milikku, up setiap hari dan gratis sampai tamat. Silahkan mampir ya. Ga perlu uang karena masih menerapkan sistem gratis. Boleh ya.