
"Tuan Jeremy! Ada sesuatu terjadi pada nyonya Kei, Gina dan ketiga anak tuan!"
Jeremy sontak berdiri dari tempat duduknya. Perasaannya campur aduk, antara penasaran dan khawatir bersatu di dalam hatinya. Sementara belum dikatakan, ia sudah cemas berlebihan.
Sam dari dapur, kegiatan pria itu senang sekali memasak dikala berada di rumah.
Sekarang pagi hari menjelang siang, Sam memutuskan untuk membuat minuman dingin disituasi terasa gerah tampa AC di siang hari.
Dia membawa nampan beserta dua gelas minuman dingin itu.
Langkahnya terhenti dikala melihat kecemasan dalam diri kakaknya tersebut.
Ia penasaran, mengapa begitu.
Sam mendekati kakaknya setelah meletakkan mempan di atas meja.
"Ada apa Kak?"
Jeremy belum menjawab apapun. Tetapi Jeremy membuat suara telepon menjadi terdengar seperti suara manusia yang berbicara tatap muka.
"Orang di taman mengamuk, tuan. Nyonya Kei dan satu keluarganya habis dihajar hingga sekarang babak belur!"
Hati Jeremy terasa seperti dicabik-cabik saat ini.
__ADS_1
"Pegang! Aku akan pergi! Beritahu apa yang dijelaskannya selanjutnya!"
Jeremy memberi ponsel miliknya kepada Sam. Sam masih tidak mengerti dan terus mencoba menerjemahkan maksud Jeremy dan orang di dalam ponsel yang tidak ia ketahui siapa dia.
"K-kak! Kakak! Kakak mau kemana!?"
Sam menyusul sang kakak. Berlari mengikuti langkah Jeremy yang begitu cemas akan Kei yang ntah sudah bagaimana keadaannya. Jeremy mengerti amukan warga seperti apa. Tidak akan lepas dari kata ngeri karena lawannya banyak sekali.
Jeremy sudah sampai ke basement tempat kumpulan mobil miliknya dan sang adik berada.
Jeremy mengambil salah satu mobil dengan salah satu kunci yang dimiliknya.
"Kak, aku ikut!" ucap Sam dijawab angguk oleh Jeremy.
Selama diperjalanan Sam masih tidak mengerti walau sedari tadi mendengarkan ocehan dari mata-mata Jeremy yang berbicara. Mata-mata Jeremy tersebut berbicara soal letak tempat Kei dan keluarganya berada. Ia pu tidak berani bertanya karena pikiran kakaknya sekarang pasti sedang kacau.
Jeremy melihat Kei, Anna, Alice, Andre dan Bibi Gin terbaring seperti mayat.
Sangat kacau banyak luka bahkan berdarah.
Hati Jeremu terasa terkoyak di dalam sana.
Jeremy ingin sekali menangis meratapi nasip Kei yang mendapat amukan dari warga tak berotak tersebut.
__ADS_1
"Mata-mata K!" teriak Jeremy pada ponsel yang masih tersambung dengan mata-mata Jeremy tersebut.
"Iya, ada apa tuan!?"
"Kemari!" ucap Jeremy.
Tak lama kemudian datanglah mata-mata K, mata-mata Jeremy yang berpenampilan seperti orang biasa, pastinya tidak akan membuat orang curiga…
"Kamu angkat Wanita tua di sebelah sana dan bawa ke mobilku!" Jeremy memberi tugas.
"Baik!" Mata-mata K mulai mengangkat Wanita tua tersebut.
"Kamu Sam, angkat ketiga anak-anakku," Jeremy berkata dengan nada bergetar. Air matanya hampir tumpah, tertahan kata kuat yang dilafalkannya dalam hatinya.
"Baik kak!" Sam tampaknya mulai mengerti tentang hal yang terjadi.
Tetapi satu hal yang benar-benar diistimewakan dalam pertanyaannya hanya satu, kakak Jeremy udah mengakui? Namun lagi-lagi tidak bertanya karena pasti ada waktu bertanya pada kakaknya tersebut.
Sam mengangkat satu persatu anak-anak Kei. Sedang Jeremy mengangkat Kei setelah habis termenung dalam hati menyayangkan kondisi bunda dari anak-anaknya itu.
Air matanya tumpah dalam keheningan tanpa bicara oleh mulutnya.
Ingin sekali ia marah sekarang. Tetapi tertahan karena tidak ada gunanya marah terutama ketika melihat semua orang seolah menjadi pengecut tidak ada yang berani memperlihatkan diri ketika kedatangannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kei. Maafkan aku."
Bersambung…