Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Semua Karma


__ADS_3

"Maaf dengan semua hal yang pernah terjadi padamu," suara Leo berbicara. Mengalun rendah, tampak merasa bersalah sekali.


"Kami… Kami tidak tahu mau melakukan apa lagi untuk menebus kesalahan kami," Leo masih berbicara berbahasa Indonesia.


"Semua terjadi, karena kami dahulu merasa tidak menyukaimu," kini Medya dengan suara khas nenek-neneknya berbicara.


"Tapi apa kau tau, Kei… Seperti yang sudah Ibu… S-saya bicarakan, semua sudah hancur," Medya tertunduk. "Setelah dua hari kepergianmu, Ayahmu–Brian mengalami kecelakan yang menghancurkan kakinya."


Dan yah, aku melihatnya secara jelas dari sini.


"Kemudian perusahaan hancur setelah sebulan kepergianmu karena ada oknum yang tidak bertanggung jawab mencampurkan racun ke dalam produk makanan yang kau tau sendiri dahulu ayahmu mempunyai perusahaan bidang makanan seperti apa."


Aku mengangguk. Lagi-lagi tanpa berbicara.


"Banyak orang yang keracunan dan perusahaan harus mengganti kerugian yang… Sangat besar," lanjut Medya lagi.


"Tiga bulan berselang kepergianmu, Kara, dia diculik orang dan hilang ntah kemana. Dengan segala upaya, kami lakukan. Namun naas, empat tahun yang lalu dia ditemukan tengah hamil dan menjadi orang gila berjalan-jalan di pinggir jalan. Kadang menangis, juga tertawa ntah karena apa. Tidak disangka dia diperkosa tiap malam dan menjadi wanita malam kemungkinan oleh orang yang membenci keluarga kita dulu."

__ADS_1


Miris… Itu yang kurasa dibalik ngeri dan iba juga dengan semua nasip yang diterima mereka.


"David, anak itu," Medya menunjuk anak yang tetap berada di pangkuan Leo. "Dia memang anak Leo, anak yang lahir kedua kali dari dalam rahim Kara yang kami tahu keberadaannya. Yang lain, ntahlah. Waktu bertahun-tahun, pastinya sudah ada banyak sekali dia hamil, mungkin langsung digugurkan. Tapi satu tahun setelah kelahiran David buah cinta dari pernikahan Leo dan Kara, Kara dan anak pertamanya, meninggal sebab kecelakaan. Tapi…" ucapan terhenti.


Medya turun dari sofa dan menghampiriku serta memegang tanganku. "Tapi Kara tidak akan senang kalau kau belum memaafkannya!" Medya terisak membuatku iba.


"Maaf," itu kata yang bisa kuucapkan. Semua mata segera menatap ke arahku. "Aku tidak bisa."


"Kenapa?" Medya tampak tidak percaya. Tapi yah sudahlah. Aku sendiri memiliki alasan lain dibalik ucapanku itu.


"I-itu masalalu."


Segera kulepas pegangan tangan itu. Senyuman miring kuperlihatkan. "Memang masalalu! Tapi karena itu aku juga mengalami hal menyakitkan yang jauuuuhh! Lebih menyakitkan dari yang kalian alami!"


Semua tetap terdiam. Mungkin pada terlarut dalam pikiran masing-masing.


"Apa kamu tahu, nyonya Medya?" aku menatap kepada Medya yang tidak lagi kupanggil sebagai ibu itu. Dia adalah wanita yang paling mengingatkanku semua derita itu. Hingga sekeras apapun aku berusaha menyebutnya sebagai ibu, bibirku seolah kelu, tidak mampu menyebut tiga kata itu dengan suara.

__ADS_1


"Lepas anda mengusir anak angkatmu ini. Dia diperkosa laki-laki, bahkan berjalan jauh dengan keadaan malang sekali…"


"… Beruntung orang lain yang begitu baik menolong. Dia bernama Bibi Gina dan Celica–wanita baik yang menjadi awal penyelamatannya.…"


"…Dia menjalani kehamilan, dan kemudian melahirkan… Lalu setelah bertahun-tahun mulai merasa baikan…"


"… Tapi apa anda tau, dia menjadi bahan gosip semua orang karena keberadaan anak-anak dimana ayahnya tidak tahu ntah dimana…"


"… Cerita ini bukan cerita bohongan. Karena fakta lebih mengerikan selanjutnya dia diterima menjadi seorang aktor atas sebuah novel yang menghidupinya dalam tujuh tahun belakangan…"


"… Namun tanpa waktu yang cukup lama, dia tidak lagi menjadi bahan gosip tetangga. Melainkan satu kota, mungkin setiap orang yang menggunakan media sosial! …"


"… Tuduhan diterimanya mentah-mentah! Sampai ia dilarikan ke rumah sakit karena dia sempat menjadi alasan amukan orang-orang terjadi. Lalu melarikan diri dengan bantuan Celica kemari. Ntahlah, semua sama sekali tidak bisa diterimanya hingga kini…"


"… Bukankah alasan itu cukup untuk memberi alasan untuk tidak memaafkan putri anda yang paling anda sayangi itu!? Saya putri angkat anda. Tapi Anda memperlakukan saya seperti hewan yang tidak memiliki perasaan juga lelah dalam hidup."


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2