
"Jadi kamu mau aku bertemu dengan Tian, temanmu itu?"
Celica mengangguk. "Iya." Akhirnya dia mengerti juga.
"B-baiklah. Tapi aku tidak mengharapkan lebih dari sekedar bertemu."
Celica semakin menunjukkan senyum lebarnya. "Nah, begitu baru baik," ucapnya puas. Celica bangkit dari duduknya dan menarik tangan Vivi. "Ayo."
Vivi menatap Celica. "Mau kemana?"
"Berdandan."
Vivi mengerutkan kening. "Untuk apa? Kan bukan dinner. Lagi pula hanya menemani anak-anakku ke sana. Mereka ikut kan?"
"Hm, iya sih. Hanya saja, biar kamu terlihat sangat cantik!"
"Untuk apa cantik?"
"Supaya kamu dilirik. –Jangan tanya lagi, atau kamu akan kubuat jelek nanti!" ancam Celica rada candaan. Memang benar seperti perkiraan Celica, Vivi akan bertanya. "Untuk apa dilirik."
Celica langsung memeluk leher Vivi sankin geramnya. "Uuuhhh, Viviii."
"Ah, iya-iya. Aku tidak akan lakukan lagi," ucap janji Vivi tertawa.
Pelukan dilepaskan. Vivi menoleh ke arah anak-anaknya yang tetap sibuk dengan semua pekerjaan yang menjadi kegiatan sehari-harinya itu.
"Mother went with Aunt Celica, Mother's children.Don't come, mother just wants to talk privately with aunty." [Bunda pergi dengan Bibi Celica ya, anak-anak bunda. Jangan ikut, bunda hanya ingin berbicara empat mata dengan bibi] ucap Vivi memberitahu.
"Yes mother." [Ya, bunda.]
__ADS_1
Setelahnya Vivi pergi ke kamarnya dengan Celica, dimana Celica sudah menyiapkan peralatan make up miliknya untuk merias Vivi.
Celica langsung mendudukkan Vivi di atas kursi di depan cermin.
"Jangan banyak tanya. Atau kamu akan kupeluk lagi!" ancam Celica nada canda untuk kedua kalinya.
Vivi tertawa kecil tetap mengangguk, "Baiklah, temanku yang baiiikkk."
Semua berjalan sangat mulus. Vivi dihias wajahnya sangat cantik bahkan Vivi sampai tidak percaya dengan penampilannya.
"Benarkah ini aku?" tanyanya kagum.
"Yah, kalau tidak, bukan kamu yang berdiri di sini, sekarang," jawab Celica sedikit kesal.
Vivi bangkit dari duduk dan memeluk tubuh Celica. "Terima kasih," ucapnya.
Vivi tertawa kecekikan. "Yah, biarkan. Lagi pula aku hanya berterima kasih saja karena kamu baik sama aku. Masalah make up-nya, rusak atau tidaknya aku tidak peduli. Lagi pula kalau pria yang baik itu adalah pria yang menerima kekurangan perempuannya. Mau jelek atau bahkan mempunyai keburukan lain."
"Tian tidak begitu," cegah Celica segera.
"Lalu untuk apa mendadaniku kalau tau Tian yang kamu kata itu baik?" Vivi ingin menjebak Celica dengan ucapannya.
"Yah, supaya kamu terkesan aja di depan semua orang."
"Seperti sorotan mata semua orang, begitu?"
Celica mengangguk.
"Ah, tidak lah. Aku hanya menjadi tamu di sana. Bukan bintang tamu," Vivi bergidik ngeri membayangkannya.
__ADS_1
"Awalnya memang menjadi tamu. Esok mungkin jadi tuan rumah," doa Celica.
Segera dibantah Vivi, "Kamu ada-ada aja Cel!"
"Kalau jadi, amin ya, syukur! Temanku yang jadi wanita single ber'anak tiga ini punya suami!"
"Menurutku sama sekali tidak amin!" ntah mengapa hati Vivi sedikit tidak menerima hal itu. Pikirannya terpusat pada Jeremy, ntah mengapa alasannya, dia tidak tahu.
"Yah sudah lah. Lagi pula cantik sedikit kenapa sih, Vi?" Celica cemberut.
"Cantik lebih baik kalau dari hati. Oh ya, acaranya dimulai jam berapa?"
"Sore ini sih. Jam 4."
"Yah, berarti masih lama?"
"Iya."
"Lah, aku kira sebentar lagi," ucap kecewa Vivi.
"Maaf. Aku hanya terlalu semangat," Celica tersenyum lebar ala malu-malunya.
Vivi menghela napas. "Sudahlah. Hm, hadiahnya… Kita seharuanya pilihkan hadiahnya apa?"
Celica tampak berpikir sejenak. Namun kemudian ia malah tersenyum jahil. "Hadiahnya hatimu…" kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak sedang mencari candaan, Cel," ucap kesal Vivi mendengus sebal.
"Iya, iya, iya. Aku tau," Celica lagi-lagi ingin minta maaf dengan kelakuannya itu.
__ADS_1